Berdamai Dengan Diri

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Berdamai Dengan Diri

 

Bahkan untuk melerai antara keinginan dan keadaan sulitnya luar biasa. Sedikit sensitif dengan kata 'perdamaian'. Damai dengan diri sendiri yang bergesekan dengan kehidupan empiris rasanya...

Ah, sudahlah. Mungkin ku dulu hanya menuruti gengsiku yang cukup tinggi hingga kuabaikan apa yang menjadi kekuatanku dan kini sudah terlanjur terperangkap dalam lubang yang mudah mudahan diridhai Tuhan. Lubang yang membawaku bisa 'melupakan' sejenak tentangnya. Lubang yang menjadi pondok belajarku untuk lebih siap menghadapi dunia ini. Lubang yang menjadi jembatan agar aku terus bisa dipertemukan dengan orang-orang hebat dan inspiratif di dalamnya.
Menyesal? Masih berbekas. Bersyukur? Sangat. Andai ada mesin waktu, apakah kau akan masuk dan mengikuti permainannya? Aku tidak tahu. Yang aku tahu semua skenario Tuhan adalah yang terbaik untuk hamba hambanya. Lalu, jika kau tahu itu mengapa kau masih menyesalinya? Aku hanya ingin menjadi apa yang aku mau sejak dulu. Kenapa kau memilih untuk berada disini? Karena aku menghitung peluang keberuntungan itu. Ya! Kau beruntung bisa berada di sini! Kau orang beruntung dan kau merasa merugi dengan pemberian ini....

Ya benar... Namun, rasanya sulit sekali menjumpai titik temu disaat ingin berdamai dengan diri ini. Terkadang ada rasa penyesalan terhadap sesuatu yang sudah diri ini putuskan dan rasa ingin lari dari kenyataan terus timbul. Ada kalanya diri ini selalu berpikir bahwa ketika tidak ada rasa semangat ketika mengerjakan sesuatu adalah kesalahan dalam menentukan pilihan yang akhirnya menuntun diri ini menjadi seorang pribadi yang tidak lapang dada menerima skenario Tuhan.

Di saat diri ini dihadapi oleh sesuatu yang kita sukai, diri ini sangat enerjik, semangat, maksimal, dan penuh strategi. Namun, apakah sesungguhnya itu? Diri ini sudah terjebak dalam lingkar pendidikan terikat bidang keilmuan yang diri ini pun masih belum memiliki rasa ingin tahu lebih dalam. Diri ini sangat mencintai hal lain yang tidak termasuk ke dalamnya. Terkadang diri ini berpikir bahwa dua tahun yang lalu dan yang akan datang akan menjadi waktu yang sia sia karena diri ini belum bisa ikhlas menerima skenario Tuhan.

Ikhlas. Sedang belajar dengan kata itu. Sulit memang, tapi perlahan dan nikmati prosesnya. Jika waktu itu sudah tiba, diri ini akan meluncur lebih jauh, lebih enerjik, menebus waktu empat sampai lima tahun dengan penuh kebimbangan keraguan dan mencoba untuk bermetamorfosis menjadi diri ini yang sebenarnya. Sabar, 3 tahun lagi. Mungkin Tuhan sudah membuat skenario ini menjadi lebih indah dan sangat indah pastinya.

Berdamailah dengan dirimu sendiri, non. Berdamailah dengan skenario Tuhan... Dengan begitu kamu akan menjadi seorang manusia yang lebih dewasa.

  • view 139