Memilih Warna Pelangi Itu Tidak Mudah, Ya Tuhan…

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Memilih Warna Pelangi Itu Tidak Mudah, Ya Tuhan…

            Semua keinginan dan mimpi-mimpi yang sudah ada sejak aku SD dan SMP masih terus berjalan. Menjadi dosen dan guru adalah cita-cita awalku sejak tahu tentang apa itu cita-cita. Menjadi seorang dosen terdorong karena Pak Likku seorang dosen di Universitas Jendral Soedirman. Waktu itu aku baru melihat wajahnya sekali tapi bapak sering sekali menceritakan tentang Pak Likku yang bernama Gatot Heri Sudibyo itu. Pak lik seorang dosen yang baik, rendah hati, dan sopan. Yang aku ingat dari Pak Lik ini adalah ketika pak lik disuruh bapak membopong kasur untuk dibawa ke rumah sakit. Dengan sigap pak likku ini membopong kasur lipat dengan tubuhnya yang kecil. Duh, pak dosen…

 

            Apakah cita-cita dan impian itu sama? Apakah ada batasan dalam bermimpi? Apakah mimpi dapat berubah seketika? Apakah impian besar akan membuat diriku berubah? Apakah aku salah saat aku bermimpi besar?

 

            Pelangi itu indah. Namun bagiku, pelangi akan lebih indah jika aku bisa melihatnya bersama orang-orang yang aku sayangi. Inilah analogi ketika aku bisa berbagi dengan orang-orang sekitarku terutama keluargaku. Ketika aku mencapai sebuah kesuksesan− kesuksesan ini seperti pelangi yang indah dan aku bisa bahagia jika melihat pelangi tergambar jelas di langit−aku bisa memberikannya untuk orang-orang yang aku sayangi−keluargaku. Ibu, bapak, dan adikku. Namun, sebelum pelangi itu ada di langit, haruslah ada hujan atau gerimis agar warna-warna itu bisa terbiaskan, sama halnya ketika aku akan  mencapai sebuah kesuksesan, butuh impian yang sebagai pemicunya. Aku sudah lakukan itu, berarti aku tinggal menunggu pelangi itu muncul. Aku tidak tahu sampai berapa lama aku menunggu. Apakah aku harus menunggu dengan cara diam? Oh tidak, aku tidak akan menemui pelangi itu jika aku hanya diam di tempat. Aku mengharapkan adanya pelangi disaat langit sedang terang benderang. Sulit.

 

            Masa-masa usia tujuh belasan adalah masa yang paling menyenangkan. Bagiku, menyenangkan disini karena aku bisa memilih apa yang aku suka dan aku akan terima suatu saat nanti. Masa kelas dua SMA adalah masa yang paling penuh dilemma bagiku. Saat kawan-kawanku masih belum gundah untuk menentukan pilihan aku sudah curi start untuk bergalau ria. Namun, aku sedikit terhibur karena tiga semester berturut-turut aku mendapat peringkat satu di kelas. Aku boleh sedikit bangga karena aku bisa sekolah di SMA nomor satu di kotaku. Alhamdulillah… Namun, tetap saja.  Bagiku, peringkat kelas bukan menjadi jaminan sepenuhnya untuk bisa melepas  kegalauan karena “Seleksi SNMPTN”.

            Ya, pada sekitar satu tahun yang lalu hatiku seperti keras untuk mengikuti seleksi masuk STAN. Bahkan aku berniat untuk tidak mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi via undangan (SNMPTN). Aku sudah membulatkan tekad untuk meraih kesuksesan itu dengan bekerja di Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan bersekolah di STAN, awalnya. Namun, aku sudah menentukan pelangi itu. Aku sudah tidak memutuskan untuk meraih pelangiku yang lama. Banyak pertimbangan, banyak masukan, banyak nasihat, dan banyak suruhan. Kebimbanganku luar biasa. Melawan hati atau mengikutinya?

            Semester empat dan lima aku kembali meraih peringkat satu di kelas. Aku merasakan kenyamanan sesaat ini. Entah kenapa aku secara pelan-pelan ingin melepaskan pelangi lamaku, STAN. Sepertinya aku terjebak dalam safe zone. Aku selalu bertanya pada ibu dan bapakku tentang dunia perkuliahan. Bapak dan ibuku bukan tipe orangtua yang suka memaksakan kehendak anaknya, walaupun mereka tahu aku adalah seseorang yang keras kepala. Mungkin karena alasan itu mereka tidak berani untuk memaksa dan mengatur hal ini padaku. Aku akan berontak ketika keinginanku dikekang dan dicegah. BERONTAK. Namun, aku ingat bapak pernah memberiku saran agar aku melanjutkan kuliah di dunia teknik. Aku tidak suka teknik, aku tidak suka fisika dan aku menyadari bahwa aku sangat lemah dalam mata pelajaran fisika. Tapi, bapak tidak banyak membahas tentang “teknik” itu lagi. Mungkin bapak takut hal yang serupa terjadi pada anaknya sendiri. Ya, bapak juga sempat berontak kepada ibunya karena keinginannya dikekang oleh ibunya. Aku sama seperti bapak, berwatak keras jika sudah menyangkut pilihan. Aku bertanya kepada ibu. Ibu selalu menjawab terserah kamu, terserah kamu, dan terserah kamu. Sebenarnya serba salah juga jika orang tua mengatakan terserah kamu, karena aku khawatir ibu tidak meridhoi pilihanku. Semakin bimbanglah diriku.

            Tidak cukup sampai orangtua, aku bertanya pada bulik dan pak likku. Buk wik dan Pak di. Mereka adalah bibi dan pamanku yang paling baik dan bersedia membantuku. Dalam hal ini aku meminta bantuan mereka dalam bentuk saran mengenai pilihan. Pak di pernah berbicara kepadaku untuk  melanjutkan ke STAN. Waktu itu sangat tertarik dengan segala macam keuntungan jika aku bisa bersekolah di STAN. Pastinya, aku segera melihat pelangi itu di masa depan jika aku berada di STAN dan kemudian lulus. Pelangi itu akan muncul karena hujan akan segera reda. Impianku menuntunku  untuk segera meraih pelangi. Namun, pelangi sangat berbagai macam warnanya, merah jingga kuning hijau biru ungu. Kesuksesan itu bisa datang jika aku bisa kuliah di STAN atau di tempat lain. Tapi aku masih belum tahu maksud dari “tempat lain”.

            Semakin hari, aku semakin menyadari mengapa aku mulai melepaskan pelangi lamaku. Aku sudah berada  dalam zona nyaman yang akhirnya aku mulai tahu sebuah peluang. Ya, peluang masuk perguruan tinggi. Saat nilai semester tiga, empat, dan limaku sudah keluar aku tahu bahwa aku peringkat dua belas di sekolah. Ranking totalnya. Jujur saja, aku tersugesti dengan guru-guru Bimbingan Konselingku. Ucapan mereka mengarahkanku. Aku tahu niat baik mereka ingin aku yang memiliki peluang untuk masuk perguruan tinggi ternama di Indonesia, ITB bisa tercapai. Aku seketika  menginginkan peluang itu. Aku melihat dan membandingkan nilai semester tiga sampai empat kakak-kakak kelas yang bisa tembus ITB. Wow, orang-orang keren, pikirku waktu itu. Kenapa tidak aku coba saja jika itu memang peluang terbaik? Peluang terbaik itu kan bernilai satu?

            Mencermati setiap naik turunnya nilai. Aku melihat kefluktuatifan nilai-nilai mereka. Tapi ada kok yang bisa tembus ITB. Luar biasa. Aku mulai menyadari bahwa kakak-kakak kelasku yang masuk ITB merupakan siswa-siswa  dua puluh besar di sekolah dan aku peringkat 12 di sekolah. Ada  peluang ternyata. Ah… Aku jadi tertantang untuk mencoba memutar stirku dari STAN menjadi ITB. Okey, aku akan memikirkan kembali fakultas yang akan aku ambil. Sekolah Farmasi atau Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan. Jika dilihat dari nilai raporku tiga semester berturut-turut aku memiliki peluang untuk diterima di ITB dan aku merasakan kenyamanan saat aku belajar kimia dan biologi. Mungkin aku merasakan kenyamanan itu karena aku lebih mudah paham dibandingkan dengan matematika dan fisika.

            Sekolah Farmasi ITB, jurusan yang serupa dengan sahabatku, Atu. Dia diterima di Sekolah Farmasi ITB 2013. Sekolahku hanya mendapatkan satu  jatah Sekolah Farmasi. Semoga saja jatah itu jatuh ke tanganku. Bismillah… Nonik Ristiawati asal  SMAN 1 Kota Serang sedang berkuliah di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Waaaaah.. membayangkannya saja aku sudah mulai senang dan pastinya orangtuaku sangat senang karena anak pertama mereka bisa diterima di salah satu perguruan tinggi ternama. Aku juga ikut senang. Aku perlahan-lahan bisa mengubur cita-citaku untuk sekolah di STAN. Say goodbye to STAN :”)

            Banyak alasan ketika aku memutuskan untuk ITB. Banyak sekali. Jujur saja aku sulit menerangkannya. Hal ini mengenai kebahagiaan orangtua, peluang, sugesti, dan gengsi. Aku yang keras kepala ternyata bisa luluh dan tak bisa mempertahankan pelangi itu sampai aku bisa melihat pelangi itu di langit masa depan. Tapi, aku sangat menyayangi orangtuaku. Aku ingin membuat mereka tersenyum bangga andaikan aku bisa diterima di ITB. Berat memang, tapi semoga keputusan ini tidak salah. Aku yakin, dibalik peluang, pengorbanan, dan gengsi itu akan bisa dipertanggungjawabkan oleh diriku sendiri.

            Baiklah, pelangi baruku menggantikan pelangiku yang lama. Aku berharap yang terbaik, semoga Tuhan mengizinkan pelangi baru terlukis indah di langit masa depan. Aku tahu Tuhan mengerti betapa sulit aku memilih warna pelangi itu…

 

 

 

 

(to be continued in Wajah Semu Paling Indah)  

 

  • view 149