Lalu, Untuk Siapa Hati Ini Dilabuhkan?

Nonik Ristiawati
Karya Nonik Ristiawati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 April 2016
Lalu, Untuk Siapa Hati Ini Dilabuhkan?

            Jika ada istilah jatuh cinta, maka begitu hal pun dengan dengan istilah jatuh hati. Rasanya jatuh hati berhak untuk semua orang. Siapapun itu. Apakah itu berlaku pada jatuh cinta? Apakah aku boleh jatuh cinta kepada selain-Nya? Apakah aku boleh mencintai seorang manusia dan melabuhkan hatiku padanya? Kepada selain-Nya?

            Aku tahu Tuhan sudah memberikan insting ini kepada setiap manusia. Manusia, aku pun pasti pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Namun, jika aku mulai memutuskan untuk jatuh cinta kepadanya, aku berusaha untuk berbicara kepada Tuhan.

            Memang jatuh cinta kepada seseorang, kepada seorang laki-laki memerlukan waktu untuk membuatku yakin, apakah laki-laki tersebut pantas untuk dicintai.

            Tuhan…

            Aku rasa dia seorang laki-laki yang baik. Aku yakin aku tidak salah menaruh hati padanya. Aku yakin, aku bisa menahan dan menjaga pandanganku. Aku tahu, aku hanyalah seorang perempuan yang keras kepala, tidak mudah luluh, dan masih dalam masa pembelajaran untuk menjadi seorang wanita yang baik dari segi Islami. Jika aku boleh membandingkan diriku dengan dirinya, aku masih harus belajar dari sosoknya. Tapi aku tidak keberatan. Aku akan belajar sebaik mungkin, memantaskan diri, dan memperbaiki diriku yang keras kepala ini.

            Tuhan…

            Aku tahu, cinta adalah memberi tanpa mengharapkan balasan. Aku belum tahu aku sudah sampai pada tahapan mana. Yang jelas, aku sedang berusaha untuk memantaskan diri supaya aku lebih siap saja jika memang perasaan itu tidak berbalas. Toh, ini kan yang dinamakan dengan cinta? Aku sudah berusaha sebaik mungkin menaruh hatiku dan mencoba untuk tegar hati jika semua itu akan menyerang diriku suatu saat nanti. Aku belajar bagaimana mendapatkan rasa ikhlas itu. Aku juga belajar banyak darinya tentang keikhlasan dan tentang suatu ladang amal. Ya, mungkin keberadaannya di hidup menjadikannya sebagai ladang amal supaya aku berbenah diri. Dengan menaruh hati padanya, mungkin itu suatu jalan bagiku untuk lebih memantaskan diri. Aku merasakan hal itu.

            Tuhan…

            Apakah niatku ini sudah benar di matamu? Apakah niatku yang ingin berbenah diri masih karena dia?

            Tuhan…

            Maafkan diri ini yang masih lemah. Masih belum bisa meluruskan hati ini untuk berbenah diri karenamu. Mungkin skenariomu dengan jalan mempertemukan diriku dengan dirinya supaya aku bisa memantaskan diri suatu saat nanti aku bisa meluruskan hatiku sendiri agar semua ini hanya untuk-Mu.

            Tuhan…

            Jika memang skenariomu pada suatu waktu nanti menggariskan aku dan dia harus berpisah dan tidak akan pernah bertemu dengannya lagi, tolong sampaikanlah kepadanya bahwa aku telah belajar banyak darinya, telah mencuri semua kebaikannya selama ini. Aku menjadikan semua ini sebagai ladang amal bagiku untuk bisa berubah secara akhlak dan bisa menjadi perempuan keras kepala namun tetap berbakti pada suamiku kelak.

            Tuhan…

            Aku tahu, jika suatu saat hari nanti aku sudah pantas, namun suratan takdir menuliskan dia hanya jalan bagiku untuk berubah, bukan teman hidupku, memang rasanya sangat sakit. Tapi aku akan membuat sebuah tameng dalam diriku, dalam hatiku. Aku akan berusaha ikhlas meski aku harus belajar banyak dulu dengan kata ‘ikhlas’ itu sendiri.

  • view 203