Hukum Fisika Dalam Keluarga

Nisrina Nafi'atul Huda
Karya Nisrina Nafi'atul Huda Kategori Renungan
dipublikasikan 08 November 2016
Hukum Fisika Dalam Keluarga

P = F/A

Pernah dengar penjelasan tentang rumus di atas?

Iya benar. Tekanan berbanding terbalik dengan luas permukaan.  Semakin luas permukaan suatu benda, semakin kecil tekanan yang dihasilkan.  Dulu, guru fisikaku memberi contoh dengan paku, tekanan yang diberikan oleh ujung yang lancip jauh lebih sakit daripada tekanan yang diberikan oleh ujung lainnya.  Dan contoh itu juga yang kemudian selalu aku berikan kepada adik-adik dan murid lesku ketika mereka bertanya tentang maksud dari rumus yang terlihat sangat sederhana itu.

Tetapi hari ini, aku memaknainya lebih dalam.  Dengan mata berkaca-kaca dan hati nyeri seperti ada luka lebam.

Pagi tadi aku sedang berjalan ke belakang rumah, mencari ibu untuk kemudian berpamitan ketika tiba-tiba dengan bodohnya aku baru menyadari satu hal.  Tersisa aku dan Ibu. Iya, hanya aku dan Ibu.

Aku mencoba meruntut ke belakang. Hingga akhirnya tidak lama kemudian aku paham. 

Dua puluh sembilan tahun, sama seperti usia kakak pertama yang lima tahun belakangan menetap di perantauan.  Selama itu pula Ibu tidak pernah sendiri.  Kami, bersebelas, selalu memiliki giliran untuk menjadi teman sekaligus penyuplai kesibukan sehingga beliau nyaris tidak pernah berpangku tangan, dari pagi hingga matahari digantikan oleh Sang Bulan.

Rasanya lebih hina dari para pezina ketika aku tahu aku terlambat menyadarinya.  Menyadari bahwa tahun ini menjadi tahun pertama Ibu menikmati 9 to 5 nya seorang diri di rumah.  Bukan, bukan karena Bapak udah nggak ada atau kabur tergoda daun muda.  Bapak masih sehat, masih ngantor, masih sering menjadi imam dan penceramah di masjid sebelah rumah, dan kemarin, beberapa waktu yang lalu baru saja merayakan ulangtahunnya yang ke-56 dengan membagikan 56 eskrim di depan rumah.  Jujur, rasanya seperti menggores nadi dengan pisau belati ketika aku harus mengakui bahwa Ibu menjadi sendiri karena kami, aku dan kesepuluh saudaraku tidak lagi dini.  Kami, terlalu sibuk mencari jati diri, mengukir mimpi, dan mungkin juga mengumpulkan segala bentuk pundi-pundi.

Hingga akhirnya sampai pada suatu titik dimana kebiasaan kecil ini menjadi sangat berat dan menyakitkan untuk dilakukan.  Berpamitan.  Kamu tahu seperti apa rasanya? Beribu kali lipat lebih menyakitkan daripada tertimpa motor ketika beberapa waktu lalu aku kecelakaan, penuh luka di seluruh badan, pun jauh lebih perih daripada tersiram air mendidih.

Untuk kamu, siapapun kamu, jangan bodoh seperti aku.