SIAPA?

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 September 2016
SIAPA?

Mengenal diri sendiri? Seberapa susahnya?

Kita sering terlibat banyak sekali pembicaraan. Pendapat-pendapat yang seringkali subjektif, perdebatan memuakkan yang mengandung provokasi. Mengamati banyak hal di sekeliling sejenak menjadi keharusan sebagai manusia yang harus melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dari situ akhirnya muncul sebuah pelajaran agar menjadi pengamat ulung dan kritikus unggul bagi diri sendiri. Telinga kita akan sering dilatih sebagai pendengar yang baik, begitu pula soal mata yang lama-lama akan pandai memilah beragam sudut pandang yang ditawarkan oleh orang lain. Kaki dan tangan juga akan bekerja lebih sigap menentukan pilihan yang hadir di hadapan waktu. Saat semua serba cepat dan tergesa, sudahkah kita mengenal diri kita sendiri?

Siapa diri kita sebenarnya? adalah pertanyaan yang semestinya bisa dengan mudah dijawab oleh masing-masing pribadi. Bahkan sudah sejak lama duduk di bangku sekolah berkali-kali kita mempelajari bahwa kepribadian dibentuk oleh keluarga, media, teman sebaya, lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Semestinya, dengan mengetahui hal itu pertanyaan klasik semacam "siapa diri kita sebenarnya" bisa dengan mudah dijawab karena hal-hal itu yang turut membentuk dan menentukan kita akan menjadi manusia seperti apa.

 

Namun, sekian banyak waktu yang dihabiskan untuk memikirkan itu sampai detik ini masih saja berujung pada pernyataan orang lain bahwa "Saya tidak benar-benar mengenal diri saya sendiri". Hehehe... susah juga ternyata memahami manusia ingusan yang masih ababil dengan pilihan hidupnya. Padahal sejak lama sudah berkali-kali menegaskan dengan yakin pada dirinya sendiri untuk "mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri dan memperjuangkan hidupnya sendiri. Menghidupi pilihan hidupnya".

Kualitas pikiran saya rasanya belum sepenuhnya menjangkau pemahaman untuk benar-benar mengenal diri sendiri. Apalagi melihat lingkungan sekitar yang serba bergerak cepat dengan segala kesuksesan yang menggiurkan dibarengi standar tinggi terhadap orang-orang yang layak dikagumi benar-benar menguras perasaan. Melihat semua itu memang butuh kesiapan lahir batin. Menyelaraskan harapan dan kemauan menjadi disiplin. Tentu saja seringkali hal-hal seperti itu membuat saya menjadi ciut nyali alias sering menghakimi diri sendiri. Ujung-ujungnya, saya sibuk memikirkan perasaan tidak berguna, tak melakukan sesuatu yang penting dan selalu dihantui dengan hal-hal negatif yang tidak membangun masa depan. Lalu kesimpulannya? Pada saat-saat tertentu ketika dihadapkan pada situasi melihat kesuksesan di luar sana berjalan sangat pesat dan orang-orang yang dikagumi melesat dengan cepat, saya hanya menyalakan api semangat sesaat pada situasi tertentu saja. Selebihnya, yang tersisa hanyalah keinginan tanpa dibarengi oleh disiplin yang kuat untuk menyelesaikan tantangan sampai tuntas.

Apa yang salah dari semua ini? atau lebih tepatnya apa yang salah dengan diri saya ketika dihadapkan pada situasi macam itu? Semacam melihat si A yang masih duduk di bangku sambil bermain-main sedang saya sudah mendahului berlari setengah perjalanan menemukan sebuah tujuan sampai mendadak merasa harus berhenti karena sangat dahaga. Dan saya harus diam sejenak sambil membayangkan sesuatu yang akan terjadi di depan sana. Kemudian setelah selesai menuntaskan minum ternyata si A sudah selangkah di depan. Dan saya masih saja duduk lagi, memeriksa satu dua hal yang menjadi kesenangan di masa lalu, tentang lari yang lebih cepat kemudian berhenti untuk menghayatinya sampai lupa kapan harus lari lagi.

Hei, romansa hidup akan bisa terus dikenang, tapi waktu tak pernah menunggu. Begitu kan katanya? Barangkali pula waktu saya masih sering terbuang karena merasa kurang sana-sini, soal uang saku yang masih saja kurang, soal fasilitas yang tak pernah puas, masih sempat nongkrong kanan kiri untuk menyuburkan eksistensi, atau mencari-cari alasan untuk bersantai.

Rupanya, saya masih sering tega membiarkan hal-hal tidak berguna itu bersarang di dalam diri saya sendiri. Padahal di luar sana hal-hal menakjubkan sedang menunggu untuk diperjuangkan. Sebatas inikah penghargaan saya atas hidup yang penuh dengan keberlimpahan?

Waktu tidak menunggu dan lagi-lagi saya berharap jadi orang spesial yang ditunggu oleh waktu? Mimpi. Tiba-tiba saya merasa sangat tertampar oleh penghakiman ini. Jelas-jelas darah masih mengalir dengan baik di seluruh tubuh, masih bisa merasakan capek karena lari kesana-kemari menyelesaikan tugas, baju masih muat dipakai, sepatu yang masih bagus menempel di kaki berkali-kali digunakan untuk presentasi, kaki yang masih utuh dan tangan yang tidak cacat. Mata, telinga, bibir, dan otak yang masih saling bekerja mengkomunikasikan fungsinya dengan normal. So, whats wrong with you?

Nothing. Tak ada yang salah selain cara saya menghargai diri. Begitukah? Saya ingin akhirnya saya berjanji untuk menemukan diri saya sendiri. Bukan orang lain. Menjadi cerah tanpa sedikitpun memikirkan keriput masalah. Menjadi indah tanpa mempertanyakan kekurangan karena semua selalu tertakdir cukup. Saya berdamai dengan sesuatu karena tak ingin mengecewakan orang-orang yang membanggakan. Tidak seperti khilaf yang sering terucap.

Dan saya sedang berada di proses ini. Then, what’s the point of ‘mengenal diri sendiri’?

Silahkan jawab sendiri sesuai pendapat Anda. Semoga tercerahkan

Malang, 18 September 2016

  • view 180