“Keindahan Keluarga Dalam Kesakralan Budaya Jawa”

Niken Larasati
Karya Niken Larasati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
“Keindahan Keluarga Dalam Kesakralan Budaya Jawa”

Bukankah hal indah itu sudah kita rasakan semenjak dulu? saat bapak bercerita dan kita duduk rapi di hadapanya dan saat ibu membangunkan kita  dengan penuh cinta 15 menit sebelum adzan subuh memanggil kita? Dan bukankan ini semua luar biasa..tentang keluarga kita dalam kesakralan budaya jawa.

Setiap hidup yang diberikan tuhan itu  sama rasa namun berbeda jalan cerita, setiap keluarga dan masing masing kepala yang ada didalamnya punya kewajiban yang sama untuk membuat jalan cerita di dalamnya punya guna, berpedoman pada agama dan takut akan sang pencipta karena tujuan setiap  keluarga detik ini, hari ini dan sampai mata tertutup nanti kelak bisa menjadi keluarga sehidup sesurga.dan semua ini juga berlaku di keluarga Jawa yang sudah menjadi bagian hidupku sejak kecil hingga dewasa.

Perkenalkan namaku Niken Larasati yang dalam bahasa jawa niken itu memiliki arti anak perempuan yang cantik sedangkan larasati memiliki arti jauh lebih dalam / jiwa yang tenang, aku anak pertama dari 3 bersaudara, kedua adikku adalah lelaki tulen yang saat ini sudah mulai beranjak dewasa, yang pertama bernama Andika Prananto dan yang kedua bernama Aditya Pamungkas, aku rasa nama kedua adikkupun tetap ada unsur jawanya. Bapak dan ibuku berasal dari jawa bagian tengah tepatnya bapak berasal dari wonogiri dan ibu berasal dari gombong, dua daerah di jawa tengah  yang memiliki keunikannya tersediri dan memiliki kesamaan suku namun melahirkan perpaduan Bahasa jawa  yang berbeda. bahasa bapakku lebih dominan halusnya di bandingkan ibu yang Bahasa jawanya agak sedikit kasar atau sering orang bilang ngapak. Aku besar di keluarga jawa yang kental akan tata krama yang santun dan filosofi jawa yang kaya akan makna. Bahkan kesenian campursari dan wayang setiap hari selalu meramaikan rumahku. Hal ini sudah menjadi hal biasa bagiku dan keluarga tapi bagi orang di luar  sana mungkin mereka akan menganggap rumahku seperti rumah yang sedang mengadakan hajatan setiap hari, hal ini wajar karena kami sekeluarga tinggal di daerah pinggiran Jakarta yang dimana kebiasaan orang – orang disekitar kami sangat jauh berbeda dengan kebiasaan yang kami lakukan di keluarga kami.   

Perjalanan hidup kami bertiga, aku dan kedua adikku yang di takdirkan sang pencipta tumbuh di keluarga jawa membuat kami banyak belajar tentang keunikan suku jawa, bukan hanya seni dan budayanya tapi sampai filosofi jawa yang benar- benar lekat dengan jiwa kami. Bapak dengan sunguh- sungguh mempelajari filosofi jawa dan menelaah setiap makna yang ada didalamnya, setelah bapak mampu mengambil maknanya biasanya bapak akan membagi semuanya kepada kami dengan berbagai macam cara. Semenjak kecil saat hari libur tiba bapak selalu mengajakku duduk di teras depan rumah kami yang dipenuhi tanaman anggrek  dan tanaman hias lainya. Biasanya cemilan dan teh hangat buatan ibu juga selalu menemani sore kami. Bapak duduk bersila dan akupun duduk bersila di depanya, menatap jelas kedua bola mata bapak yang aku rasa selalu bergairah untuk bercerita. Saat itu aku baru sendiri, kedua adiklku masih dalam proses dilekatkanya ruh dan rasa cinta oleh sang pencipta, jadi saat itu aku  masih menjadi penguasa hati bapak dan ibuku. Filosofi jawa yang pertama kali  bapak ajarkan padaku adalah “ Ojo Dumeh “ yang artinya jangan mentang – mentang, tapi karena aku saat itu baru berumur 8 tahun, biasanya bapak selalu memasukan makna dari setiap filosofi kedalam sebuah cerita atau dongeng yang bapak buat sendiri, tujuanya agar aku bisa mengambil maknanya dengan cara yang lebih sederhana dan mengasyikan.selain “Ojo Dumeh” ada banyak sekali filosofi jawa yang bapak ajarkan kepadaku diantaranya “Nandur Paling Rejo “  yang artinya menanam kesabaran/kebaikan, “alon –alon waton kelakon” yang artinya pelan-pelan asal kesampaian. Sebenernya rangkaian filosofi yang sederhana ini mempunyai banyak makna yang sangat dalam dan bisa di aplikasikan di berbagai macam kondisi keadaan, tapi memang butuh waktu dan proses untuk memaknainya. Semakin hari semakin banyak filosofi yang aku hafal dan aku mampu maknai hingga aku mulai mencintai bahasa yang lahir dari tanah jawa. Maklum walaupun aku lahir dari keluarga yang berasal dari jawa namun aku besar di pinggiran jakarta jadi bahasa jawaku payah. Kebiasaan mendongeng ini rutin bapakku lakukan setiap hari libur bahkan sampai adikku yang kedua lahir dan meraimaikan keluarga kami yang awalnya hanya ada aku, ibu dan bapak. Hal yang sama bapak lakukan juga terhadap kedua adikku hingga suasana sore kami ketika libur menjadi lebih seru.

Bagiku aku merupakan salah satu anak muda yang beruntung, karena bapak selalu mengajarkan keindahan budaya jawa yang  sarat akan makna dan kesakralan. filosofi jawa yang bapak tanamkan sejak kami kecil tersimpan sangat lekat di dalam ingatan kami, hingga kami tumbuh dewasa dan filosofi jawa sering kali menjadi pembatas kami dalam menjalankan kehidupan.hal ini patut kami syukuri di tengah budaya barat yang begitu cepat menggerus masa muda kami, keindahan dan kesyahduan budaya jawa yang bapak bawa kedalam keluarga kecilnya membuahkan hasil yang sangat banyak bagiku dan kedua adik lelakiku. Aku dan kedua adikku merasakan kedamaian yang bapak tularkan semenjak kami kecil dari cerita-cerita pendek yang bapak sampaikan dan kesantunan yang bapak lakukan. Begitu juga dengan ibuku, ibu lebih menularkan budaya jawa kepada kami melalui kebersamaan yang sedemikian rupa ibu atur agar kami terbiasa. Mulai dari aku yang ibu arahkan menjadi wanita jawa yang tau akan kodratnya hingga pembagian tugas rumah yang ibu bagi secara adil untukku dan kedua adik lelakiku, teryata ibu mengajarkan gotong – royong sedari kami kecil walaupun tugas kami waktu itu hanya sebatas menyiapkan alat pembersih rumah yang akan keluarga kami gunakan untuk membersikan rumah, tapi ada tugas wajib bagi kami sedari kami berumur 5 tahun hingga saat ini yaitu kami harus bekerja sama dengan tubuh dan jiwa kami untuk bangun 15 menit sebelum subuh, jika kami tidak tepat waktu biasanya bapak dan ibu sudah menyiapkan hukuman yang pantas untuk kami biasanya hafalan surat kami perminggu akan bapak dan ibu tambah menjadi 2 kali lipat. Ini hukuman yang mendidik bukan?

Kehidupan bapak dan ibuku tidak pernah mengenal bangun siang, sehingga setelah menajalankan ibadah solat subuh biasanya semua anggota keluarga sudah siap dengan tugasnya masing – masing, dan suasana seperti itulah yang aku dan kedua adikku rasakan hingga saat ini. Rasanya itu teduh. bayangkan saja kami tumbuh dikeluarga jawa dengan segala seni dan budayanya hingga tempat tinggal kami layakanya rumah yang ada di Yogyakarta walaupun nyatanya kami tinggal di pinggiran Jakarta  semoga rumah kami ini bisa kami gunakan sehidup kami dan mengantarkan kami juga untuk sesurga nanti.hal terindah bagiku dan keluarga sudah kami lakukan semenjak aku dan kedua adikku  masih balita dengan pedoman agama dan kesakralan budaya jawa kami tumbuh menjadi sosok yang berbeda dari biasanya. Dan aku tidak sedikitpun malu untuk tetap melestarikanya. Semoga kelak aku juga mampu seperti bapak dan ibuku menularkan keindahan kesakralan jawa di dalam keluarga kecilku nanti. Bagiku budaya jawa mampu membuat kita hidup sangat terbuka namun tetap memiliki batasan seperti norma yang sudah di ajarkan agama. Karena bagiku hal indah tidak harus selalu menyenangkan namun harus mampu mengubah dan memberi makna bagi kehidupan .

Niken Larasati

9 September 2016            

Semi Fiksi