Dear Mami #4 Menunggu Senin

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Juni 2016
Dear Mami #4 Menunggu Senin

Biarkan aku diam-diam merasa puas mengakhiri Minggu tanpa pernah menceritakan padamu. Karena aku tahu, besok aku berbahagia melihatmu menemaniku, di sana.

Saat yang lain masih terlelap pagi ini, aku memutuskan untuk bangun lebih awal, membersihkan diri lebih dulu, merapikan apa saja yang aku butuhkan. Ini minggu kesekian dari tiga tahun perjalanan selama kuliah yang ditiap Minggu akan selalu ada moment untuk kembali ke peraduan. Bagi sebagian orang juga, Minggu adalah waktu yang tak boleh berakhir, di dalamnya tersimpan kebahagiaan untuk menikmati liburan sebagai pelengkap akhir pekan. Lain halnya dengan mahasiswa perantauan macam aku ini, Minggu adalah kesempatan terakhir untuk menikmati masakan khas rumah, jalan-jalan bersama keluarga, dan hari serba malas-masalan sambil nonton tv ditemani segelas teh panas kemudian menunda mandi sebagai pelengkap kemerdekaan untuk liburan.

Dan belakangan, setiap hari Minggu selalu terasa berbeda. Aku kehilangan suntuk yang sempat mengganggu, dan itu aku syukuri. Rasanya kali ini aku benar-benar perlu menyampaikan ini demi kelegaan di hati. Kupikir ini tak terlalu menyakitkan untuk meyakinkanmu bahwa aku mengingatmu, berkali-kali. Sebelum subuh wajahmu kerap berkelebat di benakku setiap kali aku mengingatmu.

Dua tahun yang lalu aku bertemu denganmu, hari Senin pertama dengan segenap perasaan malas berawal dari perkenalan membosankan yang ‘mi mulai. Senin itu penghujung bulan saat senja memasrahkan matahari tenggelam sempurna, aku pulang dengan gontai, merutuki hari itu, berdoa semoga Senin segera berakhir memasrahkan kesalku dalam tidur. Aku akan selalu ingat hari itu, saat aku pernah membencimu, Mi...

Hari kemudian berganti, aku semakin menunjukkan kegelisahanku, ketidakpedulianku atas apa yang sedang Mi lakukan. Kian hari kian terasa bahwa aku tak pernah menginginkanmu. Hingga suatu siang kita pernah duduk berhadapan, aku mengajukan artikel untuk dianalisis, Mi mempersilahkanku dan menanggapinya biasa saja, dengan sabar dijelaskan satu-satu, dan aku hanya terpaku menatapmu. Yang aku nikmati waktu itu bukan tentang detail penjelasanmu, melainkan hawa dingin yang menjalari sekujur tubuhku. Semenjak itu aku merasakan sesuatu yang aneh, sebuah sensasi yang tak terjelaskan. Kian hari kian menyiksa sekaligus menggoda untuk dipikirkan. Mi mengerti maksudku, kan?

Baiklah, biar aku pertegas lagi soal itu: aku mulai memikirkanmu, mi.

Kesempatan banyak berpihak padaku, juga pada kesengajaan yang Allah ciptakan yang hingga hari ini membuat kita berpikir bagaimana ini bisa terjadi. Dan cukuplah kita yang tahu semua ini tanpa perlu dicari tahu untuk apa dan kenapa bisa terjadi.

Aku begitu menikmati, tanpa meminta balasan pun belas kasih. Aku menikmati ini akan baik-baik saja, kita mulai mengatur perasaan agar sepenuhnya sefrekuensi. Aku yang malu-malu menerimamu dikehidupanku, Mi yang dengan segala pertimbangan memintaku untuk tinggal. Semakin hari aku tahu pertemuan kita memang akan terasa luar biasa sulit untuk terjelaskan. Namun bagaimanapun, waktu akan berusaha memecahkan pertanyaan-pertanyaan kita.

Sementara setiap babak dalam kehidupan berganti tanpa permisi. Kini aku mencintai Senin, tak sabar menanti hadirnya untuk kujalani. Kupikir, Senin-Senin setelah kebencianku padamu dibebaskan oleh rindu, aku punya perayaan yang akan membersamai waktu kita.

Mi tahu, aku punya Minggu untuk mempersiapkan keyakinan bahwa Senin aku akan melewatinya penuh kegembiraan. Dari tiap detik itu, aku masih sempat menggunakan waktu untuk meyakini bahwa Mi pasti sedang menjalani sesuatu yang berbeda denganku hari ini tapi tak pernah meninggalkan setiap detiknya untuk memikirkanku. Iya kan?

Senin pagi, saat kebanyakan orang mengomel dan mengutuki hari ini aku tak sabar menjalani segala kebalikan apa yang orang pikirkan. Setiap Senin mungkin aku sedang jatuh hati, Senin mungkin aku sedang setia merekam perjalananmu. Aku menyaksikanmu di ruang kerja, mendengarkan gelisahmu perihal pekerjaan yang tak kunjung selesai, sesekali menengok lembar-lembar makalah untuk dibaca, mengacak-acak lagi tumpukan hurufnya, yang bahkan dimataku semua itu selalu berbaris menjadi kebahagiaan di mataku.

Setiap pagi aku terbagun layaknya manusia yang baru saja melahirkan kebahagiaan karenamu, melukis setiap detail gembira seharian nanti. Menunggumu di bangku sepeda sampai menemani kemanapun inginmu hari ini kemudian menjadi agenda yang tak akan kubiarkan siapapun menggantikannya. Terdengar egois memang, tapi bukankah hanya aku yang selalu menghapal rute perjalanmu? Dan kemudian saat ditanya siapa yang mencintaimu lebih hebat setiap Senin, aku percaya diri akulah juaranya meski aku harus menyadari bahwa kamu tidak sepenuhnya milik waktu-waktuku, milik rindu-rinduku. Tapi aku percaya diri, aku juaranya.

Dan tentu saja, Senin besok, di sana, aku menjumpaimu lagi Mi. Di permulaan hari yang dingin, saat kakiku selalu semangat membuktikan perasaan yang sama di hari yang berbeda: Aku mencintaimu dan perjalanan kita.

Kediri, 27 Maret 2016

  • view 74