Maafkan Aku yang Mencintaimu Sekaligus Melukaimu

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Maafkan Aku yang Mencintaimu Sekaligus Melukaimu

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil menyelesaikan kalimat terakhir yang aku tulis di blackberry messenger. Aku ingin membiarkanmu menangis, meskipun tanganku bergetar tak ingin membiarkan tangismu pecah lagi malam ini. Ilalang dan lamun bermukim lagi di persimpangan ingatan, merobek semua ketenangan yang kita bagun seharian.

?Aku takut...?

?Terserah!? Bisa kubayangkan jawaban itu membuatmu menekuk lengkung bibirmu sambil mengusap-usap air mata.

Barangkali sejak saat pertama kita memiliki langkah kaki yang sama, aku berjalan mengikuti iramamu, dan kamu merapikan langkahmu di sampingku, kita akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sama, berulang-ulang dan tak pernah terduga. Tak kurang dari sepuluh detik tanyamu bisa membuat aku terkunci dalam tatap matamu hingga selalu berhasil membuat aku sadar diri untuk menghentikan kebodohan mengabaikan kesehatan. ?Aku tak apa, tenanglah,? adalah kalimat apologetis yang selalu aku ucapkan untuk membuatmu merasa tak perlu mengkhawatirkanku.

?Jangan berlebihan,? adalah kalimat yang tak juga luput aku katakan untuk mencairkan suasana perbincangan sambil mengalihkan perhatian.

?Itu penting, ya?? tanyaku

?Penting. Walau kamu sudah berusaha untuk meyakinkan dirimu bahwa kamu baik-baik saja tapi faktanya penyakit itu sering muncul. Jadi gak boleh A-B-A-I.? Jawabmu, masih dengan emoticon cemberut.

?Kalau begitu, aku minta maaf.? ujarku

?Maksudmu??

?Maafkan aku jika selama ini tidak pernah benar-benar mendengarmu.?

Meski, aku benci mengatakannya karena percakapan yang akan terlontar setelahnya adalah bentuk ketidakpuasan yang menggambarkan betapa keras kepalanya aku.

Sesungguhnya itu hanya pertengkaran kecil sebab aku terbiasa mengeluh dengan kondisi badan yang semakin letih di antara aktivitas yang saling berbenturan dan berdesakan. Sebaliknya, kamu tak pernah sampai hati melihat aku menyelesaikan semua aktivitas itu tetapi membuat kondisi kesehatanku menurun. Titik dimana aku hanya bisa terbaring di sampingmu, berdoa agar khawatirmu lekas berganti.

Dan ya, aku mencoba baik-baik saja, diantara puluhan tetes tangis yang menenggelamkan aku pada sesal karena berkali-kali menyita semua senyummu. Lalu berkali-kali, tanpa sepengetahuanmu, aku melatih hal-hal terbaik yang pernah kamu ajarkan. Karena hanya dengan itu aku bisa mengobati lukamu.

Terlalu banyak yang sudah kita lalui kemarin dan hari ini, hanya itu yang yang membuat aku merasakan cinta sekaligus luka. Maafkan aku yang mencintaimu sekaligus melukaimu.

?

  • view 319