Pesan dari Hati yang Terluka

Noviaurora
Karya Noviaurora  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 November 2016
Pesan dari Hati yang Terluka

Lagi, tanpa sadar. Rasa sakit tepat menusuk jantung hatiku. Tangisan bercucuran menetes di pipiku. 

Akan tetapi dengan bodohnya -untuk kesekian kalinya- aku masih saja menyimpan rasa untuknya. Entah, karena apa. Padahal Tuhan telah menunjukkan dia bukanlah orang yang tepat. Dia adalah tempat yang salah untuk perlabuhan hati ini. Lebih menyakitkan lagi, aku tahu dia pun telah memilih hati yang lain.

Sekali lagi, tanpa sadar, air mataku bercucuran. Aku tahu ini sia-sia. Tangisanku tidak akan merubah segalanya. Aku tahu tangisan ini tidak akan membuat dia jatuh cinta padaku -seperti aku jatuh cinta padanya. Aku tahu tangisan ini tidak akan membuat dia mengagumi dan melibatkan aku dalam mencapai tujuan hidupnya -seperti aku mengagumi dan menjadikannya salah satu rolemodel untukku. Tangisan ini tidak akan didengar, dilihat, apalagi dipedulikan olehnya.

Bukan merasa kehilangan. Aku tahu, aku tidak pantas merasa kehilangan. tidak adanya gunanya. Karena apa? karena memang pada dasarnya tidak memiliki. Tetapi, air mataku tetap saja turun ke lantai terbawa gravitasi bumi.

Aku memang memilih untuk pergi. Tetapi, mengapa Tuhan mempertemukan kita kembali? Tuhan, aku sungguh tidak ingin bertemu dengannya lagi. Namun, ada beberapa hal yang sebenarnya masih ingin ku tanyakan padanya. Tetapi, sepertinya aku sudah banyak bertanya padanya. Juga, sepertinya dia sudah terlalu lelah menjawab. Bahkan terkesan tidak ingin. Beberapa jawabannya mengesankan bahwa kita mesti cepat-cepat mengakhiri pembicaraan ini. Dan sesegera mungkin melupakan segalanya.

"Bukankah sejak dulu kamu memang tidak berminat dengan percakapan ini?"
"Mengapa kamu masih saja melanjutkan percakapan ini?"

Ah aku tahu, semua percakapan itu hanya formalitas belaka. Kamu hanya menjaga sopan santun untuk menjawab semua pertanyaanku. Aku yang bodoh, aku yang terlalu banyak bertanya. Aku yang bodoh, pokoknya aku yang bodoh! Aku juga terlalu mudah percaya pada kata-katamu. Kamu tidak benar-benar memiliki atensi padaku -seperti yang dulu kamu bicarakan padaku. Sekali lagi, aku bodoh. Benar-benar bodoh, karena baru menyadari hal itu pada detik ini juga. Terlebih ternyata ada seseorang yang lebih menyita atensimu. Aku bodoh. aku benar-benar bodoh. Tuhan mengapa aku sebodoh ini?

Akan tetapi, air mataku tetap saja bercucuran deras di pipiku. Aku sadar dan aku juga harus peduli bahwa aku harus benar-benar melenyapkan dia bahkan bayangan-bayangannya di dalam hati dan pikiranku. titik.

Akan tetapi -lagi-, sungguh, tidak ada seorang pun yang bisa mengubah hidupku untuk berani mencapai mimpi-mimpi yang mustahil aku gapai. Tunggu. Bukan. bukan dia yang mengubah hidup. Astaghfirrullahdziim, maafkan aku Tuhan. Tuhan, maafkan aku. maafkan aku yang begitu lancang. Tuhan, maafkan aku. Kaulah yang mengubah hidupku, tetapi melalui seseorang itu.

Tuhan. Maafkan. Maafkan, hamba-Mu yang tak tahu diri ini. Maafkan aku yang baru menyadari semua ini, maka Tuhan ijinkan aku untuk bertindak peduli. Peduli seperti apa? Peduli untuk tidak menaruh dia di dalam hatiku lagi. 

Tuhan, ijinkan aku Tuhan. Ijinkan hamba-Mu yang tidak tahu diri ini mencintai diri-Mu. 
Tuhan, bantu aku untuk membuang sisa-sisa bayangan dirinya dalam hati dan pikiranku. 

Terimakasih Tuhan. Kau telah memberikan rasa sakit hati ini karena mungkin aku yang telah melalaikan cinta Ilahi dan lupa menjaga hati.

Lalu, sekali lagi. Sebuah tulisan dari lubuk hati terdalam tercipta melalui jari-jemari tanganku dan hatiku yang patah-retak-hancur berkeping-keping.

 

Jumat, 11 November 2016

Noviaurora

  • view 369