Bukan Penunggu

Noviaurora
Karya Noviaurora  Kategori Motivasi
dipublikasikan 22 Juli 2016
Bukan Penunggu

Kenyataan bahwa hidup menunggu mati, apakah bisa dibenarkan?
Layaknya seorang pribumi dari tanah Jawa, secara tidak sadar jikalau aku penganut paham relativisme.  Relativisme, pandangan yang memahami kebenaran bukanlah sesuatu yang mutlak. Jadi, kebenaran itu relatif nan cenderung bersifat nisbi.  kecuali kebenaran mengenai Allah SWT. Zat yang maha tunggal yang menciptakan alam semesta seisinya.
Selebihnya, nilai-nilai kebenaran tersebut sangat dipengaruhi oleh sudut pandang tertentu. Sangat bergantung pada pengetahuan seseorang yang terbatas, akal budi yang serba terbatas, serta cara mengetahui yang juga terbatas. Sehingga tidak mengherankan jika benar menurut seseorang belum tentu benar menurut orang lain. 
Manusia serba terbatas ya? Iya, begitu juga dengan waktu yang dimiliki manusia untuk hidup di dunia ini. Meskipun begitu, pendapatku secara pribadi, hidup tak menunggu untuk mati. Hidup tidak menjadikan mu seorang penunggu yang tidak melakukan apa-apa. :)


"Buat apa hidup kalau cuma didera masalah terus-menerus. Tiada henti. Buat apa? Aku depresi. Aku ingin  bunuh diri aja."
Akhir-akhir ini aku menjumpai banyak sekali orang baru yang ku kenal, kemudian bercerita, dan berujung pada ungkapan tersebut. Miris. Jujur. Aku pun sebenarnya juga bimbang harus bagaimana :")
Memang awalnya aku bimbang harus berbuat apa dan merespon apa serta berkomentar apa. Ini tidak mudah. Ini bukan hanya persoalan penyebab masalah-masalah yang ada di hidup saja. Apalagi soal cinta. Akan tetapi, ini sebuah penolakan genetik seseorang. Aku tahu pasti tidak mudah menjadi seseorang yang harus hidup dengan obat terus-menerus. Boro-boro berkeinginan untuk sembuh yang ada  dia semakin terpuruk. Justru karena hujatan dan makian dari orang di sekeliiling hidupnya. Hidup dalam kebimbangan diantara dua jati diri. Ah tidak mudah. Apalagi merasakan ketika kebahagiaan dan depresi datang secara bersamaan. Pasti menyakitkan. 
Aku tersadar. Orang-orang seperti inilah yang akan aku hadapi di masa depan. Mungkin, ada yang lebih melampaui mereka. Aku harus kuat sebelum aku menguatkan mereka.

Lalu tujuan hidup ini untuk apa?
Sebelumnya. Setiap manusia akan memercayai apa yang ingin dipercayainya. Jadi, aku akan meceritakan persepsi yang sudah ku dapatkan sejauh ini ya. Tetapi, tentu tidak semua. Seseorang yang sudah menemukan dari tujuan hidup aku acungi jempol.
Jawabanku. Kalau sejauh ini sih aku menganologikannya hidup dengan pendidikan di sekolah. Ibaratkan sekolah ini bumi.  Dalam sistem sekolah, kamu harus melalui ujian untuk naik kelas bukan? Supaya ujianmu lulus, kamu harus belajar dengan sungguh-sungguh. Tak peduli seberapa banyak godaan atau gangguan yang menerpa kamu ketika mau belajar bukan? Sekolah dan belajar agar cita-citamu tercapai dan diakui sebagai orang. 
Begitu juga dengan hidup. Hidup juga berjalan beriringan dengan belajar. Belajar yang jauh diatas level belajar di sekolah lho ya :)
Bedanya. Kamu akan menghadapi ujian-ujian hidup setiap hari. Tiada guru yang nyata untuk mengajarimu terlebih dahulu. Kamu belajar dari pengalaman. Dan disitulah naluri hidupmu tumbuh. Dan disitulah kamu akan tahu secara bertahap kamu hidup untuk apa. Dengan syarat kamu juga harus mencari tahu, suka tantangan, dan tidak pantang menyerah. Naluri. Ah what a beautiful things that God has created! Naluri yang pada umumnya akan sadar bahwa manusia tidak berdiri sendiri. Selalu ada Tuhan didekatmu :) Jadi, hidup untuk Tuhan, jika kamu percaya. 
Kamu didera banyak masalah juga untuk menaikkan derajatmu dan tentunya tingkatan kualitas hidup. Lalu, tujuan terakhir ya hanya untuk bekal di kehidupan selanjutnya :) Bekal agar kamu bahagia di kehidupan selanjutnya.

Lalu hidup ini diisi dengan apa?
Tergantung pada kepercayaanmu dan apa kemampuanmu. Tergantung pada pilihan jalan yang kamu inginkan. Tidak punya keinginan? Yakin? Pasti setiap manusia punya keinginan. Lapar dan ingin makan pun suatu keinginan.
Noted! Tidak ada keinginan, impian, cita-cita yang terlalu tinggi, terlalu rendah atau bahkan sedang-sedang saja. Semua orang boleh berkeinginan, impian, dan cita-cita. Semua orang punya standarnya sendiri, mengapa harus melihat standar orang lain ketika kamu juga bisa menciptakan standar itu sendiri? :)

Aku ingin menjadikan hidupku untuk menjadi pengembara yang berani. Dalam pengembaraanku aku ingin mendedikasikan hidup ini untuk mereka yang membutuhkan pertolonganku. Aku ingin menjadikan perjalanan pengembaraanku ini suatu cerita inspiratif yang bisa sedikit menggoreskan sejarah manusia di bumi. Jadi, aku ini bergerak menjadi seorang pengembara. Bukan penunggu. Apalagi menunggu kematian dan tidak melakukan apa-apa. Jadi, aku ini bergerak menjadi seorang penulis. 
Dan jadi lagi, aku bisa sedikit "memamerkan" kepada Allah bahwa aku hidup dengan baik. Dan dengan ini bukti bahwa aku bersyukur dapat diciptakan dan hidup di dunia karena Tuhanku. Akan tetapi, di sudut pandang lain, aku juga penunggu tetapi aku berusaha tidak seperti penunggu.

Bagaimana dengan kalian? Ingin menjadi apa? Ingin memaknai hidupmu  yang sangat berharga seperti apa? :)