Hujan dan Ketiadaan

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Hujan dan Ketiadaan

Aku ingin tuntas menjelaskan bagaimana kamu berjalan melewati jalan sunyi. Cangkir susu ketiga yang kamu letakkan di samping kacamata menjadi tanda bahwa dini hari tak juga sanggup menyelesaikan pekerjaanmu. 24 hours is always not enough! Begitu katamu ?selalu. Derai hujan pernah menyaksikan kakimu yang kasar melintasi jalanan sepanjang hari. Aku mencoba untuk tidak tampak kaget ketika berbicara denganmu, sebab aku ingin jadi yang menenangkan bagimu. Bagimu, aku tetap anak kecil yang selalu ingin terlihat hebat di hadapan keadaan. Kamu sering menangis diam-diam, mengecup kesunyian yang menjadi perantara mengusap kesedihan. Aku sering menangis di depanmu, menyandarkan tubuhku pada detak hangat nadimu yang menjadi alasanku bertahan disampingmu.

Tepian waktu rapi menyimpan catatan pinggir semua petak kehidupanmu, sadar atau tidak perlahan membuatmu tidur dalam kelelahan. Berkali kubaca matamu untuk tidur tenang tanpa beban pikiran. Mengistirahatkan diri dari rasa sakit yang memiliki definisi sendiri di hatimu. Bukan karena penyakitan tapi beban sesak sering terhirup di antara waktu perjalanan. Entah apa, banyak orang-orang terdekat yang ingin kamu tetap bertahan, memperjuangkan kehidupan yang dihadiahkan Tuhan sekaligus menimbun pahala dari setiap kesabaran menghadapi permasalahan.

Tak pernah aku dengar kamu ucapkan lelah meski muatan peluh semakin deras bercucuran. Di ujung kayuhan sepeda, kalut melayang bersama dingin. Tak pernah terbayangkan semua lelah bertumpu pada sedih, pada sebuah ketiadaan yang membuatmu bertahan. Tidak ada yang lebih menguatkan selain ketiadaan, yang akhirnya membuat aku semakin paham dimana letak hatimu yang sebenarnya.

  • view 82