Efek Samping Ta’aruf (Part II)

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Efek Samping Ta’aruf (Part II)

Padahal peristiwa ta’aruf itu udah seminggu yang lalu, tapi kenapa efek sampingnya masih ada juga? Padahal gue udah pake dosis yang tepat, gue menganggap ta’aruf adalah jalan yang baik menuju sebuah perkenalan yang InsyaAllah jika berjodoh akan berakhir pada suatu pernikahan. Udah itu aja. Dosis gue nggak berlebih. Artinya ada efficacy nya. Iyuuuhh apaan tuh?

Gue udah tahu sih kata-kata ta’aruf udah cukup lama, tepatnya saat gue TK yang waktu itu gue sempat jatuh hati pada teman TK gue yang cukup ganteng (baca=kegantengannya hanya bertahan sampai waktu TK saja, setelah TK menjadi sangat ganteng, *eh becanda gue) dan setelah masing-masing orang tua kami tahu, mereka ingin menjodohkan kita saat usia kita udah 20 tahun. Hahaha nggak ding, kayak film naon ceunah? Wkwkwkzzz.

Kalo ngomongin ta’aruf, gue jadi inget om gue yang sebulan yang lalu baru taken. Yaps, pastilah kalian kenal. Fedi Nuril. Gue sempet shock banget saat om gue itu taken tanpa izin dulu ke keponakannya L Gue dapet kabar ini dari temen jurusan gue saat itu gue lagi makan siang di kantin Salman ITB.

“Eh, tau nggak Fedi Nuril udah nikah?” Kata Mela, temen gue yang nggak mau diperlihatkan wajahnya dan nama aslinya.

“Eh seriussssssss?” Tiba-tiba gue ingin tersedak (macem di sinteron kalo pemeran utamanya dapet kabar buruk)

“Iya, ini lihat deh. Tuh… Eh katanya, Fedi ta’arufan loh sama istrinya?”

“Oh iya? Istrinya cantik juga ya…” Akhirnya gue mengakui kenyataan bahwa om Fedi sudah jadi istri sah dari tante Vanny. Huaaaaa :””(

Malemnya, gue langsung ngepoin abis-abisan Fedi Nuril. Lewat instagramnya sih yang penting, karena biasanya dia suka post foto terupdatenya. Wow, bener aja. Dia memang sudah bener-bener MENIKAH dengan perempuan Jawa. Lah lah lah, gue nemuin ada foto Raline Shah berdiri diantara Fedi Nuril dan istrinya dari akun instagram fansnya Fedi Nuril – Raline Shah, Kemal (Kepo Maksimal) banget gue sumpah. Raline berdiri sambil senyum lepas dan bahagia. Kalau gue boleh berpendapat, yang lebih cocok jadi pengantinnya sih Raline – Fedi. Gini nih, efek nonton 5 CMnya Genta dan Riani masih belum lepas wkwkwkwk. Banyak juga komentar yang sepemikiran dengan gue. Ah… mungkin mereka korban film 5 CM yang nggak rela Genta putus dari Riani. Titik.

Okey…

Entah kenapa ya, semakin gue dewasa gue semakin memperdulikan masa depan gue. Ya, you know me so well lah. I am sure you understand What I talk about. Ya, memang. Gue sekarang sudah mengubah pola pikir gue. Tidak akan menunda-nunda pernikahan. Sama halnya seperti menunda-nunda berbuka puasa. Berbuka puasa harus disegerakan, toh?? Nah…

Karir.

Sebenernya gue nggak terlalu mengkhawatirkan karir sih. Bukan karena banyak yang bilang alumni ITB itu akan langsung dapet kerja atau apa, bukan, bukan itu yang gue maksud. InsyaAllah gue akan bekerja setelah lulus nanti dan InsyaAllah akan buka usaha jika modal yang gue kumpulkan itu sudah mencukupi. Gue agak memikirkan aja setelah menikah karir gue nanti bakal kayak gimana, apalagi kalau udah punya anak. Yah… kalau boleh bilang sih, gue lebih berat ke anak dibanding karir. Gue bisa aja keluar dari perusahaan dan buka usaha di bidang kuliner ataupun farmasi. Yang penting anak gue bisa gue tumbuh dengan baik tanpa bantuan dari baby sitter. Just it.

Duh, obralan kali ini serius banget ya, btw. Wkwkwk.

Ya begitulah… Di balik cengengesannya gue, di balik kebandelan yang gue miliki, dan ketawa ketiwi kalo udah ada temen gue yang gile gile, gue adalah seorang wanita pemikir sesungguhnya. Gue seorang koleris menurut hasil tes dan pengamatan beberapa orang, tapi gue merasakan kalo gue juga memiliki sifat melankolis. Yapp, gue seorang semi koleris-melankolis. Kenapa bilang koleris-melankolis? Gue rasa sifat yang gue miliki ini akan mempengaruhi cara gue mengambil keputusan. Gue seorang yang memiliki watak yang keras kepala. Yaaa, gue bandel, yaaa. Tapi gue menyadari semuanya itu, keras kepala atau apapun itu yang bersifat negative gue mempunyai sifat yang gue rasa ini sangat penting dimiliki oleh seorang wanita. Setia dan penyayang keluarga. Gue memang terlihat tegar ketika gue dapat masalah atas kelakuan gue seperti ini. Gue memang terlihat jarang menangis, tapi saat gue kangen sama keluarga gue dan ketika melihat perjuangan ibu bapak gue menghidupi keluarga ini gue suka nangis sendiri tanpa mereka tahu.

Ibu…

Maafkan anakmu ini yang sudah mulai memikirkan tentang ‘pernikahan dan keluarga’. Nonik emang sudah dewasa dan pantas memikirkan hal itu.

Maafkan anakmu ini yang sudah mulai memantaskan diri, belajar mencapai menjadi seorang wanita yang baik untuk ibu untuk anak-anakku kelak dan istri dari suamiku kelak.

Ibu…

Maafkan anakmu yang sudah berani menyukai sesosok laki-laki yang sifatnya agak berbeda denganku.

Maafkan anakmu yang sudah mencintai diam-diam seorang laki-laki yang baru dikenal sekitar dua bulan yang lalu.

Ibu…

Do’akan saja yang terbaik untuk diriku. Nonik minta do’a untuk semua kelancaran kuliah, bermuhasabah, memantaskan diri, bertanggung jawab terhadap studi, dan tugas-tugasku.

Anakmu perempuan satu-satunya yang keras kepala, yang bandel, suka bolos, cuek, mudah menangis karenamu, dan sangat mencintaimu ini sedang berusaha untuk apa yang sedang dicapainya di sini, di Bandung, di ITB….

  • view 145