Menyepakati Takdir

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Inspiratif
dipublikasikan 21 September 2016
Menyepakati Takdir

Jalanan pagi yang macet, kantor yang ricuh, atau kamar yang berantakan adalah rejeki.

Menyaksikan wajah-wajah penuh kekhawatiran, terik panas yang mengundang emosi, atau celoteh penuh provokasi adalah rejeki.

Ruang sesak angkutan umum, kesepian yang merayapi pengendara mobil yang sendirian, atau kepayahan tukang becak di pojok jalanan adalah rejeki.

Bagaimana bisa?

Semua hanya tergantung dari cara kita memandang. Ini hanya soal sabar tak bertepi, syukur yang dititipkan Allah pada secuil ujian. Dengan segala yakin Allah akan selalu membersamai. Menghindar dari tangis jelas tak mungkin karena aku hanya manusia yang tak jauh dari kecewa. Merangkak, jalan, dan jatuh adalah kekuatan yang membawa kita terus lari. Diri ini hanya perlu penegasan akan satu hal: berdiri di segala posisi ini adalah takdir. Tugasku hanya realistis untuk terus berbuat baik, menjaga hati, menghormati keikhlasan, dan menyepakati takdir.

  • view 226