Ketika Keraguan Hadir pada Pilihanku (Sekolah Farmasi ITB)

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 April 2016
Ketika Keraguan Hadir pada Pilihanku (Sekolah Farmasi ITB)

Tidak terasa sekarang sudah semester dua. Satu kata yang ingin aku ucapkan, Alhamdulillah. Alhamdulillah Allah masih memberikanku kekuatan dan kesempatan padaku untuk bisa melanjutkan studiku di semester dua ini tanpa mengulang satu mata kuliah pun. Yang membuat aku makin bersyukur lagi adalah aku bisa mencapai indeks prestasi yang aku harapkan. Meski cumlaude sedikit, aku sangat bersyukur karena dengan prestasi itu membuatku rasa percaya diri yang dulu sempat tenggelam kini lahir kembali. Rasa percaya diri itu bukan berarti rasa sombong yang menganggap teman-teman lainnya lebih di bawah. Rasa percaya diri itu penting buatku karena dengan memiliki rasa percaya diri, aku memiliki rasa bersaing dengan sehat di ITB ini.

            Aku banyak belajar di semester satu kemarin. Aku belajar banyak hal. Aku tahu dimana waktu belajar yang tepat buatku. Aku tahu bagaimana sifat dosen dan teman kuliah. Aku tahu saat-saat dimana tugas menumpuk itu bisa menekan psikologis yang membuat merasa aku salah masuk fakultas. Aku juga tahu kelemahanku yang membuatku tidak fokus dalam belajar. Di semester dua ini aku akan memperbaiki semuanya. Aku berusaha menjadi yang lebih baik.

            Sekolah farmasi hanya mempunya dua jurusan. Sains dan Teknologi Farmasi (STF) dan Farmasi Klinik dan Komunitas (FKK). Secara umum STF dan FKK itu terlihat sama saja karena keduanya sama-sama bergerak di bidang farmasi, sama-sama seorang farmasis dan sama-sama bisa memproduksi obat. Namun, orientasi keduanya agak berbeda menurutku. STF berorientasi pada produk. Di STF akan diajarkan membuat obat yang baik dan benar. Pada jurusan ini mahasiswa akan difokuskan pada produk atau sediaan. Sedangkan FKK berorientasi pada pasiean. Di FKK diajarkan cara membuat obat, namun tidak semendalam di FKK. Karena berorientasi pada pasien, di FKK juga diajarkan cara berkomunikasi dengan pasien. Hal itu dikarenakan FKK lebih cocok untuk menjadi konseling mengenai obat dan menurutku sih, FKK ini semi dokter.

            Sudah sekian kali aku bertanya pada kakak tingkat 2012 maupun 2013 tentang bagaimana setelah masuk jurusan. Jawabannya relative sekali, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Saat aku tanya pada kakak FKK, jawabannya, di FKK itu enak, kekeluargaannya dapet, nggak hectic kayak STF, dan bisa berkomunikasi dengan pasien, jadi kayak dokter gitulah. Makanya yang masuk FKK ini rata-rata mereka pengen masuk dokter tapi nggak kesampean hehehe. Saat aku tanya pada kakak STF, jawaban mereka, di STF itu kalian bisa kerja di industry, STF itu keren, ntar bisa bikin obat dan bisa tahu produk-produk, dan kalo masuk STF otomatis kalian bisa di FKK juga, tapi kalo kalian masuk FKK belum tentu bisa di STF. Terus ada juga yang bilang, banyak juga yang salah masuk jurusan STF. Alesannya di STF lebih berat daripada di FKK. Begitulah jawabannya. Menurutku baik FKK dan STF itu sama aja, tergantung minat dan kemampuan kita gimana. FKK dan STF itu saling membutuhkan. STF itu yang membuat obat, FKK itu yang menyampaikan pada pasien.

            Awalnya aku mengisi kuesioner STF sebagai pilihan pertama. Tapi saat ini aku galau ingin milih FKK. Aku tanya sama bapak dan ibu. Jawaban mereka berbeda karena orientasi mereka juga berbeda. Setelah aku jelaskan pada mereka perbedaanya mereka memberikan jawaban. Ibuku bilang, ibu pengennya sih kalo anak cewek itu kerja di pemerintahan karena waktu untuk keluarga akan lebih banyak. Waktu itu aku jelaskan pada bapak dan ibu itu, STF lebih berorientasi pada industry dan FKK pada rumah sakit. Aku tangkap jawaban ibu ini mengarah pada FKK. Naaaaah, berbeda dengan bapak. Bapak pengennya aku kerja di industry dan dapet kerja yang layak dan gaji yang lumayan. Malahan bapak waktu bilang pilih aja jurusan yang paling susah. Toh, kamu dibiayain ini. Mumpung sekolahnya gratis, ambil yang paling susah aja. Waktu itu aku jelaskan pada bapak kalau STF itu lebih susah daripada FKK. Aku bisa nangkap jawaban bapak itu pasti STF. Aku ngerti kok tujuan bapak bicara seperti itu. Tentang kerja yang layak dan gaji yang lumayan. Aku paham karena nggak mungkin orangtua ingin melihat anaknya susah. Semua sudah ada pertimbangannya. Tujuan sebenarnya bapak ingin aku masuk STF adalah agar aku bisa kerja di industry, dapet gaji yang lumayan dan bisa memperbaiki ekonomi keluarga, yang setahun lagi bapak bakalan pensiun.

            Sampai saat ini aku masih bimbang. Aku ingin menuruti kata hatiku apa kata orangtuaku. Sejujurnya saja, jika aku masuk STF, ilmu tentang obat-obatan akan semakin banyak daripada FKK. Lama-lama aku ingin masuk STF karena aku ingin mendapatkan ilmu yang banyak tentang obat-obatan dan bisa membuat obat sendiri dan akhirnya membuat apotek. Aku juga ingin menampis bahwa anak STF itu individual karena setiap hari mereka berhadapan dengan macam-macam obat dan tidak memikirkan kondisi dan keadaan pasien. Banyak yang mengatakan juga kalau anak STF memiliki rasa care yang kurang.

            Jika aku masuk STF, aku bisa kerja di dunia industry yang bergerak di bidang farmasi. Aku juga bisa membuka apotek setelah aku kuliah profesi setahun nanti. Ya Allah, mudah-mudahan dengan aku berpikir demikian dan berorientasi ke depan aku bisa membahagiakan orangtuaku. Aku mencoba menjawab tantangan itu meski di STF kita bisa dibikin stress dan hectic selama tiga tahun. Aku akan berusaha sebaik mungkin dan berusaha menjadi seorang calon apoteker yang baik. Semoga dengan usaha yang aku lakukan dan doa dari orangtua dan doa dari orang-orang yang menyayangiku bisa membantu aku mewujudkannya. Aamiin

  • view 1.8 K