Karena Tak Selamanya Tangismu Menyembuhkan

novie ocktavia
Karya novie ocktavia Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 26 Januari 2016
Analgesic Through A Story (Analgestory)

Analgesic Through A Story (Analgestory)


Kategori Acak

612 Hak Cipta Terlindungi
Karena Tak Selamanya Tangismu Menyembuhkan

Aku belum ingin dunia mengenalku, aku ingin mengenal diriku sendiri terlebih dahulu. Agar aku tahu dan memiliki jawaban ketika orang-orang kelak bertanya siapa aku. Kupikir sejauh ini aku sudah cukup mengenal diriku, ah ternyata aku salah. Aku masih perlu banyak berkenalan dengan banyak sudut dari ruang-ruang pribadiku. Kalau kamu ingin turut serta berpetualang, boleh saja. Tapi, kuperingatkan sejak awal, aku banyak menyimpan sudut kelam dan mengecewakan, lengkap dengan luka-luka yang ingin aku sembuhkan. Sekali lagi, jika kamu tak siap, kamu boleh pulang. Tapi jika sebaliknya, ayo kita upayakan agar perjalanan ini tak hanya menyenangkan, tapi juga menyembuhkan. Ya, menyembuhkan luka-luka yang sudah terlalu lama menganga karena kita tak pernah tahu bagaimana harus menghadapinya.

Kau tahu, aku ini bukan orang baik. Aku hanya sedang belajar dan berusaha untuk terus menjadi lebih baik. Jika kau mau mendengarkannya, aku bisa saja menceritakan seluruh memori episodik yang aku miliki tentang masa lalu. Tapi nanti dulu, terkadang kita butuh mempersiapkan diri untuk memulai sebuah pembicaraan panjang, bukan? Ikuti saja perjalananku, kelak kau akan tahu. Soal pada akhirnya kamu akan tetap bertahan atau meninggalkan, semua kuserahkan pada Tuhan.

Lihatlah, awan di atas sana sudah mulai gelap. Rupanya senja berlalu begitu cepat. Rumah-rumah sudah mulai menyalakan lampu, menutup gorden dan mengunci pagar. Aku pun ingin melakukan hal yang sama pada hatiku: menyalakan radar, menutup pintu-pintu keburukan dan mengunci diri dari berharap yang tak wajar. Kamu bertanya tentang apa yang sebenarnya sedang aku lakukan? Lihat saja nanti!

Dulu, kupikir malam adalah waktu terbaik untuk mengurai kesedihan. Jika malam tiba, aku banyak bercerita tentang luka. Entah pada siapa. Dulu, aku tak kenal indahnya berdoa, hingga yang aku bisa hanyalah menangis saja. Orang bilang menangis itu menyembuhkan, kupikir itu benar. Tapi tak selamanya benar. Nyatanya, derai-derai air mata banyak yang turun menjadi percuma: melegakan tapi tak menyembuhkan atau menyembuhkan tapi tak sampai ke dasar.

Beruntungnya, aku hidup di tengah-tengah manusia yang tidak pernah menganggap bahwa menangis adalah sebuah kesalahan. Hanya saja, aku ingin mencari cara yang lain. Aku ingin bertumbuh, aku ingin mendewasa. Kupikir masalah tak bisa selesai hanya dengan menangis dan memunculkan luka-luka hingga berdarah dan bernanah. Aku harus menyembuhkannya, bukan?

Kemudian, aku mulai berkenalan dengan Allah. Tepatnya diperkenalkan. Oleh siapa? Oleh orang-orang yang paham bahwa iman adalah kebutuhan, oleh kejadian yang mendewasakan dan juga oleh pemikiran-pemikiran yang kemunculannya pasti sudah menjadi kehendak-Nya. Aku pun mulai melibatkan Dia dalam setiap tangis, doa dan pengharapan. Hingga pada akhirnya aku tahu mengapa derai-derai tangisku yang terdahulu tak pernah berhasil menyembuhkan. Rupanya aku lupa menghadirkan-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya.

Eh, rupanya kamu menangis mendengar ceritaku? Lakukanlah! Menangislah! Tapi kamu harus tahu, bahwa tak selamanya tangisanmu menyembuhkan.

  • view 206