Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 30 September 2017   23:10 WIB
Kembalikan mimpi

KEMBALIKAN MIMPI
                        (Erlangga Manooj*)                                                  
Bayangan dapat dikeluarkan oleh pemikir sekelas Descartes mengenai “Io penso Peneisono”. Tetapi bukan berarti semuanya dapat dipahami seketika. Ketika telapak tangan kau balikan atau kau ubah sesuai kemauan. Melainkan apa diperlukan pikiran, sang aku yang dimaksud itu ada? Sejenak itu semuanya menjadikan pemikiranmu menjadi sebuah bongkahan buih. Terbang dan pecah karena tekanan udara menghimpit.
Menata intelektual dalam tempat yang khusus memang membarikan goresan yang berbeda sewaktu kecil. Seakan menuntun pada “kegilaan” namun semuanya diracik dengan pendidikan militer, menjadi motodenya. Diarahkan untuk menjadi pegganti Tuhan, katanya. Mungkin kata yang lebih tepat In persona Kristi. Saat itu harus memiliki pertimbangan yang selalu berjalan bersama pengalaman. Merajuk benang cinta kekanakan menjadi dewasa. Memahami makna yang terhambur dalam apa yang terpikirkan. Bagaikan memikul salib berukuran besar bagi anak seusia balita.
Setelah itu, menemukan nama Jimmy saat kelahiran tiba merupakan beban yang aku dapat dari setiap perjumpaan. Menemukan kemungkinan dalam perasan tekanan. Menjadi figure utama dalam pohon keluarga seakan memberi mimpi yang perlu dilanjutkan akibat kegagalan ayah. Mencoba menyetarakan kehendak dan kemauan. Seakan mempertemukan gula bersama garam dalam secangkir kopi.
Meski demikian, angin selalu mempunyai arah. Arah kemana ia mau, berjalan dalam sebuah kerangka. Tanpa henti sampai saatnya situasi ini menuntut untuk berdiam sejanak. Menikmati setiap tegukan demi memahami porsi kehidupan. Tak mampu semuanya, namun perlahan menjadi jelas. Bahwa masa depan telah tiba. Datang menghampiri mimpi. Berbicara sebagai nyanyian, olah raga bahkan silensium magnum.
Saat itu pembenahan terjadi. Bagaimana sang aku berpikir demi kehadiran dan menjinakan musuh terbesar itu. Diri sendiri. Ketika pengalaman membanam pada lubuk hati. Menemukan sebuah perjumpaan yang ditemukan dalam luasnya hati. Terlalu besar namun kekuatan itu datang tanpa alasan dan sebab. Menjadi yang utama meski terkadang terabailkan. Nyata, sungguh. Sekarang tinggal bagaima meraih semuanya.
Plato pun pernah berkata, “ketika kau mengenal cinta, maka semuanya akan menjadi puisi”. Sejenak kejelasan itu telah tiba saat matahari mulai nampak dari arah timur. Membawa janji akan sebauh harapan yang puspus semalam, sayangnya tak demikian. Cinta itu perlahan menyusut. Menemukan titik tuju yang jelas pada seorang, wanita, gadis. Bunga namanya. Perkataannya menjadikan semua lautan surut seketika. Ketika perkataannya menembus jas putih yang setiap pagi menemani setiap seruan pada bait Allah. cinta yang dikatakan tak tampak, dan selalu terasa gatal.
“apa ini kekuatan cinta?”
“ketika rumput harus bertemu embun tiap pagi, menjadikan kebiasaan yang perlu disadari. Perihal rumput menumbuhkan rasa yang malampaui apa yang kau pikirkan. Karena pikiranmu tak mampu dikenal oleh hati”, Kata Bunga.
Pertahananku jatuh. Apa yang aku pikirkan, logika sedang dipermainkan oleh sebuah senyuman. Semuanya menjadi permainan yang harus diselesaikan dalam benak. Melangkah perlahan dan berdiri tepat dihadapanku. Seakan darah berhenti untuk mengalir. Keringat pun mulai bertaburan. Terlebih pada wajah yang selalu merasa merona ketika malu. Dan saat itulah aku merasa punya tanggung jawab untuk semuanya. Menemukan alasan mengapa aku harus “gila” suatu saat. Melalui senyuman Bunga memberikan kode. Menggenggam jari telunjuk, tengah dan jari manis, kemudian melepas bebas ibu jari dan kelingking. Tak lupa mengoyang yang artinya, jangan lewatkan rembulan itu pergi tanpa puisi.
Keputusan untuk menyangkal masa depan mulai tersusun. Pengalaman rohani seakan menjadi rutinitas. Bagaikan seorang yang tidak menegal cara menikmati kopi di saat sore. Berdoa, belajar dan bekerja hanyalah waktu luang demi menunggugu untuk memilikirkan perkataannya. Ketika dasar kemauan tumbuh dari kepasraan, kemudian menjadi penabur jagung. Menabur di bebatuan. Ketika tumbuh, layulah tunas karena akarnya tak mampu menembus bebatuan. Dan matilah tunas tersebut. Mestilah perumpamaan terjadi?
Dengan situasi ini sekan hidupku tak berarah lagi. kompas yang telah menjadi pedoman telah tiada. Sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk mengambil mimpi kembali. Sakit memang merupakan kekurangan dari sayang, begitupun sadar adalah kenyataan yang harus aku bangun setelah mimpi. Pernah aku jatuh, namun saat ini, jatuh adalah pengalaman saat menjadi penikmat sejati. Terasa manis dan tidak menjadi pengamis. Terjatuh pada rembulan yang dijanjikan.
Malam adalah saksi bagi kami. Disaat bintang bertaburan menjanjikan keturunan baru bagi kami. Kebahagiaan yang menunggu di panggung pelaminan, serta pakaian suci harus masuk kubur masa lalu. Ku cabut semuanya. Harus menjatuhkan rasa dan pikiran. Terjatuh kembali pada perhitungan yang hanya rumput yang mengenal dari mana ia berasal. Perjumpaan akan berakhir sebagai pesta, karena hari ini aku telah membawa sebilah pisau untuk merobek perasaan sendiri.
Semuanya masih tersembunyi. Senyuman dan pelukannya masih sama. Kemarin, hari ini tetapi bukan esok. Lampu yang tersusun rapi, jejeran cemilan serta sajian makan malam terlewat oleh kami.
“lapar nie, makan yuk…”, kata Bunga
Sehabis makan, kami melanjutkan penjelajahan kami. Pastinya bersama kamungkinan. Antara kau menjadi terakhir atau aku yang abadi. Begitu banyak kenangan yang telah kita tanam. Saat waktu itu, bahkan dulu saat pertama semua menjadi bisu dihadapan perasaan.
“pernah kau membayangkan jika aku harus mati, dalam taruhan cinta”, sambar Bunga seketika.
“mungkin bukan kematian yang kau dapat, melainkan masa dimana kehidupan baru perlu kau cari”, kali ini semakin berat aku berkata.
“mengapa?”
“Pernah aku merasa, bahwa antara bumi dan bulan itu sama. Ketika mereka selalu bercahaya untuk manusia. Ketika mereka mengatur luasnya lautan. Ketika mereka juga managatur waktu manusia namun kau bukan mereka, begitupun aku.” Ku lanjutkan “meski aku tak pernah memahami hati, namun aku telah mengenal hati. Dan dengan hati aku dapat memutuskan” dan kemudian hanyalah jangkrik situasi yang bercakap. Kami terdiam sukup panjang samapi akhirnya Bunga mendekap. Basah semua pundak kiri. Memikul beban antara mimpi dan kenyataan. Saat harinya tiba, namamu tak akan aku hapus dari kehidupan. Maafkan dewa kematian…          
*merupakan nama pena dari Fr. Noldy Bebo. Mengeyam pendidikan di Fakultas Filsafat, UNWIRA Kupang, semester V

Karya : Rip Erlangga ManoOj