Dear Mami #1 Pertemuan dan Doa Sebelum Pulang

Farah Adiba Nailul Muna
Karya Farah Adiba Nailul Muna Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Juni 2016
Dear Mami #1 Pertemuan dan Doa Sebelum Pulang

Hari-hari menjelang kepulangan, aku lebih banyak melewatkan waktu denganmu, Mi. Jika sore menjelang dan ruangan ini menjadi sepi, dari pintu sering kupandangi lekuk senyummu yang lebih indah dari anggrek yang menghiasi meja kerjamu. Oh ya, jangan tanyakan soal mataku, mataku baik-baik saja. Jadi jangan ragukan detail pesonamu yang terekam oleh mataku. Dari tempatku melamun, seorang pernah mengejutkanku dan memberitahuku bahwa aku sedang tak waras. Buru-buru aku masuk dan duduk di kursi tempat banyak orang biasanya melakukan konsultasi denganmu. Dengan cara ini, aku bisa leluasa tertawa mengagumimu, selain hanya sepi yang menemani.

Pertemuan yang menyenangkan itu terasa cepat dan tiba-tiba. Terang-terangan hal itu membuatku banyak melakukan gerakan akrobat perihal kebiasaan dan perasaan yang tak biasa. Dengan perasaan meluap-luap, tegang bercampur gembira, kuletakkan selembar kertas di depanmu, seperti biasanya yang sering kulakukan padamu seusai jam kerja atau kapanpun saat aku ingin. Sebenarnya aku ingin meyakinkan diriku membacakan satu dua puisiku di depanmu, beberapa bait kalimat untukmu. Tapi aku tak ingin lebih banyak menumpuk malu sehingga ragu. Kuendapkan saja keinginan itu perlahan sampai aku benar-benar punya tempat untuk mengatakannya langsung.

Sementara itu, berminggu-minggu sebelumnya, aku menghabiskan banyak waktu denganmu. Iya, yang lebih tepat adalah dirimu yang menghabiskan banyak waktu untukku. Di hadapanku, kutemui dirimu berbagi pundak dan tangis untukku. Terimakasihku karena bersedia berbagi rengkuh, peluk, dan kecup. Adakah kulihat benci di matamu? Tidak, sekalipun banyak tangis dan kecewa pernah masuk ke dalam hatimu, sedikit demi sedikit menguji kesabaranmu. Selama ini, aku tak ingin terlalu banyak menangis di depanmu, cukup aku saja yang merasakan tangisku. Barangkali nalurimu saja yang terlalu kuat sampai-sampai aku kehabisan akal menyembunyikan salah satu sifatku yang paling misterius: menganggap semuanya baik-baik saja. Lebih sial lagi saat aku gagal membuatmu menerjemahkan senyumku yang palsu karena menahan sakit. Baiklah, aku tak akan lari kemana-mana, tanpa perlu dikejar aku akan berujar, apapun itu. Pikirku.

Maka, seluruh tubuhku langsung tersandar di pundakmu lalu sambil menarik satu napas panjang yang resah, aku merasa cukup. Cukup membuatku mengerti bahwa Allah menitipkan salah satu cinta terhebatNya untukku lewat dirimu. Cukup membuatku bersyukur bahwa tak ada setetespun darahmu dalam tubuhku, tapi Allah menyulam deru nafas dan ketulusanmu untuk aku rasakan dalam kalbu. Semua itu tidaklah ringan tapi selalu cukup membuatku mengerti mengapa pertemuan kita terasa bernyawa. Aku tahu dan benar-benar menyadari, tak ada pertemuan yang kekal, tidak ada selamanya dalam sebuah kehidupan, tidak mungkin. Allah sudah menciptakan jeda dan jarak lewat berbagai tangis dan masalah yang kita buat. Tapi mi... yakinlah saat semua terasa begitu menyesakkan aku selalu punya kedua mata untuk memutar senyummu, menayangkan segala sisi terbaikmu yang pernah aku kenal dan alami. Semoga dirimu juga demikian mi... harapku. Terimakasihku mungkin tidak cukup untukmu yang selalu hadir di titik terendahku sebagai manusia setiap melewati ujian yang Allah berikan, semoga saja perjalananmu selama ini menemaniku bukanlah satu keterpaksaan melainkan perjalanan yang akan membawamu pada satu titik dimana akan kau rasakan genggam tanganku mengangkatmu berbahagia di surgaNya. Jika tak berlebihan, ijinkan aku mi suatu saat menggandengmu dengan genggam paling mesra kepadaNya, bersaksi bahwa aku pernah mencintaimu dengan segenap prasangka baik.

 

Malang, 28 Februari 2016

Your Love,

Me

  • view 49