Aku Pernah Senista Itu

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Aku Pernah Senista Itu

Seberaninya kamu begitu, menoreh luka yang bagimu tak akan terlihat. Bagaimana bisa kamu demikian lacur mengambil satu per satu kenangan yang lama aku sulam. Aku tak habis pikir kamu tega meniadakan kehadiranku di sampingmu yang kemudian menyergap kesadaranku untuk segera angkat kaki dari bagian peristiwa hidupmu.

hey, kamu kira aku akan membiarkanmu mengotori hidupmu dengan tujuan-tujuan yang tidak beralasan itu? Kamu tahu kan hidup kadang memang tak memberikan alasan tapi sedari awal kita sepakat untuk tidak menyepakati apa-apa dan membiarkan semua berjalan apa adanya.

Tapi rupanya semua yang tidak kita sepakati tak cukup membuat kita sadar dan mengerti penjelasan yang tidak pernah ingin kusampaikan dalam bahasa verbal. Rupanya hati kita tak lagi dekat seperti dulu, yang hanya cukup dengan tatapan mata bisa mengartikan semua yang aku rasa dan inginkan. Kali itu cukup repot membiarkan orang lain bertanya-tanya tentang apa yang kita rasa. Aku yang berpura-pura lupa padahal tak pernah berhenti mengingat .

Menyeramkan, ada yang sudah tak sehat rupanya.

Pernah aku berupaya mengambil keputusan penting untuk menutupi semua kesalahan, berdiri di tengah badai yang jika waktu menghendaki kapanpun siap menghantamku. Menyerang nasibku dan nasib orang-orang di sekitarku, membuat mereka punya alasan untuk terluka dan pergi menjauh dari sisiku.

Sepanjang waktu, aku susah payah menjaganya kemudian berdalih tak mau mengakuinya. Sia-sia saja, semua mendadak menyeramkan, pengap, dan terabit di dalam folder kisah kehidupan. Maksudku, aku ingin melepaskan semuanya untuk tidak lagi melekat saat aku tumbuh dan berkembang.

Bagaimana bisa dipatahkan jika aku pernah senista itu menyimpan semua ketakutan dan ketidakmampuan menyampaikan maksudku?

Dilihat 57