Salahkah Mimpiku Ini, Ya Tuhan?

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Salahkah Mimpiku Ini, Ya Tuhan?

            Bagiku dunia ini seperti lahan yang siap untuk ditanamkan berbagai macam tanaman. Ya, aku hidup semakin dewasa semakin memiliki mimpi dan cita-cita yang tinggi. Terbang setinggi-tingginya ke angkasa. Mungkin hal itu dikarenakan sejak kecil aku memang senang sekali bermimpi dan berani menaruh harapan pada suatu masa yang dinamakan masa depan. Sejak kecil aku sering berani mengatakan kepada kedua orangtuaku untuk bercita-cita menjadi seorang dosen dan guru. Bagiku dahulu, dosen adalah guru yang mengajar murid-murid yang sudah besar, entahlah, aku dulu tidak tahu istilah mahasiswa ataupun istilah dunia perkampusan. Usia semakin bertambah, pemikiran pun berubah, pola pikir mulai terbentuk saat SMA. Masa-masa SMP sengaja aku tidak kuceritakan karena mimpiku masih belum berubah dan masih merasa dalam zona nyamanku bersama semua mimpi-mimpi yang melekat di kepala dan imajinasiku. Masa SMP aku manfaatkan untuk belajar dengan rajin, aku maksimal selalu mendapat peringkat di kelas, bahkan waktu itu aku sempat memperoleh peringkat pertama saat Try Out II, dan masa SMP aku manfaatkan aku untuk membuka hatiku untuk menyimpan rasa pada kakak kelas yang masih saudara dengan sahabatku, dan itulah salah satu penyemangatku, hahaha. Saat aku masuk pada masa-masa SMA, pikiranku berubah. Aku ingin aku yang dahulu selalu belajar hal-hal yang berbau IPA (Matematika, biologi, fisika, kimia) menjadi aku yang ingin mencoba hal baru dan membuatku penasaran. Ya, aku menyukai dunia finansial dan selling.  Intinya, dunia ke’berduit’an sih. Tapi maaf, uang memang penting, tapi tidak semua hal bisa dibeli dengan uang, jiaahh contohnya saja kasih sayang. Awalnya aku bingung darimana semua pemikiran ini terjadi, setelah aku berpikir dan mencari-cari penyebabnya, ternyata aku sedang jatuh cinta dengan suatu sekolah tinggi ikatan dinas sector akuntasi Negara, yups namanya STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Bapakku sering menceritakan kampus STAN, mulai dari ada saudara bapak yang kuliah di STAN, biaya sekolah yang digratiskan, sampai dengan jaminan bahwa kelak setelah lulus dari kampus ini akan langsung bekerja di pemerintah (Kementerian Keuangan yang dulu aku pikirkan). Bagiku, itu sangatlah menggiurkan. Bagaimana tidak? Jalan pikiranku terus menerawang sampai biaya kuliah yang akan aku gelontorkan. Bagaimana bapak dan ibu akan pontang panting cari pinjaman uang kesana kemari demi aku bisa kuliah. Bagaimana jika aku tidak dapat melanjutkan pendidikan tinggi padahal sejak aku SDdan SMP sering mendapatkan juara kelas tiga besar. Kala itu aku ingat betul ketika aku baru masuk SMP. Ibuku sedang merekam adikku yang masih tiga tahun di sebuah tempat yang asing. Aku lalu bertanya kepada ibu, tempat apakah itu. Ibu menjawab itu tempat ibu pinjam uang tiga juta buat uang masuk sekolah kamu. Dalam hati aku sedih karena aku pikir  ibu bapakku yang sering tertawa di rumah memiliki kesejahteraan ekonomi. Ternyata tidak. Padahal bapak bekerja di sebuah perusahaan Jepang, ya, walaupun sebagai supir. Aku tetap bersyukur saja bapak masih bisa bekerja walaupun dengan gaji yang pas-pasan.

            STAN telah menggoda mimpiku. Aku berpikir melalui STAN aku dapat cepat menjadi orang yang kaya dan sukses. Pola pikirku dahulu mengatakan bahwa menjadi seorang dosen ataupun guru akan susah atau sedikit lama untuk menjadi orang yang kaya. Imajinasiku mulai bermain-main dengan arti kata “sukses” dan “kaya”. Kedua hal ini selalu aku kaitkan dengan kesejahteraan keluargaku yang sangat ingin aku bahagiakan. Aku baru menyadari bahwa aku berada dalam suatu kebimbangan finansial. Tapi setidaknya aku butuh satu tahun lagi untuk berpikir dan mematangkan keputusanku untuk tetap melanjutkan jejak kesuksesan dan menjadi orang kaya-karena lulusan STAN akan langsung cepat bekerja di pemerintahan, meski tidak tahu gajinya, aku menanggapnya hal ini menjadi highway untuk menjadi orang kaya-dan berani melepas mimpiku dahulu menjadi seorang guru dan dosen. Waktu itu aku masih kelas 10 SMA dan masih bisa memiliki kesempatan berubah pikiran kelak pada keputusan awalku dan godaan itu.

            Bagiku, wajarlah jika seseorang menginginkan sebuah kesuksesan dalam hidupnya. Sudah menjadi naluri bagi setiap insan di dunia ini. Bisa meraih kesuksesan, meski sukses tidak selamanya diartikan sebagai suatu keadaan dengan finansial yang sangat mencukupi, bahkan tidak akan habis sampai tujuh turunan. Sukses juga tidak selama diartikan dapat menguasai dunia dalam hal perekonomian, kepemimpinan, dan hal lainnya. Bagiku, kesuksesan itu akan berbanding lurus dengan manfaatnya terhadap orang lain. Seperti Pak Victor Asih bilang dan masih selalu aku ingat, “Orang kaya belum tentu sukses, tapi orang sukses sudah pasti kaya.” Orang sukses biasanya memiliki ekonomi yang pas-pasan, pas beli rumah, ada, pas beli mobil Pajero, ada, pas beli motor Harley Davidson, ada hehehe itulah kata-kata beliau saat aku masih jadi mahasiswa USB Sekolah Bisnis Gratis milik beliau.

            Aku pun ingin mencapai kesuksesan itu dengan caraku sendiri. Aku ingin kesuksesan itu datang padaku dengan lebih cepat dan dengan perjuangan yang luar biasa, karena aku percaya kesuksesan yang datang dari nol akan memberikan hasil yang lebih baik. Aku belajar banyak dari setiap kegagalan yang datang pada diriku, ya, orang sukses pasti pernah mengalami kegagalan. Itu adalah hal yang pasti.

            Waktu semakin berjalan. Masa-masa SMA menata pikiranku. Aku selalu bermimpi ingin menjadi seseorang yang sukses. Pada waktu itu aku selalu mengarahkan arti sukses dalam hal finansial untk mendapat tempat nomor satu. Lagi-lagi motivasi keluargalah yang menjadi penyebabnya. Aku adalah anak pertama dan aku adalah cucu pertama dari pihak keluarga ibu dan bapak. Sebenarnya aku tidak menjadikan status anak dan cucu pertama ini sebagai beban hidup, tapi aku sering merasa saja jika aku tidak jadi “orang” aku akan malu dan tidak bisa membuat bangga bapak dan ibu. Sudah tahulah, bapakku hanya seorang supir dan ibuku waktu itu belum jadi seorang PNS (masih guru honor). Keluargaku sering ada masalah dalam hal keuangan. Aku tidak mempunyai tabungan, begitu pula bapak dan ibuku. Kami hanya mengandalkan gaji bapak yang kadang tersisa sekian nominal karena harus melunasi hutang-hutang dan cicilan tiap bulannya. Ah… Aku sudah tidak kuat lagi menahan air mata ini kala ibuku menangis karena waktu itu ada masalah keuangan dan masalah ketidakjelasan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil. Waktu itu aku masih kelas 3 SMP. Aku memutuskan diam-diam untuk bernazar puasa selama satu bulan supaya Allah memudahkan ibuku menjadi seorang PNS agar dapat membantu perekonomian bapak yang sebentar lagi akan pensiun. Ah… kalau urusan keluarga aku mudah sekali menangis. Tapi aku selalu berdo’a, aku bisa menjadi seorang anak yang berguna dan bisa memperbaiki perekonomian keluargaku dan itulah aku ingin menjadi seorang yang sukses dalam hal finansial, “Kebebasan Finansial untuk Keluargaku”…

            Tapi, apakah mimpiku itu salah, ya Tuhan? Aku memang seorang yang biasa-biasa saja. Aku hanya seorang gadis yang keras kepala, terkadang membuat bapak dan ibu jengkel karena ulahku, dan kurang merawat diri. Tapi dibalik itu semua aku memiliki suatu kekuatan dalam diri. Aku akan berusaha mengatasi kekurangan-kekuranganku dengan kekuatan-kekuatan yang aku miliki. Aku masih berani bermimpi besar, mau kerja keras, dan sangat menyayangi keluargaku karena merekalah aku ingin sekali mencapai “kesuksesan finansialku”… 

 

 

(to be continued in Memilih Warna Pelangi Itu Tidak Mudah, Ya Tuhan…)

 

  • view 231