Langit Bertabur Bintang

Noviaurora
Karya Noviaurora  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Mei 2017
Langit Bertabur Bintang

Sejak aku duduk di bangku sekolah dasar aku menyukai bintang di langit malam. Setiap tengah malam, aku selalu dibangunkan oleh kakak keduaku.
Untuk apa? Melihat bintang.
Kami selalu takjub dengan langit malam yang bertabur bintang.

Sampai suatu malam, kakakku berkata bahwa dirinya ingin menjadi seorang astronot.
Sontak adik-adiknya tertawa karena berpikir hal itu tidaklah mungkin. Saat itu aku pikir, mimpinya hanyalah angan-angan. Namun, tak disangka, ia perlahan-lahan menuju mimpinya. Ia juga menemukan seseorang yang menemaninya untuk mencapai mimpinya. Senangnyaaa. Ia menemukan seseorang yang memiliki mimpi yang sama. Ia bebas untuk berdiskusi ataupun berbincang ringan tentang ilmu berbintangan, ya astronomi.

Mimpiku bukanlah menjadi astronot seperti kakakku. Aku yakin mimpi yang sedang aku rajut ini adalah takdir, rencana terbaik dari-Nya. Akan tetapi, bukan berarti aku tidak menyukai langit yang bertabur bintang lagi. Setiap hari, rasa ingin tahuku selalu tumbuh. Setiap hari, aku selalu sempatkan menatap langit malam. Dan masih sama, aku takjub.

Sampai suatu hari, aku bertemu dengan seorang pembelajar. Ya, aku begitu takjub dengan wawasan luasnya. Ia pun juga mau menerima ilmu yang aku bagikan termasuk astronomi. Kami berbincang ringan tentang ilmu berbintangan. Aku pernah berkata padanya, aku ingin sekali ke Bosscha Observatory. Aku ingin melihat masih seindah itukah bila bintang dipandang dari dekat. Dan dia pun jua begitu. Kami berjanji ingin pergi ke Bosscha bersama. Ya ya yaa, aku rasa dia adalah orang yang cocok untuk bersanding denganku! Namun, Tuhan berkehendak lain.

Ya, dia seorang pembelajar dan wawasannya luas tetapi sayangnya dia mudah menerima ilmu apa saja. Apa saja. Ilmu-ilmu itu membuat ia terbelenggu dalam pikirannya. Aku terlalu takjub padanya dan aku mulai terbelenggu dalam pikirannya dan pikiranku. Aku menyadarinya. Dengan berat hati dan penuh pertimbangan aku ingin melepasnya, ya tak peduli seberapa rasa takjubku , tak peduli seberapa cocok perbincangan kami. Aku hanya ingin menuju kembali pada-Nya.

Waktu berlalu dan entah mengapa terasa berat. Namun, aku terbiasa tanpanya.
Suatu hari, aku tahu dia pergi bersama perempuan lain ke Bosscha Observatory. Tempat yang ingin kami kunjungi.
Suatu hari, aku sangat ingin pergi ke pantai di kota tempat ia tinggal. Dan hari itu juga, dia pergi ke pantai bersama perempuan lain.

mungkin, ini adalah ujian bagiku. apakah aku rela dan ikhlas untuk melepaskannya :")

  • view 43