Resah

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Februari 2016
Resah

Seringkali Allah menitipkan resah dalam kesederhanaan, layaknya kesabaran yang terus menundukkan pemiliknya pada keikhlasan. Meskipun jauh di dalam hati sana disadari gelisah tak juga kunjung pecah meski doa-doa terus menjadi nafas kehidupan. Siapapun boleh mengemas resahnya dalam bentuk apapun, diikat serapi mungkin seolah-olah tak boleh ada yang menjamah, agar tak ada lagi sedih yang terhambur kemana-mana membanjiri kehidupan orang lain.

Soal segala persoalan yang tidak pernah diharapkan, perlahan mengintip sendi waktu mencuri hal-hal yang teratur; sapaan pagimu dengan senyuman. Percakapan dua orang manusia kini tak lebih dari sekedar basa-basi yang dipentaskan sebagai pahlawan yang memperjuangkan senyuman agar bertahan lebih lama. Jika dahulu senyummu kulihat ada dimana-mana tanpa perlu aku memimpikannya, ini hari kesekian yang aku rasakan sibuk mencari senyummu di tengah seratus lebih pikiran.

Sepasang mataku tahu, ada resah yang kamu titipkan pada peluh saat aku menundukkan badan untuk menjabat tanganmu. Adakala kutitipkan ketenangan dalam senyuman, berkutat dalam lingkaran kesibukan, cangkir teh yang selalu habis, atau bermandi cerita dengan mereka yang sedang berbahagia. Pada akhirnya semua akan terasa menjemukan sebab tak ada tanya yang sanggup membohongi perasaan. Perihal bagaimana, bagaimana, dan bagaimana yang lain.

Sebagaimana waktu yang terus berjalan maju, ingin rasanya kupaksa resah meninggalkan hidupmu. Melepaskan senyummu dari kepura-puraan.