Bertahan

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Bertahan

Tulisan ini diawali dengan pertanyaan ?untuk apa bertahan?? namun tak ada jawaban. Pengetahuanku tentang itu nyaris nol sedangkan pertanyaan itu selalu lebih jahat mendorongku hampir jatuh dari ayunan. Aku memang payah, sering kali berbohong dan menuntut senang. Sementara pada beberapa hal yang menyakitkan, aku kabur ke jalanan tenggelam dalam lamunan mengikuti arah angin. Kalau sudah cukup tenang, pasti kembali dan menangis sekaligus minta maaf tidak akan menentang lagi. Itu yang aku tahu; bertahan.

Malamnya aku sakit karena kecapekan, mungkin puas menguras air mata. Lain soal jika Ibu, tidak sepertiku. Tidak pernah tanya apa-apa namun tebakannya tak pernah meleset. Aku yakin Ibu suka menungguku diam-diam menyimpan semua kekhawatirannya. Biarlah, meledaklah semua cemasnya di hadapanku yang selalu acak-acakan, berharap satu dua cerita diucapkan. Tak menuntut apa-apa, ia selalu bersikap lembut padaku sekalipun aku sering protes dan mengarang cerita lain untuk dibicarakan demi menghindari kemarahannya yang selalu tidak pernah lebih dari 24 jam. Ia yang selalu bersedia meminta maaf lebih dulu, memelukku dari belakang sambil menangis sesenggukan; bertahan.?

Jangan-jangan bertahan adalah tentang kepercayaan merangkap pengorbanan untuk menyediakan hati lebih luas dari manusia yang lainnya? Bagi ibu, menangkapku yang jatuh dengan pelukan adalah kehangatan sambil ia mengusap-usap lukanya sendiri dengan kesabaran. Ajaibnya, Ibu tak pernah kehabisan paket lengkap untuk bertahan; alasan-cinta-airmata-doa. Apa aku sudah menerimanya dengan lengkap??

  • view 55