Sebuah Tameng Keikhlasan

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 April 2016
Sebuah Tameng Keikhlasan

            Aku tidak tahu sampai kapan hal ini akan terjadi pada diriku. Aku hanya tahu kapan hal ini terjadi, tapi aku tidak tahu kapan waktu akan mengembalikan semuanya itu pada keadaan semula. Biarkan saja ini terus terjadi, biarkan saja bunga ini terus tumbuh dan bersemi. Setiap hari akan aku beri air dan pupuk dengan kualitas tinggi agar bunga yang dihasilkannya pun akan memiliki kualitas yang tinggi. Sama halnya dengan hati, pikiran dan perasaan ini. Aku akan jaga dan rawat dengan baik supaya mereka tumbuh dengan baik dan tidak rusak.

            Kubiarkan perasaan ini tumbuh secara baik bersama dengan pikiran yang menjadi kemudi karena aku tahu jika perasaan ini akan tumbuh tanpa kemudi yang baik dari pikiran dan logika, atas dasar kebaikan, maka perasaan ini akan tidak beralur baik, akan mencoba merusak si pemilik perasaan itu dan akan mengudang sebuah dosa. Ya, biarkan itu tumbuh.

            Biarkan perasaan itu tumbuh dengan baik. Biarkan perasaan itu tumbuh untuk mendewasakan diriku. Biarkan perasaan itu tumbuh untuk mengajarkan berbagai hal, terutama keikhlasan dalam hal mencintai. Karena sesungguhnya cinta adalah memberikan tanpa mengharapkan balasan. Aku berusaha membuat tameng itu dengan sebuah keikhlasan yang memang sedikit sulit untuk diraih maknanya. Tapi aku akan belajar dan mengikuti prosesnya dengan baik.

            Aku tidak pernah menganggap pemberian Tuhan ini sebagai hal yang rumit. Tuhan sudah memberikan sebuah anugrah supaya aku memperbaiki diri ini melalui dia. Aku tidak pernah menyesali pemberian ini. Ini tidaklah rumit. Namun, yang harus aku ketahui adalah ‘dia’ membutuhkan keikhlasan agar suatu saat nanti aku tidak akan jatuh ke dalam jurang yang dalam jika Tuhan menggariskan bahwa ‘dia’ tidak akan pernah ditakdirkan untuk kumiliki seumur hidupku.

            Ikhlas dengan ‘dia’.

            Tuhan…

            Aku berusaha untuk membuat semuanya tidak rumit dengan membuat sebuah tameng berupa keikhlasan.

            Aku..

            Sedang..

            Melakukannya..

            Mungkin tameng itu akan menjadi jalanku untuk terus memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Ikhlas. Memberi tanpa mengharapkan balasan, walaupun diri ini pernah meminta Tuhan akan memberikan scenario yang baik yang diharapkan pemerannya untuk bisa mendapatkan scenario happy ending. Aku tidak berharap banyak. Aku tidak mau berekspektasi terlalu tinggi. Aku takut kekecewaan ini akan datang terus menerus tiada henti karena sebuah scenario itu. Tidak, tidak. Aku akan menerima scenario Tuhan dengan ikhlas dan lapang dada. Bukankah Tuhan Maha Pemberi Rencana yang baik untuk setiap hambanya?

  • view 286