"Untukmu Kedua Adik Lelakiku"

Niken Larasati
Karya Niken Larasati Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 12 Agustus 2016

Untukmu kedua adik lelakiku....

Sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih  karena kalian sudah hadir di hidupku, menyeimbangkan keramaian rumah kita yang awalnya sepi karena hanya ada aku, bapak dan ibu. bagi aku dan ibu,  kalian adalah pendamping bapak untuk menguatkan kami. kalian berdua adalah benteng kami ketika kami resah akan rasa aman.

aku adalah anak pertama yang lahir dari rahim ibu, saat ini umurku sudah 25 tahun. umur ku ini sudah tidak lagi muda, banyak tanggung jawab dan kewajiban yang harus aku tunaikan sehingga aku rasa aku butuh bantuan kalian. semoga kalian bersedia tapi sebelumnya ada satu kata yang harus aku sampaikan..kata itu adalah "maaf"

Untukmu kedua adik lelakiku....

mungkin kata maaf ini tidak bisa sepenuhnya kalian terima dengan lapang, bagaimana kalian bisa lapang?  masa muda kalian aku batasi, setiap hari celotehanku mungkin seperti burung yang tidak berhenti berkicau, aku tau kalian muak mendengarnya.tapi kalian harus tau aku bukan semata - mata mengambil alih wewenang bapak dan ibu, tapi aku adalah anak pertama yang juga mempunyai kewajiban untuk membawa keluarga kita agar baik di mata sang pencipta dan bermanfaat bagi sesama.ibu dan bapak saat ini tidak lagi muda mereka sudah mulai menua dan berbagai penyakit sudah sering sekali bertamu di tubuh bapak dan ibu.semoga saja kalian maubersedia mendengarkanku selayaknya kalian mendengarkan nasihat bapak dan ibu.

Untukmu kedua adik lelakiku....

jangan pernah merasa apa yang aku lakukan tidak adil, aku hanya ingin kalian menjadi pribadi sebagaimana yang di haruskan tuhan.kelak setelah kalian beranjak dewasa kalian akan memiliki kehidupan dan sebagai lelaki kodrat yang tidak bisa kalian tolak adalah kelak kalian akan menjadi imam bagi teman hidup kalian, menjadi bapak untuk jagoan-jagoan kecil kalian. untuk menjadi seperti itu kalian harus belajar dan lebih peka pada sekitar .sederhana saja, coba perhatikan bapak yang saat ini sudah mulai menua, bagaimana dia berjuang sekuat tenaga dengan kondisi jari  kaki yang sudah tidak lengkap bapak tetap berjuang untuk anak- anaknya. ketika kalian masih tertidur pulas bapak harus bangun dan segera bersiap untuk berangkat kerja. aku tahu bapak letih semoga kalian juga bisa memahami keletihan bapak. di saat keluarga kita tidak tercukupi dulu aku tahu bapak selalu mencari tambahan di luar entah ngojek atau yang lainya.pahamilah itu dik. dan coba perhatikan ibu , ibu selalu bangun pagi untuk menyiapkan makan kita di tengah lelah seharian mengurus rumah ibu mencoba tetap kuat. ibu selalau menguatkan kita disaat kita rapuh.

aku tidak mengharuskanmu untuk menjadi seperti apa dan siapa, aku hanya ingin kalian mampu bertanggungjawab layaknya seorang hamba kepada tuhanya, seorang anak kepada orang tuanya, seorang imam bagi teman hidupnya, seorang ayah kepada anaknya dan sebagai manusia kepada sesamanya

bantulah aku untuk menjadikan keluarga kita luar biasa di mata sang pencipta, bukankah sang pencipta sudah menjanjikan surga?

Jakarta, 12 Agustus 2016