‘Dia’ Memang Tidak Sempurna, tapi ‘Dia’ Tidak Pantas Disalahkan

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 April 2016
‘Dia’ Memang Tidak Sempurna, tapi ‘Dia’ Tidak Pantas Disalahkan

Aku yakin sekali bahwa setiap orang di dunia ini pernah merasakannya. Suatu perasaan dan suatu keadaan yang mana kita tidak dapat menghindar dan tidak dapat mencegahnya untuk tidak datang. Namun, banyak orang yang sering menyalahkan kehadirannya dan seringkali menjadikannya suatu hal yang mengandung dosa. Padahal jika kita tahu bahwa ‘dia’ tidak pernah salah, pasti ada suatu hal yang membuat kita sangat mensyukuri kehadirannya. Terlebih jika ‘dia’ datang dan membawa suatu perubahan. Ya, motivasi perubahan pada diri seseorang.

            Tidak ada sempurna di dunia ini, kecuali diri-Nya. Termasuk dengan ‘dia’ yang setiap orang rasakan. ‘Dia’ memang tidak sempurna tapi ‘dia’ tidak pantas untuk disalahkan. ‘Dia’ datang untuk memberikan rasa syukur kepada sang Tuhan karena ‘dia’ adalah salah satu bentuk kesyukuran hidup.

            ‘Dia’.

            Kini.

            Hadir.

            Rasa.

            Itu.

            Hadir.

            Aku selalu menanyakan hal ini kepada diri ini dan kepada Tuhan khususnya. Tuhan, apakah sebenarnya yang sedang aku rasakan? Aku tidak mengatakan bahwa aku cinta. Aku tidak mengatakan bahwa aku suka. Aku tidak mengatakan bahwa aku menyayanginya. Aku tidak tahu sama sekali. Yang aku rasakan saat ini adalah saat aku berhadapan dengannya langsung, irama detak jantungku tidak beraturan, kata-kataku seperti tertarik ke dalam tenggorokan, mata ini seperti tidak bisa menatapnya, bagaikan ada perintah dari dalam diri bahwa aku harus menundukkan pandanganku. Aku tidak bisa menatap dirinya, Ya Tuhan. Aku tidak bisa menatap matanya yang teduh. Aku tidak bisa…

            Tuhan, apa yang sedang aku lakukan? Apakah yang kulakukan ini salah? Apakah yang kulakukan ini adalah perbuatan yang benar?

            Aku tahu diri ini harus dikendalikan dari suatu hal apapun. Termasuk dikendalikan karena ‘dia’. Aku sedang belajar memahami dan mengendalikan diriku. Aku tidak ingin terbuai karena ‘dia’, aku tidak ingin khilaf karena ‘dia’, aku tidak ingin menangis karena ‘dia’, dan aku tidak ingin berharap.

            Aku terpaksa mengatakannya pada ibu. Semoga ibu mengerti dan paham dengan diri anak gadisnya ini. Aku harap dengan aku mengatakannya pada ibu, ibu akan menasehatiku tentang banyak hal. Ada satu sentilan yang cukup mengguncang hatiku kala itu.

Jangan terlalu berharap.

Ya. Aku tahu risikonya, ibu. Maafkan anakmu yang sudah berani untuk melangkah dan mengambil hatinya. Tuhan, apakah kau sudah menakdirkan aku seperti ini? Apakah kau akan terus membiarkanku untuk berharap dengan ‘dia’ yang sama sekali tidak pernah pantas untuk disalahkan? Berharap? Sejujurnya saja dibalik harapan itu aku sedang memperbaiki diriku ini yang memang mesti diperbaiki. Aku tidak mengubah diriku, aku hanya memperbaiki diriku agar menjadi lebih pantas. Pantas untuk siapa? Maafkan aku, Tuhan. Semoga saja niatku ini akan lurus dengan sendirinya.

            Aku memang tidak sempurna, begitu pun dengan hati dan perasaanku. Perasaanku tidak akan pernah sempurna tapi perasaanku tidak patut disalahkan karena telah memilih satu hati yang menurutnya benar dan akan dijadikan jalan untuk memperbaiki diriku ini.

            Terimakasih untuk ‘dia’. ‘Dia’ yang sempurna dan tak akan pantas untuk disalahkan. Andaikan terdapat kesalahan, itu datangnya dari si pemilik ‘dia’. ‘Dia’ akan selalu hadir dalam hidup dan jika ‘dia’ itu baik maka ‘dia’ akan menjaga pemiliknya dan membuat pemiliknya akan merasakan kehadirannya membawa suatu kebaikan.

 

  • view 245