Aku Ini Peralihan

Noviaurora
Karya Noviaurora  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Juni 2016
Aku Ini Peralihan

Bayi, balita, anak-anak, remaja, (peralihan) kemudian dewasa dan lanjut usia. Begitulah perkembangan manusia. Skema perkembangan yang akan terus berlanjut selama manusia itu hidup. Dan sebuah pencarian makna kehidupan akan berlangsung pada inti skema perkembangan tersebut. Dimana inti skema itu hidup dalam peran anak-anak, remaja, (peralihan), dan dewasa. Jadi, perkenalkan, aku ini peralihan. Peralihan yang hampir tak terlihat dalam skema perkembangan manusia. Karena tak dianggap, mungkin. 

Detik ini, pikiranku sedang kacau, perasaanku sedang tidak menentu, apalagi sikapku yang tak tahu harus bagaimana. Ahh, sial. Konasi, kognisi, afeksi dan psikomotorku sedang tak berjalan seirama. Id dan superego masih saja berkonflik, sedangkan ego-ku tak mampu merekonsialiasi antara id dan superego. Terlepas dari itu semua, diri ini muak. Ada banyak hal yang ingin aku katakan pada seluruh isi dunia, tapi aku tak bisa. Namun, ada hal yang ingin aku akui:

AKU IRI. Iri pada siapa? Pada sosok yang seringkali orang dewasa remehkan. Ya, sosok anak-anak. Justru aku iri pada mereka. Mereka yang bisa dengan mudahnya mengekspresikan perasaan, emosi, dan pikiran. Mereka dengan rasa keingintahuan yang bergejolak dan seringkali pertanyaan- pertanyaan mereka menenggelamkan orang dewasa. Mereka dengan kepolosan dan kejujuran yang berbinar-binar. Mereka yang sangat spontanitas bereaksi pada stimulus yang ada di sekitarnya. Mereka yang dengan mudahnya lupa akan kesalahan atau kemarahannya. Mereka yang justru lebih mudah menerima perbedaan. Karena itulah, sosok anak-anak tak patut disepelekan siapapun, termasuk orang dewasa.

Sedangkan menjadi dewasa? Ah, aku akui aku takut untuk menjadi dewasa. Karena dewasa itu rumit dalam segala hal. Termasuk, rumit dalam menentukan kebenaran. Padahal, sejatinya kebenaran itu justru sederhana. Jikalau kebenaran itu tidak sederhana, aku tidak yakin itulah kebeneran yang sesungguhnya.

Orang dewasa itu terlalu “muluk-muluk”. Alih-alih ingin berpikir kritis, justru terjerembak dalam suatu putaran pertanyaan yang menimbulkan keraguan. Bahkan, ketidakpastian. Orang dewasa ini terlalu sombong. Angkuh. Mereka merasa mengetahui semua hal. Padahal mereka membuat tipu daya. Mencampuradukkan kebenaran dengan paradigma masyarakat dan konstruksi sosial. Siapa yang bodoh? Yang bodoh adalah yang merasa dirinya pintar dan benar.

Aku peralihan yang selalu menjadi tersangka. Tidak seperti anak-anak yang selalu dibela dan orang dewasa yang selalu menjadi hakim. Aku peralihan yang tak bisa semena-mena menentukan keputusan. Ketika aku berbuat salah, aku dimarahi dengan kesal karena orang dewasa menganggap aku ini masih akan terus jadi anak-anak.Tetapi, ketika aku benar dan yang lain salah, tetap saja aku yang disalahkan karena aku akan beranjak dewasa, dan bukan anak kecil lagi.

Jadi, aku ini peralihan, bukan dewasa, bukan anak-anak. Peran mana yang harus aku mainkan? Aku hampir tak terlihat pada skema perkembangan manusia. Aku ini butuh arahan dari orang dewasa. Karena aku ini mudah tersesat, tidak stabil. Padahal sebenarnya aku hanya ingin hidup dalam suatu keyakinan kalimat bahwa hidup ini akan “baik-baik” saja. Baiik-baik yang tidak mampu dipahami siapapun, kecuali Tuhan tentunya.

Aku ingin protes. Aku ingin egois kali ini. Aku tidak akan menuliskan kelebihan menjadi orang dewasa. Aku ingin egois kali ini. Yang hanya ingin aku tulis adalah kekurangan, kekurangan, dan kekurangan orang dewasa. Tak peduli! Aku hanya ingin mengeluh untuk kali ini saja. Aku ingin dipahami untuk kali ini saja.

Bukankah satu langkah awal menerima suatu kenyataan itu harus merasakan keluh kesah terlebih dahulu? Orang dewasa harusnya paham bukan? Aku ini peralihan. Bukan seorang dewasa dan bukan seorang anak – anak. Aku bimbang, mau tak mau aku harus beranjak dewasa. Akan tetapi, aku tidak ingin menjadi dewasa, apalagi menjadi peralihan seperti ini. Ini semua sulit. Peralihan itu kalut marut. Orang dewasa itu pun rumit. Akan tetapi, memang aku tak memungkiri aku ini peralihan dan akan beranjak dewasa. Sungguh, aku ingin menolak. Aku merasa tidak mampu melihat kedzaliman yang ada di depan mataku. Dan aku sedih, aku masih saja tak berdaya, tidak dapat berbuat apa-apa.

Aku ini peralihan. Ya, “(peralihan)”. Dan, maaf, aku ingin egois untuk kali ini saja. Sekali saja. Maaf, mungkin aku melampaui batas. Hanya saja, aku ini terlalu banyak menipu diri. Sehingga, yang aku perlukan saat ini adalah kembali, seperti anak-anak, yang mampu jujur pada diri. Aku hanya iri dan hanya ingin protes. Aku tidak merutuki nasib. Aku tidak baper. Aku tidak merasa bahwa hidupku yang paling teraniaya dan sengsara. Aku hanya iri dan ingin protes. Aku hanya ingin merefleksikan perasaanku sebagai langkah menerima kenyataan bahwa peralihan akan beranjak dewasa.

  • view 116