Cita dan Cinta

Noviaurora
Karya Noviaurora  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Mei 2018
Cita dan Cinta

Sebelumnya, sama sekali tak pernah terpikirkan: aku akan memiliki mimpi-mimpi baru seperti saat ini.
Mimpi-mimpi yang tidak pernah aku sangka sama sekali. Karena untuk masa depan, aku hanya terpikirkan harapan orang tua, menjadi seorang PNS atau guru. Namun, sayangnya ketika beranjak dewasa, aku menghindari kedua jenis pekerjaan itu. Entah mengapa. Mungkin karena aku ingin melebihi orang tuaku. Aku ingin menemukan dan menciptakan takdirku. Aku ingin menjadi berbeda. Padahal bagaimana pun usahaku untuk menjadi berbeda, aku tetaplah aku, begitu juga dengan orang tuaku, orang tuaku tetaplah orang tuaku. Tidak ada orang yang sama di dunia ini.  Karena setiap orang unik. 
 
Kondisi inilah yang menjadi langkah awalku untuk  berambisi pada masa depan. Dosen, psikolog anak, peneliti dan penulis. Aku berusaha fokus untuk mencari jalan setapak menuju mimpi-mimpi itu. Namun, tak ku sangka. Jalan-jalan setapak itu begitu terjal, begitu berliku, begitu curam, begitu berbatu dan terkadang aku harus menembus semak-semak ataupun menyingkirkan batang pohon yang patah. Sungguh, tidak ada yang mudah dalam perjalanan ini. Bahkan sesekali mau tak mau, aku harus membuat jalan untuk orang lain sehingga mereka bisa menembus hutan belantara ini lebih dulu dariku. Menyedihkan, memang. Sungguh baru terasa. Terasa sulit bagiku untuk berjalan sendiri. Ya, selama ini aku selalu sendiri. Aku tersadar, kemudian. Aku begitu angkuh. Aku hanya percaya pada diriku sendiri dan keyakinanku, Tuhan. Tanpa mengindahkan pertolongan-Nya melalui orang lain.
 
Lalu, apakah aku membutuhkan seseorang untuk menemaniku? 
Ya, tentu. 
Untuk membuatku tersadar bahwa aku hanyalah manusia. Manusia yang serba terbatas sehingga membutuhkan orang lain dalam kehidupan ini. 
Untuk membuatku berhenti melakukan semuanya sendiri.
Untuk membuatku tersadar bahwa ada satu mimpi yang terlewatkan, menjadi istri dan ibu yang baik. Tidak hanya ingin menjadi ibu yang baik dan kuat seperti ibu saja, tetapi jua menjadi istri yang baik. Karena bagaimana bisa tiba-tiba aku menjadi ibu yang memiliki anak kandung tanpa menikah, kecuali Siti Mariam. 
 
Ya. Aku tersadar. Banyak orang yang sudah mengingatkan.
"Nikahnya jangan pas udah berumur"
"Boleh orientasi karir, tapi jangan lupa cari"
"Gausah sekolah tinggi-tinggi, cari jodohnya susah. Kalau kamu S3 terus kamu mau cari yang S4 gitu?"
"Kamu cewek, jangan terlalu fokus sama karir. Jangan sampe deh jadi perawan tua"
Dua pernyataan terakhir sungguh menyakitkan. Akan tetapi, aku sangat bersyukur Tuhan menciptakan dunia ini dengan seimbang. Ada yang menyakitkan, kemudian ada yang menenangkan. 
"Kamu boleh fokus beraktualisasi karena perempuan juga seorang manusia. Tetapi, tidak ada salahnya kamu mencoba untuk menjalin suatu hubungan. Meskipun, kamu pernah terluka hingga menyebabkanmu takut untuk memulai. Coba buka hati secara perlahan. Bukankah seorang calon psikolog hebat bisa menyelesaikan "unfinished bussiness" nya?"
 
Ya, memang benar. Bukankah suatu hal yang wajar jika seorang psikolog dianggap sebagai seseorang yang sempurna tanpa luka? Padahal, setiap orang pasti memiliki primal wound (luka dasar) di masa kecilnya. But, I'll try to do the best. But, I'll try to be the best version of my self. So, lets finish the unfinished bussiness.
 
Lalu, aku mencoba membuka hati. Tuhan Maha Baik. Ia memberikanku kesempatan untuk belajar mencintai dan membutuhkan seseorang. Akan tetapi, mungkin, di sisi lain aku sedang benar-benar tersesat. Entah aku masih menerka-nerka penyebabnya. Yang aku tahu saat itu, aku menjadi bukan aku. Si supergo* pun terus berkicau, seolah-olah sedang berusaha menasehatiku. Sedangkan, id* ku terus bergejolak merajai diriku. Sampai akhirnya, ego-ku* memutuskan untuk mengakhirinya dalam waktu yang singkat lagi. Dan bahkan belum sempat aku miliki lagi. Payah!
 
Aku terluka lagi dan lagi. Jadi, aku berusaha menikmati perasaan ini. Untuk mempertanggungjawabkan perkataanku pada orang lain: "Nikmati saja perasaan negatifmu, karena kapan lagi kamu bisa mengalami dan merasakan kejadian ini. Tah waktu tidak bisa diputar kembali. Ingat, dunia ini seimbang. Percayalah, silih waktu berganti, perasaan positif  akan menghampiri jika kamu berusaha"
 
Rasanya ingin aku tutup pintu hati. Akan tetapi bukankah pencarian belahan jiwa memang tidak bisa secepat kilat? Menikmati waktumu sambil terus berusaha menjadi versi terbaik dari dirimu baik untuk dunia dan kehidupan selanjutnya. Sadari, terima, berdamailah kemudian lepaskanlah jika dia memang bukan milikmu.
 
*istilah psikologi. Menurut Freud, manusia memiliki 3 struktur jiwa yaitu: 
1. Supergo bekerja pada asas norma agama dan sosial.
2. Id bekerja pada asas keinginan dan dorongan.
3. Ego bekerja pada asas realita atau kenyataan sehingga bertugas untuk memediasi antara id dan superego.

  • view 44