Malang: Allah itu Maha Baik

Noviaurora
Karya Noviaurora  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 April 2017
Malang: Allah itu Maha Baik

Perjalanan mendadak saya kala itu (23-27 Maret 2017) memang membuat saya sedikit kecewa akan hasilnya tetapi saya sangat bahagia karena prosesnya :")

Ada beberapa hal yang membuat saya menunda mengerjakan essay tersebut. Sampai akhirnya saya mengerjakan essay tersebut hanya dalam krg lebih 6 jam dan mengirimnya melebih batas waktu yang ditentukan. Akan tetapi  alhamdullillah masih diterima dan saya juga tidak menyangka lolos masuk ke tahap berikutnya.

Masalah berikutnya adalah semua tiket kereta api menuju ke Malang sudah habis tak tersisa dan hanya meninggalkan kereta eksekutif yang sgt tak bersahabat di kantong mahasiswa :")

Putus asa mencari tiket kemana2, saya berpikir untuk transit di kota Surabaya terlebih dahulu. Dan Alhamdullillah tiket masih tersedia baik pulang maupun berangkat. Dan, saya tinggal mempersiapkan untuk pergi melakukan perjalanan ini.

Seperti perjalanan pengembaraan saya yang lain, sebelum saya pergi saya tidak sempat mempersiapkan kompetisi ini karena ada tugas dan kewajiban mahasiswa yg harus segera diselesaikan. Setelah sampai stasiun, check in, menunggu dan memasuki gerbong kereta api, tidak saya sangka, saya bertemu dan duduk bersebelahan dengan teman kos saya yg juga akan pergi ke Surabaya. Alhamdullillah, sebuah kebetulan yang membuat saya tenang karena punya teman seperjalanan :")

Sore hari, tepat pukul setengah 5 sore saya dengan tenang dan senang karena kedua kalinya menginjakkan kaki di kota kenangan. Sesampainya saya di stasiun Surabaya, ternyata cara utk pergi ke terminal tidak semudah dan sedekat yg saya bayangkan dan ternyata jasa tranportasi andalan saya sedang ada konflik di daerah itu :")

Lalu saya tetap berusaha tenang sambil duduk-duduk di beranda masjid stasiun, padahal waktu sudah akan berganti menjadi malam. Akan tetapi, Allah mempertemukan saya dengan orang baik. Seorang ibu yang sedang menjemput cucunya selesai mengaji. Beliau mengantarkan saya ke halte bis dan menunggui saya sampai mendapat bis ke terminal yang notabene terminal di kota Surabaya. Dan baru saya ketahui jika bis itu adalah bis yang terakhir beroperasi pada hari itu. Alhamdullillah :")

Selama di perjalanan menuju terminal, ehe macet sekali, padahal sudah lewat jalan tol. Daripada saya bete melihat padatnya jalanan, melamun dan mendengar klakson dimana2. Lebih baik saya memikirkan bis apa yg bisa membawa saya ke Malang. Tanpa basa-basi, saya bertanya pada ibu yang duduk di sebelah saya. Sayangnya ibu tersebut tidak tahu dan terburu2 turun dari bis. Baiklah, saya akan bertanya sesampai nanti di terminal saja. Akan tetapi, lagi lagi Allah mempertemukan saya dengan orang baik. Seorang ibu yang duduk di sebelah saya, setelah ibu yang pertama tadi turun. Tanpa basa-basi, saya bertanya pada ibu tersebut. Dan saya mendengar:

"Saya juga mau ke Malang mbak. Nanti bareng sama saya saja".

Alhamdullillah, jawaban yang membuat hati saya kembali tenang :")

Dan sesampainya saya di Malang, kebaikan Allah melimpahi saya kembali. Mulai dari kebaikan panitia, bertemu dan berdiskusi dengan teman-teman finalis esai, bertemu dengan juri yang membuat saya sedikit meledak saat tanya jawab tetapi sangat membangun dan memotivasi saya untuk menjadi penulis dan pembelajar yang lebih baik lagi, serta bertemu dengan pembicara yang sangat menginspirasi saya.

Aku tak tahu mengapa aku rela dan begitu berani menembus kota-kota besar dan merelakan waktu kelas mata kuliah favorit penggantiku.

Aku tak tahu mengapa aku begitu berani dan percaya dapat melakukan semua hal itu.

Yang aku tahu:

Ketika aku yakin, berkhusnudzon, dan tawakal pada Allah dan senantiasa berdoa dan meminta doa orang tua, InsyaAllah Allah senantiasa mengiringi langkahmu.

Allah akan memberjalankan kamu kata Bapak Bandi, ketua Asosiasi Psikologi Islam Indonesia. Beliau juga menjadi pendorong saya untuk tetap melaju ke kota Malang ini.

Dan inilah saya, seorang perempuan yang berani melangkah dari batas zona nyaman :)

Keliling dunia (InsyaAllah) dengan ilmu psikologi islam :)

Aku ingin mengembara dengan tulisanku. Aku ingin berbagi dengan tulisanku. Aku ingin berdakwah dengan tulisanku. Semoga Allah memperjalankanku ke kota-kota lainnya :")

Lalu perjalanan kembali ke Semarang membuat hati saya sedikit berdebar tetapi entah mengapa saya tetap tenang. Setelah bermain off road di trotoar jalan, berhadapan dengan kemacetan dan kebut2an ke terminal Malang, tetap saja saya harus menambah waktu perjalanan yang seharusnya hanya 3 hari 2 malam menjadi 4 hari 3 malam.

Akan tetapi, lagi lagi Allah menolong saya. Ada saja orang-orang baik yang membersamai saya dalam perjalanan kali ini. Mulai dari seorang pengamen yang mengantar saya menuju bis ke Malang. Dan pertemuan saya dengan dua perempuan tangguh yang membersamai saya dari terminal (yang notabene terminal Surabaya dan rupanya oh rupanya terminal tersebut sudah termasuk dalam wilayah Sidoarjo) ke stasiun Surabaya, menginap di ruang tunggu stasiun Surabaya (ini paling LOL) dan Alhamdullillah sampai di stasiun Semarang.

Jadi intinya, ketika Allah memberikan sebuah masalah (tragedi ketinggalan kereta karena macet parah), pasti ada solusinya juga (beli tiket yang tersedia lagi).

fa inna ma'al 'usri yusro. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan :")

Dari satu penggalan di atas, bisa kita lihat dan saya rasakan kalau Allah itu Maha baik. Baiiiiiik bangeet :") Hasbunallahu wa ni'mal wakiil. Allah sebaik2nya penolong, sungguh.

"Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu" (QS. Al-Qashash: 77)

Setiap orang yang kamu temui dalam hidup ini memiliki perjuangan yang tidak kamu ketahui. Jangan pernah ragu untuk berbuat kebaikan pada sesama. Karena sungguh, kamu tidak tahu seberapa berharganya hal itu bagi mereka

 

Semarang, 1 April 2017

Novia Woro Palupi

  • view 125