Good Morning, Sunshine …

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Good Morning, Sunshine …

            Jum’at pagi yang ceria dan special. Special kenapa ya? Special keju telor mayonnaise? Special karena semalem gue nggak bobok sendiri. Ada yang nemenin. Cihuyyy. Untung Atu mau bobok walaupun ukuran kasur nomor 3 buat cewek seperti gue dan sekecil atu. Untung gue mau bobo sama atu, untung semalem dia nggak ngejajah tempat tidur gue hahaha. Untung dia mau bobo sama gue, untung semalem gue nggak ngelindur. Loh.. orang tidur mana sadar lagi ngelindur? Hahaha. Tapi tadi atu bilang kalo gue ngelindur “Sampah… sampah…”. Astaga kejadian sampah itu kan udah dua minggu yang lalu? Kenapa masih aja dimimpikan ya. Hhmm apa jangan-jangan dua hari yang lalu gue sempat berpapasan dengan pak RW dan beliau hanya senyum, masih mengingat gue, masih mengingat kejadian itu. Aaaaaa, sudah cukup. Cukup kali ini saja.

            “Eh, nik. Tadi kamu ngelindur ‘sampah sampah’ loh…”

            “Oh iya?” gue masih berusaha segenap jiwa buat menyatukan nyawaku yang sedang kelayaban ke dunia lain. “Eh aku bilang sampah bukan maksud ‘sampah’ itu loh, tu. Ini sampah yang waktu itu… Hehehe”. Masih sedikit sadar.

            “Iya iya, aku tau kok.”

            “…” Berniat mau tidur lagi padahal udah jam 05.30 karena suhu di daerah Bandung cukup dingin, cukup mengkatalisdan menstimulasi buat para insomnianers buat bobo. “Haduh… truk sampahnya keburu pergi nih. Kayaknya aku harus buang sampah dulu deh tu.”

            Maksud sampah yang sebenarnya disini yang tahu hanyalah aku, dia, dan Dia saja. Kalian tidak berhak tahu  karena kalau sampai kalian tahu, berarti nyawa urat malu gue putus satu. Cukup.

            Dengan mengucapkan bismillahirrahmannirrahiim, gue melangkah menuju kampus ITB, tempat paling tepat untuk menimba ilmu dan mencari pegangan hidup. Tempat yang paling unggul mencari sumber daya jodoh dunia dan akhirat. Tempat yang paling pas buat yang ingin berumahtangga dengan pengeluaran yang rendah selama berumahtangga. Kenapa? Coba deh, banyak anak teknik disini. Mesin? Kalau jet pum rusak, gak usah beli baru. Cukup bilang, “Yah, jet pump di rumah rusak.” Mesin jahit rusak? Wokeh. Mesin mobil rusak? No worry. Penerbangan? Kalau nyewa helicopter gak usah nyewa pilotnya juga. Cukup berdua sama si doi di helicopter. Sipil? Gak bakal deh ke tipu sama pemborong bangunan rumah buat bikin rumah idaman. Takarannya pas dan tepat. Lingkungan? Pasti bersih dong orangnya? Gak mungkinlah tahu seluk beluk lingkungan dan pengolahan limbah tapi dia jorok dan buang sampah sembarangan. Salah focus. Sekolah yang bener dong, IP yang tinggi, dan jadi mahasiswa yang peka terhadap lingkungan. Eaaaak. Tapi tetap saja ya, kalau sudah basicnya farmasi, pasti sekolah sembari mencari pasien. Menurut farmakofe XXX pasien adalah seseorang akan dirawat dalam jangka waktu seumur hidup setelah mengucapkan ikrar suci kesehatan dan kesakralan dalam agama. Cukup sampai situ saja yah.

  1. Gue langsung menuju ruang 9012. Ruang abadi anak farmasi. Rupanya gue belum telat datang. Farmasi Fisika dan Sintesis Obat. Okey… Kumulai kuliah ini.

            Di samping gue duduk Ana (Nama samaran dengan nama lengkap Lee Na Koo). Semoga hari ini gak bikin gue ketawa terus dan ngegodain gue pada saat pelajaran sintesis obat. Semoga. Wish me luck for today.

            Kuliah farmasi fisika bersama ibu Lee Jae Shi cukup menyenangkan. Sebetulnya guecukup menyukai matkul 4 SKS ini. Walaupun banyak rumus dan hapalan, ya… mudah-mudahan saja gue tetap mencintai matkul ini hingga akhir waktu. Dimensi waktu pada saat mata kuliah farmasi fisika ini seperti berjalan lambat. Entah ada factor luar apa. Sebetulnya Ibu Lee Jae Shi mengajar dengan sabar dan cukup dimengerti, tapi pada saat gue mau nyatet materi dari slidenya, tiba-tiba slide udah berpindah ke slide-slide berikutnya. Cepet banget. Akhirnya gue harus lihat catetan teman kiri dan kanan demi melengkapi catatan gue.

            Jreng jreng… Ini mata kuliah favorit gue (dalam arti yang tidak sebenarnya).

            Sintesis obat. Derivatnya Dasar sintesis obat.

            Mata kuliah apa itu? Ya begitulah…

            Rantai siklik aromatic. Benzena. Pemain bola. Karim Benzena. Pasti kau tahu itu, Nak.

            Pergantian kelas dari farmasi fisika ke sintesis obat. Mulai gaduh karena pengumpulan tugas. Gue langsung pergi ke kantin karena perut gue perih selama kuliah farmasi fisika karena menahan luka yang diakibatkan oleh asam lambung . Tempe goring 2, cireng isi bumbu 1. Goceng. Cukuplah untuk mengganjal lambung ini.

            Setelah habis melahap trio gorengan goceng yang nggak bikin batuk-batuk karena harganya yang lumayan mahal akhirnya… Kum tempora. Tidak ada toleransi waktu.  Jreng jreng. Kelas sintesis obat akan segera dilaksanakan.

            Pak Im Ran Jeong masuk ke kelas dengan langkah yang mulai cepat.

            “Selamat pagi, semua…” Ucap Pak Im Ran Jeong.

            Entah kenapa di telingaku seperti terdengar, “Good morning, sunshine…”. Mungkin ini disebabkan karena ketidaksampaian menonton film Sunshine Becomes Younya Herjunot Ali dan Nabilah JKT48.

            “Selamat pagi, sayang…” Aku jawab salam itu sambil berbisik ke temanku, Ana

            Dia hanya nyengir dengan tatapan merasa so disgust terhadap gue. Hahaha… begitulah kebiasaan kami saat kuliah sintesis obat. Walaupun perbedaan gue dan Pak Im Ran Jeong adalah 28 tahun tapi ya gitu… Mahasiswa tetaplah mahasiswa. Dosen tetaplah dosen. Tidak ada perasaan apa-apa yang selama ini gue jadikan guyonan penghilang kejenuhan saat kuliah. Segala candaan dan tangisan hanyalah rekayasa dan tidak patut ditiru.

            Okey, sekarang gue klarifikasi aja sih. Gue bukan pecinta om-om, dosen, sekalipun opa-opa. Gue juga bukan pecinta berondong, baik manis maupun asin. Mungkin surat pernyaatan ketidaksukaan terhadap om-om dan berondong akan gue lampirkan segera. Terimakasih

            HAHAHAHAHA

  • view 87