Lelaki di Balik Jendela

novie ocktavia
Karya novie ocktavia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
Lelaki di Balik Jendela

Maaf, aku pergi tanpa pesan. Kukira kemarin kamu pasti datang ke terasku, kan? Maafkan, aku memilih untuk keluar dan berjalan-jalan. Kusapa rintik hujan, sesuatu yang sudah lama tak pernah aku lakukan. Dalam perjalananku, kutemukan beberapa anak kecil yang berlari riang dengan jas hujan warna-warni. Hujan memang menyenangkan, bukan?

Aku kemudian melanjutkan perjalanan dan berhenti di sebuah kedai. Kedai itu berada tepat di seberang sebuah rumah tua, setua bangunannya yang sudah mulai terlihat usang. Dari tempatku duduk, aku dapat melihat jendela besar. Kulihat, ada seseorang di balik sana. Lelaki itu? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya, entah kapan.

Dari balik jendela, dia mengarahkan pandangannya ke arahku. Aku pun melambaikan tangan padanya, berharap ia mau keluar sebentar saja untuk menemaniku menyeruput semangkuk ronde. Ternyata ia melakukannya, dalam sekejap ia sudah duduk di hadapanku. Ia tersenyum lebar, meski aku tahu bahwa di balik itu tersimpan kelabu.

Dalam waktu yang singkat, ia percaya untuk bercerita padaku tentang banyak hal, termasuk tentang cinta, tentang betapa ia masih menyimpan luka sisa kebersamaannya dengan seorang wanita. Rupanya, wanita tempat dimana ia menitipkan hati dan mimpi memilih untuk pergi. Dia bilang, rasanya seperti hidup tanpa kedua kaki meski ia tau kemana ia ingin pergi. Padahal, ia menduga bahwa pada diri wanita itulah terletak masa depan.

Cinta memang bisa begitu, menjadikan kita merasa seolah kita adalah pemilik tunggal atas hidup seseorang. Dulu aku pun pernah merasakannya. Kupikir, menjalani kebersamaan dengan saling menitip hati dan menitip masa depan bisa menjadikan aku dan dia mampu bertahan atas segala guncangan. Nyatanya tidak, kami tetap memilih berhenti daripada bertahan tapi saling menyakiti. Setelahnya, masalah baru ternyata hadir. Kontan, melupakan menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Bagaimana bisa aku melupakannya jika setiap saat selalu ada banyak hal yang mengingatkan aku kepadanya? Sebut saja lantunan jazz Boney James atau Bossa Nova, sepanjang jalanan Bahuereksa dan setumpukan mimpi yang pernah kita andaikan bersama. Selanjutnya, membuka hati juga menjadi tak mudah. Aku lantas menyibukkan diri, sampai aku tahu bahwa ternyata itu juga bukan solusi. Lama kelamaan aku tahu, caraku sungguh keliru.

Seperti yang kamu tahu, dunia ini dihuni oleh berjuta-juta manusia. Itu berarti, sebanyak itu pulalah kemungkinan pertemuan terjadi diantara manusia. Dari sekian banyak pertemuan itu, pasti akan ada seseorang yang mampu menghadirkan kesan mendalam bagi hidup kita, meski ia hanya mampir untuk sebentar saja. Hmm, siapa orangnya yang tak ingin menitip hati pada seseorang yang kita duga bahwa pada dirinyalah takdir kita terletak? Tapi, siapa juga orangnya yang mampu memastikan bahwa ia dapat mereka-reka cerita bahagianya sendiri? Adalah Allah, Dzat yang menggenggam segala keputusan terbaik bagi kita. Jika Dia berkata tidak, lalu kita bisa apa?

Entah ini kabar baik atau buruk, tapi kamu perlu paham bahwa waktu diciptakan searah. Karenanya, mustahil jika kita mengulang sesuatu yang sudah lalu. Apa? Kamu ingin kembali ke masa itu untuk menahan segala kemungkinan? terburuk agar seseorang yang sangat berarti bagimu bisa terus mendampingimu? Hmm, kamu sama saja seperti lelaki di balik jendela itu. Itu tak mungkin, sayang! Berhentilah mengkhayalkan kemustahilan macam itu. Tempatmu bukan di masa lalu, maka cara terbaik untuk beranjak dari sana adalah dengan melangkah keluar menjemput hari yang baru.

Lelaki itu bilang, katanya ia sudah memaafkan. Sekuat hati ia mengikhlaskan segala keputusan yang sudah terlanjur diambil oleh wanitanya. Tapi, hatinya tak mengatakan hal yang sama. Bagaimana menurutmu? Bagiku, dalam usaha-usahanya yang sedemikian rupa mungkin ia lupa satu hal. Lupa mengikhlaskan bahwa apa yang menurutnya baik belum tentu baik pula menurut-Nya. Untuk hal ini, aku berhasil meyakinkan diriku bahwa dia yang sejawat denganku belum tentu mampu menjadi sejawat juga untuk urusan hidup dan matiku. Jangankan itu, nyatanya, dia yang menurutku terbaik bahkan juga mencoba menjadi yang terbaik bagi perempuan lain. Allah melindungiku dari segala hal yang tidak aku ketahui.

Pada akhirnya, tak ada perilaku terbaik yang dapat dilakukan selain melakukan usaha-usaha terbaik untuk menjemput masa depan. Jangan sampai kebodohan kita dalam menggenggam luka masa lalu menjadikan kita melewatkan banyak kesempatan baik. Jangan sampai kelak kita hanya memberi ruang dan cinta yang tinggal sisa pada dia yang nyatanya akan memberikan seluruh hidupnya bagi kita. Tentu, kita pun tak ingin berkhianat pada dia yang nanti datang hanya karena ketidakmampuan kita untuk mengikhlaskan dan memaafkan masa lalu, bukan? Padahal, boleh jadi dia yang terbaik telah menunggu di luar sana. Lalu, mengapa kita harus bertahan menutup pintu?

Kau tahu, sore itu aku terkesima pada kisah hidup lelaki di balik jendela itu. Aku terpaku pada kisahnya yang mengingatkan aku pada kisahku, sampai akhirnya kita lupa bertukar nama. Kalau besok aku sempat bertemu kembali dengannya, akan kusampaikan permintaan maafku padanya karena aku telah membagi kisah ini denganmu. Oiya, jangan lupa kemasi barang-barangmu. Kita akan melakukan perjalanan jauh. Sepanjang perjalanan nanti, aku tentu punya banyak cerita untuk dibagi.

  • view 214