Nasihat Kakek Sol Sepatu

Noviaurora
Karya Noviaurora  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Juni 2016
Nasihat Kakek Sol Sepatu

Sepatu yang sudah menganga lebar memaksaku untuk keluar kos. Tak lain, aku pergi untuk memperbaikinya ke tukang sol sepatu yang biasanya menunggu rejeki di sekitar perempatan gang. Melawan “kemageran” dan teriknya matahari aku berjalan dengan segala kegalauan dan kebimbangan hati. Entahlah, belakangan ini aku merasa ada beban berat menimpa pundakku. Entah itu amanah atau “musibah” atau “ujian” yang memberatkanku saat ini. Aku masih belum tahu cara untuk menceritakan “musibah” atau “ujian” tersebut. Yang jelas, perjalananku menuju tukang sol sepatu ini membawa titik terang dalam amanah yang aku emban.

Aku memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan kakek sol sepatu. Umurnya sudah benar-benar tidak muda lagi. Tujuh puluh lima tahun kakek mengembara dalam hidupnya. Hidupnya dipenuhi akan kesederhanaan. Beliau mempunyai anak dan istri. Rumahnya sedikit jauh dari lokasi kakek mencari rejeki. Dulu kakek pernah bekerja sebagai tukang cukur untuk taruna AKPOL di Semarang. Akan tetapi, adanya peraturan yang sangat ketat, membuat kakek tidak bisa lagi menggantungkan hidupnya menjadi tukang cukur. Muncullah kreatifitas kakek untuk menjadi seorang tukang sol sepatu di daerah kampusku. Kakek bercerita semua peralatan yang beliau pakai adalah buatan beliau sendiri. Anak-anak kakek sudah melarangnya untuk bekerja. Akan tetapi, bara api semangat kakek memang terlihat jelas dimata beliau. Langkah-langkah  kakek bekerja ini tidak bisa dihentikan oleh anak-anaknya. Selain itu, kakek banyak bercerita tentang pengalaman hidupnya. Aku juga tak kalah selalu bertanya pada kakek. Akan tetapi, seringkali jawaban kakek tidak sesuai dengan pertanyaanku. Akhirnya aku lebih memilih mendengarkan cerita kakek dan segala “wejangan-wejangan”nya. Aku sangat ingat salah satu nasihat kakek, karena menurutku nasihat (dalam bahasa Jawa: wejangan) ini sangat cocok untuk peringanan beban amanahku.

“Mbak, dadi wong Jowo kuwi mesti direwangi rasa ora kepenak karo wong liya. Tapi kudu ono ketegesan. Nek iyo yo iyo, nek ora yo ora. Ojo molah-maleh, engko malah ora dipercoyo maneh” (Kakek anonim, 75 tahun)

 “Mbak, jadi orang jawa itu pasti selalu ada rasa tidak enak hati dengan orang lain. Akan tetapi, harus ada ketegasan. Kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak. Jangan plin-plan, nanti ‘malah’ tidak dipercaya lagi”

---

“Kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak”.

Kata-kata dari cuplikan wejangan kakek yang sangat menyentuh hatiku. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba kakek berkata seperti itu. Aku heran jadi sekarang siapa yang belajar ilmu psikologi yang konon bisa membaca pikiran orang lain? Kakek atau aku? Hahahaha... Entahlah, aku juga tidak tahu mengapa kakek bisa mengerti keadaanku yang sedang ragu, bimbang, kesal, dan ahhh bercampur aduk. Tidak, bukan! Akan tetapi, rasa ini lebih dari sekedar bercampur aduk.

Wejangan yang akan selalu aku ingat agar sikapku yang tidak bisa berkata tidak ini dapat diminimalisir, sehingga kelak tidak akan menggangguku, menyusahkanku, ataupun memberatkan beban hidupku ini.

Terimakasih kakek atas wejanganmu ^^

Sumber gambar: http://www.sjiwa.com/wp-content/uploads/2015/11/sol-sepatu.jpg

Dilihat 229