Hilang atau "Dihilangkan"?

Noviaurora
Karya Noviaurora  Kategori Lainnya
dipublikasikan 18 Juli 2016
Hilang atau

"Selamat pagi Bumi!

Apa kabar? Aku harap kamu baik-baik saja ya. Karena doa, selalu ku panjatkan untuk keselamatan mu :) Jujur aku sangat takut menjumpai dirimu saat ini. Bulu romaku bergidik membayangkan dirimu di masa depan. Betapa tabah nan tegarnya dirimu akan perlakuan mereka. Akan tetapi, sesekali kamu pun menunjukkan amarahmu. Iya aku paham. Iya aku mengerti. Memang rasanya tak mengenakkan hati, apabila tidak dihargai, apabila tidak diakui, apalagi apabila tidak diacuhkan.

Bumi hatiku, aku ingin tahu semua tentang kamu. Aku ingin tahu bagaimana kamu mampu bertahan meski banyak masalah menderamu tiada henti. Aku ingin tahu apa kunci keteguhan dan keikhlasanmu. Sebegitu mudahnya kamu memaafkan mereka. Sebegitu mudahnya kamu berdamai dengan waktu dan  masa lalu. Sebegitu mudahnya kamu berdamai dengan ego-mu.

Bumi, aku ingin bercerita. Aku merasa hilang. Entah hilang dari apa. Atau mungkin kenyataannya aku lah yang dihilangkan? 
Aku benar-benar merasa lenyap. Lenyap dari seluruh sejarah. 
Sahabat-sahabatku entah melalang buana kemana. Begitu juga dengan teman-temanku. Tak acuh.
Orang-orang terdekat masih saja sibuk membenahi dan merawat diriku yang lain.
Sedangkan, dia? Dia baru saja benar-benar meninggalkanku. Dia terbit kemudian tiba-tiba tenggelam. Menghilang. Menyapaku, tetapi menaruh nada bicara sarkasme pada diriku. 


Bumi hatiku, aku tak tahu harus pada siapa lagi aku harus menumpahkan segala sampah di pikiran dan hatiku. Tiada yang mau mendengarkanku. Semua menghilang atau aku yang dihilangkan. Aku takut jikalau aku benar-benar menghilang apalagi dihilangkan. Aku tak sanggup. Oleh karenanya aku menulis. Aku menulis karena aku membaca, bahwa,

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
? Pramoedya Ananta Toer

dan

" Semua penulis akan mati. Hanya karyanya lah yang akan abadi. Maka, tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti "
- Ali Bin Abi Thalib -

Kamu tahu bumi hatiku, ketika aku melihat kata-kata itu, aku terburu menulis ini untukmu. Dengan harapan, kamu bisa menyampaikan pada Tuhan Sang Maha Pencipta bahwa aku tidak ingin hilang, aku ingin sebagian dari diriku abadi. Aku berjanji akan terus menulis tiada peduli nanti aku hilang ataupun dihilangkan. Aku ingin mengabadikan hidupku ini, yang menurutku berharga. Aku tidak peduli apabila orang lain menganggap tidak berharga. Aku tidak peduli.

Tolong sampaikan pada Tuhan bahwa, aku percaya, Tuhan juga akan memberikanku ketabahan, keteguhan, dan kemampuan berdamai yang baik seperti dirimu, Bumi hatiku.

Aku sangat bahagia apabila kamu mau menyampaikan semua keluh kesah ku. Dengan balasan, aku akan ikut menghargai dan menjaga dirimu, wahai Bumi hatiku.

Magelang, 18 Juli 2016
Dengan segala kerendahan hatiku,


Hamba Tuhan yang sedang berusaha mengaktualisasikan diri

  • view 250