Dear Mami #9 Menangis

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juli 2016
Dear Mami #9 Menangis

Kadang ketika terdesak keadaan tidak berdaya, kita hanya butuh merasa lebih baik, kan? Dan itu meski harus dibumbui oleh tangisan, akan membuat kita merasa lebih kuat melewatinya.

***

Pagi tadi, aku menyapamu sekedarnya. Senyum yang canggung sambil melipat mukena tak begitu rapi, lalu aku tidur lagi. Aku tidak tidur sebenarnya tapi kali ini diam terasa lebih kuat dari kecewa dan marah sehingga aku harus menahannya demi melihatmu benar-benar bisa menerima.

Kesalahan, adalah hal wajar yang dilakukan setiap manusia. Aku pernah berulang kali salah di hadapanmu dan berulang kali pula memancing tangismu. Satu peristiwa dua pekan belakangan ini memang benar-benar menyita senyum kita. Aku pun tidak menyangka akan melihat kita saling beradu tangis karena persoalan ini.

“Aku nggak mau ada orang lain yang tahu soal ini.” Katamu tegas di depanku

“Iya... aku paham.” Ucapku

Sampai hari ini, persoalan itu masih menjadi topik yang membuat kita sering menangis hingga kelelahan dan mata sembab. Lalu bagaimana menyelesaikan persoalan-persoalan ini? Pikirku setiap hari. Aku tahu tak ada yang lebih bisa menyelesaikan persoalan selain menata hati kita masing-masing. Tapi bagimu menangis adalah semacam jembatan yang menghubungkan pemahaman meski selalu sulit diartikan. Dan diam-diam membuat kita merasa lebih baik padahal tak menyelesaikan persoalan apapun.

Katamu, aku adalah satu-satunya orang yang membuatmu bisa menangis lagi setelah sekian tahun tidak menangis. Aku, katamu.

Atau

Mi sedang merindukan meangis di depan orang yang bisa dipercaya?

Kita menjejalkan berbagai persoalan ke hati kita yang membuat mata kita berbinar. Saling mengisi dan membuka kesesakan hidup kita masing-masing.

“Aku masih di sampingmu, Mi”, mengingat setiap detik perjalanan kita, “sudah jangan menangis lagi... I’m okay.”

  • view 148