Wajah Semu Paling Indah

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Wajah Semu Paling Indah

Ketika mata ini diam-diam mengamati

Kepala mulai menunduk

Telinga menangkap berbagai suara dari berbagai pita suara yang bergetar

Suara alto dan bass saling bersapaan, membalas

Pelan namun terdengar syahdu

Lemah namun terdengar bijaksana

Lingkaran manusia sedang beramal

Diskusi terindah pertama dalam hidupku

Ya, indah memang

Ini kan memang bulan Ramadhan

Tapi hati ini terlalu kecil untuk bisa menatapnya lebih lama

Dia hanya menunduk diantara belasan wanita-wanita berkerudung

Ya…

Dia…

 

            Mungkin hidup ini akan hambar rasanya jika kita tidak memiliki kisah romansa. Aku pun pernah merasakannya. Ya, aku masih perempuan normal kok wkwkwk. Naluri kewanitaanku mulai aku sadari pada saat aku menginjak kelas 12 SMA. Hhmm apakah aku mengalami keterlambatan pubertas? Entah lah. Tapi memang aku akui, aku kurang terbiasa  untuk membicarakan seorang laki-laki yang aku suka karena aku akan jauh lebih nyaman jika aku merasakannya sendiri saja. Bukan berarti aku tidak mau berbagi cerita loh ya… Aku agak pemalu soal ini karena terlalu privat. Begitulah…

            Kisah SMA bagiku hal yang biasa-biasa saja. Mungkin beberapa orang sering mengatakan bahwa masa SMA adalah hal yang paling indah. Benar juga sih, indah disini sangatlah relative. Aku tidak tahu ukuran kata “indah” untuk setiap orang. Yang jelas  apa yang aku alami dan teman-teman alami akan sangat berbeda. Komposisi indah dan kebahagiaan pun akan berbahagia. Apa ini karena pada saat SMA aku kurang bergaul? Kurang membuka  diri terhadap lingkungan? Kurang membuka pikiran tentang pentingnya penyemangat hidup (maksudnya disini adalah cemewew, hohoho). Baiklah, semua pertanyaan itu memiliki jawaban. Dan jawabannya adalah iya, benar sekali, exactly. Semasa SMA aku terlalu membiasakan diriku untuk mementingkan akademis tanpa mementingkan nilai hardskill. Jujur saja, aku baru mengenal kata “hardskill” pada saat kuliah. Andaikan aku tahu bahwa hardskill sangatlah penting dan memiliki peran yang mendukung dalam semua aspek “berkesiswaan” maka aku akan menggali setiap hardskill yang ada pada dalam diriku. Ah… Mungkin aku terlalu menyibukkan diri untuk mengerjakan soal-soal dan belajar setiap harinya tanpa memperdulikan kegiatan organisasi, berteman sebanyak-banyaknya, dan mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang keren-keren di SMA. Jika aku sudah mengenal kata “ambis” saat masih SMA maka aku akan menilai diriku keambisanku adalah 9 dari 10. Huaaaaaa betapa ambisnya diriku tanpa disertai pengembangan hardskill, seperti butiran debu. Mungkin bisa dibilang, aku menonjol dibidang akademik tapi aku tidak memiliki kemampuan hardskill pada masa SMA. Benar-benar masa keambisiusanku 2011 – 2014. Apalagi keambisiusan itu didukung dengan masa yang mendekati Ujian Nasional dan SNMPTN Undangan, ah sudahlah, rasanya untuk keluar rumah untuk sekadar beli pempek kesukaanku adalah suatu hal yang membuang-buang waktu. Tapi, aku berani bersumpah, sejujurnya saja aku tidak ingin membiarkan itu terjadi jika aku tahu betapa pentingnya organisasi disamping belajar dan mengejar prestasi akademik.

            Kurang bergaul? Hhmm… apa mungkin inilah yang menjadi sebab aku berkepribadian Introvert. Aku tidak pernah mengikuti test kepribadian pada saat SMA. Namun, aku bisa merasakan saat aku sedang bersama dengan teman-teman yang bukan menjadi sahabat-sahabatku. Energy di dalam tubuhku serasa lebih cepat habis. Rasanya baru kumpul dua jam dengan mereka tubuhku seperti kekurangan cairan tubuh dan maka dari itu saat kumpul bersama mereka aku selalu membawa Pocari Sweat, wkwkwk. Tapi, seriously memang ini sering terjadi pada saat masa-masa SMA. Aku kurang bisa berkomunikasi dengan baik dengan semua orang, hanya orang-orang tertentu saja. Aku hanya ingin bergaul dengan sahabat-sahabatku yang tersebar diberbagai kelas, karena karakter teman-teman kelasku kurang bisa aku terima. Dengan alasan aku seorang introvert aku membenarkannya. Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Aku yang dulu adalah seorang gadis peringkat kelas yang kurang percaya  diri, tukang galau, dan kurang bisa bergaul dengan baik. Di kelas saja aku hanya akrab dengan beberapa orang saja. Sisanya aku hanya berteman biasa dan hanya akrab kalau sudah ada tugas kelompok dan setelah itu biasa-biasa saja. Malahan, ada teman sebelahku kelas XII IPA 1 yang tidak mengenal diriku dan mengira bahwa diriku itu anak baru. What?!?!?!? What the f*ck hahaha. Sepertinya peringkat pertamaku di kelas ini useless. Aku tidak dikenal orang huhuhu sedih. Aku menyadarinya sepenuhnya. Tapi apalah daya, aku terus menyalahkan diriku sendiri karena kemampuan komunikasiku kurang baik? Oh tidak! Aku bukan tipe orang yang suka menyalahkan  diri terus menerus. Mungkin aku dilahirkan sebagai orang yang introvert tapi aku sangat berharap suatu saat nanti aku bisa menjadi seorang yang ekstrovert, supaya lebih bisa bergaul dengan orang, berkomunikasi dengan baik, dan bisa dikenal orang hehehe. Okelah, aku akui saja dengan legowo, aku adalah seorang cupu level 2 dari skala 5. Bhaaak!

            Cemewew? Gebetan? Doi? Pria idaman? Pacar? Calon suami? Ah… kata-kata apa itu?  Sepertinya aku baru mengenalnya dan baru melihat dari kamus bahasa Indonesia untuk menghindari kesalahan tafsir. Inilah bagian yang ingin aku bahas lebih dalam pada cerita kali ini…..

            Aku pernah membayangkan pada saat SMA aku akan bisa berpasangan (bukan pasangan kelompok, bukan partner presentasi, dan bukan partner in crime) dengan seorang laki-laki yang pintar, pengertian, dan wajah yang enak dipandang (nggak jelek dan nggak ganteng intinya kalau dilihat nggak bikin nafsu makan berkurang). Aku menunggu kurang lebih dua tahun, ternyata semua ini hanyalah angan belaka, bahakakak! Tapi terus terang saja, keinginan untuk berpacaran ada namun tidak sebesar pada saat keinginanku untuk terus mendapat peringkat kelas, iya, sudah aku bilang kan, aku adalah seorang yang memiliki ambisi. Terkadang aku tidak memikirkan bagaimana perasaanku sendiri termasuk perasaanku untuk menyukai lawan jenis, padahal itu kan hal yang wajar untuk umur tujuh belas tahun. Malahan jika aku sedang menyukai seseorang, hati ini langsung menstimulasi otak untuk melakukan pengereman agar aku tidak kebablasan menyukai orang tersebut dan akhirnya lupa belajar, lupa mengerjakan tugas, prestasiku melorot, tidak mendapatkan peringkat, dan akhirnya tidak mendapatkan jalur SNMPTN. Oh no!!! Aku tidak mudah melepaskan apa yang sudah aku inginkan dan aku anggap sebagai hal yang penting. Belajar dan mendapat peringkat. Sampai segitukah hatiku sehingga aku harus mengalah pada perasaanku sendiri demi mengejar ambisiku? Jawabannya iya. Tapi aku ikhlas dan aku tidak lelah kok. Toh, ini demi orangtua dan demi keluargaku, demi mengangkat derajat keluargaku. Untuk apa berpacaran jika efeknya tidak baik dan akhirnya akan menjatuhkanku sehingga membuat orangtuaku kecewa padaku? Namun, jika berpacaran tidak membuat efek buruk? Gimana? Ah… Nggak tahu!!

            Aku juga tidak mudah dekat dengan seorang lelaki pada masa-masa SMA. Yang menjadi teman dekat menurutku dia memiliki kesamaan pemikiran denganku, bukan pemodus, bukan seorang picky (yang sifatnya eksis, gahol, and tajir gelaaa), dan pastinya dia tahu sifatku. Teman laki-laki yang aku  dekat di kelas adalah Timothy, Rendy, dan Ibas. Sisanya? Akan menjadi teman dekat jika ada tugas kelompok dan presentasi. Hhmm seperti inikah diriku yang sesungguhnya? Padahal berteman itu seharusnya pada siapa saja. Mungkin inilah yang dinamakan krisis pertemanan dan krisis relasi. Mungkin itulah penyebab kedua aku belum berpacaran dan malas berpacaran hingga telah menginjak kelas dua SMA.  Teman pun bisa  dibilang masih belum banyak. Tapi, apakah jika ingin berpacaran butuh teman banyak? Temanku saja bisa berpacaran tapi  dia seorang yang pendiam? Bagaimana dia bisa sedangkan aku tidak?

            Tidak ada rasa keagresifan pada diriku. Aku tidak ngebet pada seorang laki-laki. Rasa untuk bisa berpacaran memang pernah ada, tapi itu jauh lebih kecil rasa untuk bisa tembus ITB, pelangi baruku yang siap menghiasi langit masa depanku…

            Galak. Penyebab ke 3. Aku dicap sebagai cewek yang galak. Hal itulah yang membuat aku malas berpacaran dan akhirnya mengantarkanku pada intensitas jomblo yang cukup tinggi. Tapi meski begitu aku sangat menikmatinya, menikmati disetiap sela sela kesendirianku. Tapi aku suka membuatku rishi adalah saat ibuku menanyakan “pacar” kepadaku. Aku kaget banget, sumpaaah! Apa-apaan ibu ini? “Kamu udah punya pacar, ya?” Zzzzzz Tuhan, bantu aku menjawabnya…

           

            Tuhan Maha Adil… Seriously, God is fair. No doubt on him, just be patient because your patience will make you to be a better woman.

            Jika cinta itu indah, ambillah keindahan itu. Yang aku tahu cinta itu memberikan  spirit dan jika cinta itu membuatmu berdosa bukan cinta namanya…

 

            Bulan Ramadhan yang (indah)…

            Bulan Agustus 2013, tepat aku menginjak kelas 12 SMA. Aku adalah anak rohis (kerohanian islam) di sekolah. Karena sekarang lagi bulan puasa dan tradisi pesantren Ramadhan atau yang biasa disebut pesantren gledek masih ada , jadi ya sebagai anggota rohis harus melaksanakan acara ini. Seperti biasa setiap hari kita mengundang pembicara, tapi untuk hari ini aku tidak tahu siapa yang akan mengisi acara ini karena aku bukan anak acara (alesan aja, padahal emang nggak tahu). Ya sudahlah, bagianku kali ini adalah sebagai penertib saja yang kerjanya menegur anak-anak yang berisik. Aku duduk di paling belakang bersama dengan panitia yang lain menunggu siapa pembicara kali ini. Ah sial… Suara mcnya kecil banget.. Samar, semu.

            “Ganteng banget, ganteng banget…”. Suara teman disebelahku bikin aku langsung nengok ke  depan, ke arah pembicaranya. Mungkin jarakku dengannya yang jauh membuat mataku harus bekerja keras memfokuskan pada wajahnya yang terlihat sedikit semu dan samar.  Oh ini toh pembicaranya… Subhanallah… Hahaha Inikah surga dunia, ya Tuhan? Mungkin kalau ada orang seperti ini yang melamarku, maka pernikahannya akan dilaksanakan di akhirat, bhaakk!

            Namanya Zafran, Teknik Sipil ITB 2010. Dia adalah mantan ketua rohis di sekolahku. Menunduk diantara belasan wanita muslim pada saat briefing acara mentoring. Entahlah, menunduk karena sedang memainkan ponselnya, berzikir, grogi karena harus berhadapan dengan banyak akhwat atau dia satu ruangan dengan mantannya waktu SMA? Entah lah…

            Aku mencoba menatap Kak Zafran, kini dengan kepala terangkat kemudian menunduk kembali. Teman disamping berbisik kepadaku sambil mengatakan “Ya Allah, subhanallah banget ya, nunduk terus…” Aku Cuma menimpali dengan kata-kata “iya ya, subhanallah banget…”

            Diam-diam aku terus membenarkan perkataan Viana. Apa? Dia di I-T-B? Wah… Setelah briefing selesai aku masih terus mengingat-ingat wajah  Kak Zafran. Perawakan dengan tinggi yang tidak terlalu semampai namun dengan charisma yang luar biasa. Wajahnya putih bersih dan cara berpakaian yang rapih. Apa semua orang-orang di ITB bergaya  seperti Kak Zafran?

            Ya Tuhan… apakah ketika aku menatapnya diam-diam adalah perbuatan dosa? Tapi kan aku Cuma mengamatinya saja. Ah, tidak! Aku sedikit mengamatinya secara lekat-lekat. Cukup lama sih… Tapi kan dia nggak tahu kalau aku dari tadi terus menatapnya? Apakah aku tetap berdosa? Apakah aku menatap Kak Zafran karena dia membawa nama ITB? Tidak juga! Aku akui wajahnya telah memikat diriku. Aaaaaa… Tidak tidak boleh. Kenapa tidak  boleh? Kalau suatu saat nanti kamu bertemu dengannya kembali di ITB, apakah kamu akan menghindarinya?

            Sekarang aku tahu, dibalik wajahnya yang semu tersimpan keindahan. Tapi… jangan biarkan aku berdosa karena terus menatapnya, Ya Tuhan…

 

           

 

  • view 130