Jangan Pernah Meminta Tuhan Mengubahnya

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Jangan Pernah Meminta Tuhan Mengubahnya

Tidak ada manusia yang sempurna. Begitupun juga diriku, sama sekali bukan seorang wanita sempurna. Tapi aku begitu banyak belajar dari apa yang namanya 'hidup'. Hidup memberikan apa artinya sebuah kenyataan dan potret dari setiap skenario Tuhan. Dari ketidaksempurnaan diriku dan hidupku aku belajar dari sempurnanya hidup pemberian Tuhan.
Hidup ini memang amatlah sederhana. Tinggal menerima dan menjalankan setiap detail dan perintah yang berikan Tuhan. Amatlah sederhana. Itu menyadarkanku bahwa Tuhan sangatlah sempurna mengatur dan menciptakan semua deret deret skenarionya. Semua amatlah begitu sempurna tanpa terkecuali. Mungkin diriku, sebagai pelakon belum memahami pesan tersirat dari sang pembuat skenario. Mungkin diriku belum menemukan ada satu hal tersembunyi, sebenarnya ini bukan rahasia, tapi mungkin sebagai pelakon, aku belum memahami naskah kehidupan itu. Aku baru sekedar menjalani, bukan mengambil dari setiap pesan tersembunyi dan tersirat dari naskah itu.

"Sutradara, apakah kau bisa memberikan penjelasan sedikit dengan kisah yang akan kujalani ini?"

"Hey.. kau tidak tahu alur cerita dan isi naskah itu?"

"Aku ragu, aku takut ini hanya persepsiku saja."

"Jangan jangan kau tidak tahu peran dan adegan yang akan kau mainkan?"

"Bukannya aku tidak tahu, tapi aku ragu dengan persepsi dan semua keyakinanku."

"Mengapa kau harus ragu? Mainkan apa yang sudah tertulis di naskah naskah itu. Mainkan peran mu. Jalankan semua adegan itu dengan seluruh kemampuanmu."

"...."

"Jika kau percaya dengan seluruh naskah itu. Percayalah. Naskah itu sudah jelas. Siapa pemeran dan adegan apa. Bahkan jika kau sudah baca naskah itu semuanya, kau tahu kan bagaimana cerita ini akan berakhir?"

"Aku sudah membaca semuanya. Ceritanya indah sekali, aku pun bisa merasakannya hingga terasa sampai ulu hatiku."

"Cerita ini memang sangat indah. Indah. Namun, ini semua bergantung pada jiwa pelakon itu sendiri. Jika dia yakin cerita ini akan bahagia, maka drama ini pun akan merasakan kebahagiaan itu. Jika dia yakin cerita ini akan berjalan sebaliknya, maka hasilnya juga sebaliknya."

"Baiklah. Aku akan mencoba memahami cerita ini sebelumnya."

"Jangan hanya dipahami. Jalankan dan mainkan cerita ini. Peran mu sangat penting disini."

"Ya, aku akan lakukan itu."

"Kau ingat sesuatu kah?"

"Apa itu?"

"Ingatkah saat pertama kalinya aku mengujimu?"

"Sangat ingat..."

"Saat itu kau tampak sangat antusias, bersemangat, matamu bersinar karena keinginanmu yang kuat untuk berada disini. Dari caramu itu, aku sangat ingin tahu lebih lanjut tentangmu.."

"Ya, aku sangat ingin tahu tentang drama ini."

"Ayolah. Kau pasti bisa memainkan drama ini. Jangan ragukan semua isinya. Sudah aku buatkan naskah yang indah dan pesan moral yang indah pula jika mau mengerti dan ikhlas menerima. Kau berada disini karena kemauanmu bukan? Kau yang ingin seperti ini bukan? Ayolah, ini peran terbaikmu, ini drama terbaik. Sama seperti hidup ini, non. Kau harus mainkan hidup pemberian sang Tuhan dengan ikhlas. Kau akan menemukan sesuatu yang tak tampak dari kasat mata. Kau akan temukan pesan tersirat itu dari mata hatimu. Memang tidak mudah. Tapi waktu masih sangat baik memberikannya untukmu agar kau lebih belajar banyak lagi. Jangan menyerah. Tapi jangan sekali kali kau mintaku untuk mengubah naskah drama ini. Ini sudah terlalu indah. Ada banyak benang kusut jika naskah itu diubah dari yang semestinya. Biarkan cerita itu mengalir indah diiringi lantunan musik kehidupan dan keikhlasan dari sangat pemeran. Biarkan dia bermuara ke jalan yang sudah semestinya. Jika kau bisa memainkan peran ini hingga tuntas, aku yakin, akan ada rasa kepuasan tersendiri. Kau bisa menerimanya, aku yakin itu.."

 

  • view 199