Sisa-Sisa Cahaya Bintang yang Masih Bertahan…

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Sisa-Sisa Cahaya Bintang yang Masih Bertahan…

Ku terduduk di balkon

Memandang langit yang tanpa bulan

Bintang pun ingin bertemu bulan secepatnya

Segera mungkin

Saat ini juga

Padahal di langit bertaburan bintang

Tapi terlihat kosong

Ada kehampaan yang terasa

Sudah lama bulan tidak di langit

Hanya ada bintang bersama teman-teman yang lain

Sisa-sisa cahaya beberapa tahun yang lalu masih berkedip terang

Tetap terangi angkasa yang gelap

 

Ya, sisa-sisa cahaya itu adalah aku

Dengan segenap hati aku berusaha menghilangkan sisa-sisa perasaan itu

Namun bedanya aku adalah perempuan yang penakut

Takut jika perasaanku ini malah membunuhku

Aku takut menyukaimu

Aku takut terlalu menyukaimu

Takut jika rasa itu terus ada sampai aku dewasa

 

Yap, begitulah sekiranya puisi receh yang sedang gue buat hahaha. Singkat, rada gak jelas alurnya, diksinya, maknanya, tapi ya emang begitu yang lagi gue rasain hahaha apa gue aja yang nggak bisa bikin puisi. Bhaaak! Gue akui gue adalah seorang yang semi koleris-melankolis. Udah tau kan bedanya? Jauh banget sebenernya, tapi gue merasakan gue memiliki keduanya, gue seorang koleris dan seorang melankolis. Pada saat-saat tertentu gue sering galau sendiri apalagi ditambah lagi dengerin music yang super duper amat sangat bikin hati terguncang badainya perasaan galau. Tapi galaunya gue sih sebenernya bikin gue terkadang bikin bingung juga wkwkwk. Gini, disaat gue lagi dengerin lagu kayak instrumentnya First Love – Utada Hikaru dengan kedua headset menempel ditelinga gue, gue merasakan gue rindu banget sama seseorang yang dulu (mungkin sekarang masih) gue sukain. Tiga tahun yang lalu tepatnya. Aduh tuh kan!! Udahlah nggak usah diingetin! Tapi gue pengen berbagi aja sih apa yang lagi gue rasain hehehe. Sekarang dia udah lulus dari ITB. Bedanya dia dan gue sekitar empat tahun, artinya waktu gue kelas 12 SMA dia lagi semester 7 di ITB. Hhmm.. Terkadang gue sering banget minder karena udah suka sama dia. Dia adalah seorang laki-laki yang berbeda dengan laki-laki lain, sejauh ini yang gue lihat. Emang sih, dia tamvan, baik, soleh, aktif organisasi, pinter (dengan indeks prestasi kumulatif diatas 3, nggak kumlot sih, tapi kan diatas 3 itu udah bagus banget! Hahaha belain), dan penyayang keluarga (yang gue lihat dari instagramnya wkwk stalker abisssss).

Gak tau kenapa, gue merasa beruntung aja bisa bertemu dua kali secara langsung. Waktu pertama kali gue lihat dia gue pernah berharap bisa dipertemukan secara langsung (face to face) di ITB. Dan ternyata, Alhamdulillah, Allah kasih kesempatan itu. Dua kali J Tapi badan gue rada demam kalau berhadapan sama dia, rasanya gue pengen puter balik badan ini walaupun hati ini pengen berlama-lama dengan dia (Astaghfirullah, Maafkan hamba… Tapi hamba jujur.)

I am sure you’ve had your first love. Yap! Why do I feel so sure and believe that first love is so hard to forget. It seems like a miracle from God. Giving the spirit and strength if you can maintain it wisely. But, keep your love for your God as your life priority. Don’t over act to love somebody, even love your sweetheart, your first man for the first time you love him so much. No! Don’t make your feeling to your man to be the first priority. I just make that feeling as my spirit and motivation in order to someday I will meet him directly in Institut Teknologi Bandung. Just a simple wish in 2014.

Sebenarnya masih banyak banget yang mau gue ceritain di sini…

  • view 178

  • Nonik Ristiawati
    Nonik Ristiawati
    1 tahun yang lalu.
    Tapi lagi belajar melupakan ini, hidup kan masih panjang haha iya, selama ini aku hanya post di blog soalnya

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    uhuk
    first love is so hard to forget ya mba?

    wiih, mba Nonik ngeborong postingan nih