Mendadak Hilang

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Mendadak Hilang

Detik mengantarkan senja berganti malam diliputi sekelebat kenangan yang menjatuhkan mata di bawah remang lampu jalanan. Dipersilahkan kakinya melangkah lewati persimpangan begitu saja tanpa beban lain kecuali satu tanya sepanjang masa. Tidak ada yang berubah dari tanya itu semakin hari semakin matang untuk segera ditemukan jawabannya meski tidak harus datang bersamaan, sepasang tanya dan jawaban itu hanya butuh waktu dan kesabaran untuk bersitahan di satu keadaan yang tidak bisa dikembalikan seperti semula. Kehidupan yang dinamis membawanya pada satu tekanan untuk segera keluar dari tempurung aman dan nyaman.

Seandainya ia bisa dengan mudah memisahkan nasihat dan jebakan nafsu maka ia akan leluasa menemukan jalan untuk lebih cepat berdiri di posisi yang tepat. Sejak saat itu ia kehilangan detail terbaik sosok yang ia cintai. Ia kehilangan segalanya yang berarti dari setiap detail itu. Selamanya ia akan terus bertanya kembali bagaimana bisa detail itu hilang dari hidupnya berkali-kali, kenangan membelah genggaman tangan yang kasar digenggamnya ?segalanya tidak bisa terjadi seperti sediakala!? pikirannya tak bisa diseretnya kembali. Berulangkali ia mendesak dirinya untuk kembali pada kehidupan awal, kendatipun ia tahu keadaan akan semakin kuat melawan, melempar semua hal ke titik terjauh untuk berdiri di depan pembelaan atas nama dirinya sendiri. Melupakan detail lain yang berarti untuk disusun menapaki tangga lain.

Di beberapa kesempatan ia berjalan dengan pegangan di sisi sebelah kanan tapi sayang justru membawanya pada kubangan lain kemudian jatuh tanpa sempat menengok atau berteriak di hadapan orang lain. Ia memilih jalannya sendiri, digenggam dan dibuka takdirnya sendiri, sampai satu waktu ia merasa berdiri di jalan yang salah, mencoba berbelok ke arah yang lain. Dengan bisikan keindahan lain perlahan ia meninggalkan semua yang pernah terjadi sebagai penyesalan. Tak bisa ia menjaga semua kotak itu rapi dan bersih, pahit kehidupan ia telan sendiri, ditutupnya dengan rapat.

Bukankah waktu bisa mengubah segalanya?

Hadirnya menjadi penerang sekaligus kegelapan, entah dengan cara apa menyibaknya ia masih menunggu sesuatu yang akan menyempurnakan kesalahan lebur bersama keindahan maaf.

  • view 72