Matilah

Nanda Juliyan
Karya Nanda Juliyan Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Februari 2016
Matilah

Pagi , bias cahaya fajar yang meninggi menegaskan bahwa hari baru mulai datang, namun kegelisahan dan gundah semalam masih jelas menegaskan jika sampai pagi ini bekas tapak senyum yang samar masih membekas. Insomnia masih terus membayang di pekat sepertiga malam. Heningnya yang menenangkan. Membuat semakin nyaman menggundahkan diri.

Aku tak tau berapa banyak hati yang harus terabaikan, bukan karena ingin, tapi karena belum. Sapa senyumnya masih belum terganti oleh sela-sela hari baru. Lukisan manis karya pencipta yang kadang terasa kaku karena dingin sikapnya lah yang ku tunggu. Andai ku bisa akan ku panasi itu agar tidak basi. Tapi sejauh kaki melangkah, sejauh itu dia mematung Dan sejadi mungkin aku diam semakin dekat tuntutanmu datang

Dia jelas menolakku dengan semua dingin dan ketidakpeduliannya, Tapi aku masih tetap membenarkan dengan keacuhanku. Hati kita bukan hati yang mudah menerima. Bukan juga hati yang terlalu butuh pengakuan. Diam dan pergi lebih baik daripada harus saling meyakinkan. namun Labirin yang kau buat memuakkan langkah ku yang terburu-buru membuntutinya dalam diam.

Aku tak tau berapa banyak hati yang harus di siakan. Yang aku tau diam membuatku sedikit nyaman. Bukan karena tak bisa berkata, tapi ada kalanya membiarkanmu berkoar lebih menyenangkan. Teruslah kau teriakan tentang rasamu, yang aku tau tak sedikitpun hatiku beranjak padamu. Teruslah melihatku dari barisan bilik masalalu yang kau samakan denganku, tapi yang perlu kau camkan dalam ujung pemikiranmu. Aku bukan dia yang pernah jadi bayanganmu. Aku hanya lelaki yang mencintainya dalam ke acuhan.

Terkadang sinar itu menyilaukan, tapi kadang silau itulah yang kubutuhkan agar tetap melihat ke belakang. Dari tapakan kaki yang terikat bayanganmu aku mengenangnya. Tentang bagaimana dia masih tersenyum dalam dinginnya. Dan kau masih berusaha hangatkan aku sejenak oleh mu. yang pradugamu selalu menuntut aku menjadi sesuatu yang pernah kau miliki. Lantas bagaimana aku meniru sedang aku tak tau sosok itu dan tak menginginkanmu.

Aku tak tau berapa banyak hati yang tetap di diamkan. Yang aku tau sampai saat ini pun hatiku masih di diamkannya. Mungkin bisikanku kurang keras, atau mungkin tunggak yang tertancap di kerongkongan ini yang terlalu menyakitiku untuk berteriak. Berusahalah biasa, seperti aku yang masih pura-pura biasa di depannya. jika itu sulit untukmu, bunuhlah dirimu dengan ketidakpedulianku. Karna itulah yang kupakai untuk mati kemarin.

?

  • view 92