Dear Mami #6 Mereka yang Pernah Melukaimu

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juli 2016
Dear Mami #6 Mereka yang Pernah Melukaimu

 

Your arms were always open when I needed a hug. Your hearth understood when I needed a friend. your gentle eyes were stern when I needed a lesson. Your strenght and love has guided me and gave me wings to fly -Anonim

Siapapun akan heran melihat cangkir-cangkir pikiran kita dipenuhi berbagai macam rasa dari setiap perjalanan. Cerita tentang buku-buku, es teh panas, oseng pepaya pedas, dan kopi-kopi hitam. Kukira otakku sedang tak waras saat bersamamu, bagaimana bisa aku belepotan dan sering terbalik mengucapkan banyak kata yang kupikir akan bisa kusampaikan dengan lancar padamu. Baik, lupakan saja itu sebab aku bisa meluapkannya dalam tulisan, setidaknya itu bisa memenuhi tumpukan kertas di atas meja kerjaku, membacanya ulang sambil tersenyum sendirian kemudian membenahi yang kurang. Mengerjakan banyak hal tentangmu selalu menarik untuk kuselesaikan.

Bersama gemerisik tarian suka dan duka, aku ingin menuliskan satu hal untukmu, ah mungkin ini pernah kau duga-duga, pernah kukatakan, tapi mungkin saja tak terlalu kau hiraukan, Mi. Begini Mi, akan kubuat satu pernyataan disini, untukmu, tentu saja kau harus percaya ini: Kekuatan macam apa yang bisa menggerakkan tanganku lebih lancar membahasakanmu dari segala sisi yang aku pernah lihat, kau bilang ini hanya imajinasi? tapi tidakkah kau percaya Mi, bahwa detik bersamamu adalah Imajinasi yang kukagumi?. Aku membiarkanmu menyebut apa saja yang pernah aku katakan dengan istilah apapun tapi tak akan ada satu istilah pun yang bisa sempurna mendefinisikan hadirku dalam hidupmu.

Kau lihat debu-debu itu Mi, di sekeliling kita, terhempas angin, terbawa waktu, terlena, lalu singgah lagi. Sejenak. Hanya Sejenak... Ya itu kita, dua jalan berbeda dari Tuhan yang tak bisa mengekalkan perjumpaan. Kita hanya sejenak jeda yang dipersilahkan Tuhan untuk mengambil cerita. Ingatanpun sering mengaburkan kecupan demi kecupan. Anehnya, tak satupun dari semua yang menyakitkan mampu kita lupa. Suatu saat rambut kita akan memutih dan ketidakpastian akan kedewasaan semakin mengaburkan pandangan kita akan masa depan, dan sebelum jarak menjauh dari tubuh, aku tak ingin Mi kedinginan oleh ucapan nyinyir mereka. Demi pergi yang lebih singkat dari sesaat, demi... Demikianlah... Kusampaikan maafku jika Mi pernah terluka oleh orang-orang karenaku. Karena jika bukan karena aku, siapa lagi yang siap memulangkan kepergian separuh sakit hatimu? Jika bukan aku, siapa yang sanggup mengemasi dirimu dari prasangka dan terka-terka mereka? Dan maka maafkanlah mereka yang pernah sempat membuatmu terluka karenaku.

Aku yang mengatakan, aku yang meminta meski sering sedikit gugup menghadapimu, gagap membaca makna dimatamu. Aku tak tahu persis bagaimana membunyikan sekaligus menyembunyikanmu. Kan, aku tak pernah punya dasar apapun untuk menjadi sebuah awal baru dalam hidupmu. Maka maafkanlah aku Mi, jika mereka pernah melukaimu karenaku.

Mereka hanya tak tahu betapa sering kita nikmati cangkir teh berteman canda untuk mengusir lara satu sama lain, menguatkan hati yang sedang patah pun jatuh. Aku disini, menjagamu dalam kepasrahan, bertanggung jawab atas luka yang pernah orang lain lakukan padamu karenaku, maafkanlah aku, maafkan mereka.

Your Love,

Me 

 

  • view 141