Lukamu Berdarah, Maka Maafkanlah!

novie ocktavia
Karya novie ocktavia Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 26 Januari 2016
Analgesic Through A Story (Analgestory)

Analgesic Through A Story (Analgestory)


Kategori Acak

563 Hak Cipta Terlindungi
Lukamu Berdarah, Maka Maafkanlah!

?

Kudengar, suara kokokan ayam di luar sana sudah ribut bersahut-sahutan. Adzan juga mulai diperdengarkan dari sudut-sudut perkampungan. Aku sudah terbangun. Bagaimana denganmu? Tak kelelahan karena mendengar ceritaku semalam, bukan? Atau, apakah derai-derai air itu masih belum bisa berhenti mengalir? Seperti kataku di pertemuan kita yang lalu, hentikanlah jika tangisanmu itu tidak menyembuhkan. Kemarilah, akan aku ceritakan padamu tentang kisahku yang lain.

Aku ingin memulainya dari kisahmu. Aku tahu, seseorang telah melukai hatimu sedemikian dalamnya. Semua orang tahu, tak ada luka yang lebih sakit daripada ditusuk dari belakang. Pengkhianatan memang menyesakkan. Aku juga tahu betapa kamu sekuat tenaga mencoba tetap percaya pada dia yang telah membuat logikamu porak-poranda, meski pada akhirnya kamu harus menyadari bahwa orang yang kamu percaya telah berubah mengecewakan. Kejadian itu menyisakan luka dalam pikir dan hatimu. Luka yang membuatmu sulit untuk memberi kepercayaan lagi kepada orang lain. Kamu takut dikecewakan, hingga sekuat hati kamu mencoba menghindari setiap orang baik yang menawarkan kisah hidup tentang percaya dan mempercayai. Pertanyaanku, apakah sudah ada usaha yang kamu lakukan untuk memaafkan dan mengikhlaskan? Ataukah kamu hanya membiarkan luka itu menganga dan terbuka begitu saja tanpa menyembuhkannya?

Aku pun pernah berada di dalam kondisi seperti itu. Dulu aku mudah percaya, lantas kuceritakan segala hal penting tentang hidupku pada seseorang yang saat itu kupercaya. Semua hal menjadi terasa wajib diceritakan kepadanya, dari hal yang kecil sampai besar, juga dari hal yang penting sampai remeh. Seluruh masalah kuadukan padanya, kupikir segala kecerdasannya mampu menjembatani logika berpikirku, hingga aku selalu menemukan solusi atas permasalahanku sesaat setelah aku bercerita padanya. Sampai akhirnya dia merusak kepercayaan itu, aku mulai tersadar bahwa ternyata memang hanya Allahlah satu-satunya tempat mengadu. Satu lagi, aku juga tersadar bahwa ruang pribadi adalah kebutuhan yang sama pentingnya dengan afiliasi.

Pengkhianatan memang membuat kita sulit untuk kembali percaya. Tapi bertahan untuk tidak memaafkan adalah kesalahan yang hanya akan melelahkan diri kita sendiri, bukan?

Sayang, luka hasil pengkhianatan terkadang memang hanya sembuh dengan memaafkan. Lihatlah, lukamu berdarah, maka maafkanlah! Semoga dengan memaafkan orang lain bisa menjadi jalan agar Allah juga memaafkan kesalahan-kesalahan kita. Sekarang, matahari sudah mulai naik sepenggalah. Kutunggu kedatanganmu senja nanti. Masih banyak sesuatu yang ingin aku bagi.