Sebiji Kopi

Sebiji Kopi

NaNa Gracioso
Karya NaNa Gracioso Kategori Inspiratif
dipublikasikan 09 Januari 2018
Sebiji Kopi

                 Apa yang terlintas dipikiran kita ketika mendengar kata sebiji kopi? Mengapa sebiji kopi? Mengapa tidak sesendok kopi mengingat kebanyakan kopi sudah tersedia dalam bentuk bubuk. Disini kita akan membahas tentang proses dan rasa.

                 Bahwa untuk mendapatkan rasa yang nikmat, untuk memberi manfaat yang lebih banyak, kopi harus dihancurkan terlebih dahulu hingga benar – benar lebur. Bukan berarti ketika menjadi biji dia tak bisa bermanfaat, namun akan lebih banyak manfaat ketika telah dihancurkan menjadi bubuk. Penghancuran itu tidak selalu sebagai bentuk memusnahkan, namun bisa jadi itu justru cara pembentukan diri dengan memperhalusnya, menjadikan sesuatu yang lebih mudah menguapkan aroma kenikmatan ketika diseduh dan memaksimalkan manfaat yang bisa dia berikan.

                 Begitupun didalam sebuah kehidupan, terkadang untuk menjadi lebih baik, untuk menjadi lebih bermanfaat, kita harus ditempa dan dihancurkan dulu menjadi lebur seperti biji kopi, harus disiram dengan air panas dulu untuk membuat aromanya lebih menyengat.  Dan seperti apa bentuk penghancuran itu? Itu adalah ujian hidup yang mungkin sudah banyak kita lalui. Kadang kita berfikir “Kenapa aku yang diberi ujian seberat ini?” “Kenapa harus aku, kenapa bukan orang lain?” kita terus saja mempertanyakan dan menyalahkan, padahal kita tidak tahu maksud Tuhan menguji kita, seperti sebiji kopi yang harus melalui proses penghancuran dan penyeduhan dengan air panas dahulu untuk menjadi sesuatu yang nikmat.

                 Kadang Tuhan menciptakan kita seperti kopi yang sejak berbuah sampai jatuh rontok tetaplah menjadi buah yang pahit dan tidak akan berubah menjadi semanis gula. Namun pada kenyataannya kopi pahit justru bisa memberikan manfaat yang lebih banyak  dibandingkan gula yang manis. Bahkan kalau terlalu sering, manisnya gula justru akan menyebabkan timbulnya penyakit diabetes, dan penyakit lainnya. Begitupun hidup, jika yang kita rasakan selalu mudahnya dan manisnya saja mungkin bisa menimbulkan penyakit bagi jiwa kita, salah satunya adalah khufur dan lupa bersyukur karena tidak merasakan sulit dan beratnya sebuah perjuangan.

                 Kopi akan terasa pahit jika dikonsumsi begitu saja namun akan menjadi sesuatu yang begitu nikmat ketika dicampur dengan gula, creamer ataupun susu. Begitupun kehidupan yang tidak akan terasa manis jika berjalan mudah saja. Masalah, cobaan, dan air mata ibarat komposisi lain pelengkap kopi yang nantinya akan menjadikan kopi pahit itu menjadi begitu nikmat. Tanpa komposisi-komposisi itu yang bisa kita rasakan hanyalah pahitnya kopi, namun kadang kesulitan dan cobaan yang diberikan Tuhan justru menjadi pemanis cerita ketika peristiwa itu telah kita lalui dengan baik, dan akan lebih bersemangat untuk menceritakannya sebagai pengalaman menakjubkan daripada hidup yang berjalan biasa saja.

                 Jangan men-judge kopi selamanya pahit, karena untuk penikmat kopi seberapapun pahitnya kopi itu dia akan tetap bisa merasakan nikmat dan manisnya disetiap tegukan. Nah jadilah si penikmat kopi yang tetap bisa menemukan sisi manis dibalik rasa pahitnya kopi. Yang bisa menemukan banyak manfaat dan harumnya aroma dibalik sakitnya penghancuran dan panasnya air yang menyeduhnya.

                 Begitupun didalam kehidupan, jadilah seperti si penikmat kopi yang tetap bisa menemukan hikmah dibalik beratnya cobaan yang diamanatkan Tuhan untuk kita. Jadilah seperti penikmat kopi yang selalu punya cara untuk menikmati kopi pahitnya dengan cara yang akhirnya bisa membuat kopi itu terasa nikmat. Begitupun kita harus mempunyai cara menikmati cobaan yang diberikan Tuhan agar terasa manis dan indah. Karena seberat apapun cobaan jika kita bisa melewatinya dengan cara yang baik, dengan terus berpegang pada-Nya. Dan menggantungkan hasil dari usaha kita hanya pada-Nya, maka cobaan itu akan terasa ringan. Namun sebaliknya, sekecil apapun cobaan, apabila kita tak menemukan cara untuk mencari solusinya, tidak yakin akan peran-Nya dalam perumusan hasil terbaik untuk kita, maka selamanya kita akan terus merasa gelisah, merasa tidak punya pegangan, tak punya tempat untuk mengadu atau bahkan sekedar berbagi.

                 Yang harus kita yakini dari kopi tersebut adalah. Ketika penghancuran dan penyeduhan dengan air panas itu sesungguhnya bukan bermaksud memusnahkan, melainkan karena si pelaku meyakini adanya kenikmatan yang akan dia dapatkan jika melalui proses sulit itu. Begitupun Tuhan yang memberikan cobaan kepada kita, kesulitan dan perihnya cobaan yang kita rasakan sesungguhnya hanyalah sebuah proses karena Tuhan meyakini adanya kemanfaatan lebih dalam diri kita. Yang apabila kita berhasil melalui cobaan itu maka keadaan yang lebih baik, tempat yang lebih indah, derajat yang lebih tinggi tengah Tuhan rancang dengan menawan untuk kita singgahi.

                Jadilah sebiji kopi yang merasakan kerasnya proses dari sebuah biji tak berarti hingga menjadi sebuah sajian yang begitu diminati. Sehingga apa yang kau miliki bisa lebih kau hargai. Jadilah sebiji kopi yang leburnyapun dinanti. Bahwa ada hal-hal yang terkadang baru bisa kita nikmati setelah sakit dan kerasnya proses terlewati hingga berganti menjadi lebih berarti.

  • view 88