Dear Mami #8 Surat-Surat yang Tak Tahu Diri

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juli 2016
Dear Mami #8 Surat-Surat yang Tak Tahu Diri

Apakah kau sudah menerima suratku, Mi? Kegelisahan yang menerbangkan suratku untuk memintamu tinggal. Urat leherku tercekat oleh ketidakmampuan mengatakan banyak hal padamu. Setiap senyum dan tatapan mataku menggulung bahasa yang hendak kusampaikan yang tak dipahami oleh suara dan air mata.

Hari-hari ini kita tak saling mengerti kenapa lebih sering menjumpai air mata. Kau yang uring-uringan sepanjang hari dan hampir seminggu saat aku tidak disana. Aku yang hilang arah tanpa hadirmu disisiku –walau hanya sehari. Aku kini seperti punya agenda rutin untuk memprioritaskanmu sebagai titik penantianku, dan kau Mi, seolah punya tanggung jawab dan keberpihakan atas diriku. Kita banyak menipu waktu untuk menyuapi hati kita masing-masing, bertanya-tanya tentang hari ke depan, kemudian gelisah menenangkan satu sama lain agar tidak menyalahkan apapun yang sudah pernah dan selalu kita lakukan.

Pantasnya, kita sebut apa ini? Sayang? Posesif, katamu!

Tapi ada definisi lain yang lebih tepat baru saja aku temukan: Ketulusan yang membaur dalam cinta dan kegilaan.

Aku menulis karena darimana lagi bisa kau baca tentangku, Mi. Bukankah kita akan selalu membuka tabir keingintahuan kita dalam berbagai alasan dan bentuk yang berujung pembelaan. Seperti kau yang selalu menjaga kepolosanku untuk menerima orang lain dengan mudah. Berbekal segudang alasan yang masih sulit untuk dikatakan masuk akal, aku menerimanya. Bertahan di tengah malam yang dingin, di ujung jalan sepi itu aku melihatmu membaca suratku.

Aku tak ingin kau kesulitan menemukanku, Mi. Aku bukan soal matematika yang harus diselesaikan dengan rumus-rumus penghitungan melelahkan. Aku tak pandai soal itu, sama sekali tidak. Jadi kemungkinan untuk menghitung pembagian soal cinta kepada siapa dan berapa besarnya sungguh sangat mustahil. Dalam salah satu puisinya, Adimas Immanuel pernah menulis, “Aku membiarkan cintaku lebih besar darimu atau sedikit lebih kecil darimu agar kau merasa mengungguliku.”, begitulah aku dan surat-suratku.

Aku yang gelisah sampai tak tahu diri. Terus saja menulis untukmu dan bertanya-tanya akan kau maknai apa semua yang aku tulis. Bertahun-tahun aku menulis dan kau satu-satunya orang yang membuatku betah berlama-lama menghabiskan lembaran kertas untuk kuselipkan di beberapa tangkai mawar yang aku rangkai kemudian mengirimkannya padamu.

Aku tidak memintamu membalas suratku karena mungkin aku yang tak tahu diri menyimpan rasa takut kehilanganmu. Aku hanya mempersiapkan segala bentuk cinta dalam bahasa. Meski saat kutulis surat-surat itu lebih banyak menyita seluruh hari-hariku untuk memikirkanmu sebagai ruang bermain dan sandaran lelahku.

Aku menulisnya. Merelakanmu membaca walau berlinang air mata. Karena kau tahu, Mi aku lebih takut kehabisan waktu memaafkan semua rasa bersalahku karena lupa meyakinkanmu bahwa aku ada bersamamu.

Suatu hari, akan ada saat dimana kau terbangun pada dini hari, tak ada aku disampingmu melainkan hanya surat-suratku yang terus saja tak tahu diri memintamu membaca. Gelisah karena rindu dan mencurimu dari sepi. Membuatmu merasakan hadirku dalam kepemilikan yang lain.

  • view 150