Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 12 Juni 2018   19:02 WIB
Ketika Tikus Berpolitik

“Saya mau maju sendiri, apa tidak boleh?”

Belasan penghuni ruang itu melihatnya dengan tatapan heran, ada pula yang seolah menghakimi.

Tidak perlu waktu lama, salah satunya langsung menyahut, “Boleh saja, Bu, tapi saya jamin Anda tidak akan mendapatkan dukungan apa pun dari rakyat. Kami ini adalah media yang bisa mendorong Anda untuk menduduki kursi singgasana emas itu. Lihat, Anda takkan bisa apa-apa tanpa sokongan partai ini.”

“Betul, itu, Bu!” sorak yang lainnya.

Kepala-kepala hitam itu membawa lidi-lidi yang sudah dililiti kain—manusia bilang itu bendera. Dan, partai mereka pun memilikinya dengan logo sendiri-sendiri di kainnya.

“Kalau begitu, apa jaminan yang bisa kalian beri bahwa saya pasti akan menang?”

Yang tadi pertama menyahut kembali bicara, “Tentu saja banyak. Kami punya pasukan khusus untuk mengawasi jalan-jalan yang Ibu lewati. Ibu tidak akan terpeleset dan terkena lem sehingga menjadi tak berdaya tinggal menunggu kematian. Kami juga tidak akan membiarkan Ibu jadi santapan truk jalanan dan mati lemas dengan perut terburai. Ugh, menyedihkan. Dan, satu lagi! Kami punya banyak stok sosis, tuna, ikan, dan keju! Kami juga punya berliter-liter air yang bisa diminum sampai kembung, dan belum juga habis.”

“Untuk apa stok makanan dan minuman?” tanyanya sambil mengerjapkan mata kebingungan. Ekornya yang pendek ikut bergerak-gerak.

“Ah, apakah Ibu tidak tahu bahwa  perut warga kita besar-besar dan sering kosong? Untuk menyumpal mereka sampai kenyang, kita butuh semua itu. Jika perut mereka kenyang, mereka takkan bisa banyak bicara dan hanya akan menuruti mau Ibu saja.”

Kali ini ibu itu tersenyum lebar sekali, menunjukkan deretan giginya yang bau dan menyeramkan.

“Jadi, Ibu setuju?”

“Tunggu. Apa untungnya untuk kalian jika membantuku?”

“Kami mendapatkan pemimpin paling baik sepanjang masa, tentu itulah satu-satunya keuntungannya!”

Ibu itu manggut-manggut percaya, sementara pasukan yang lain diam-diam saling pandang sambil meneteskan liur ke got-got di bawah mereka.

***

“Ibu tidak bisa menambah pasukan penjaga untuk lorong-lorong itu. Budget kita tidak cukup banyak untuk membayar mereka dengan makanan jika mereka lapar. Cukup yang ada saat ini saja,” sanggah anggota dewan saat rapat pertikusan hari itu. Mereka tak pakai dasi, tapi semuanya kompak pakai topi.

“Kenapa? Itu juga untuk kesejahteraan kehidupan kita semua, ‘kan? Terlalu tinggi kasus tikus yang mati terinjak atau kecemplung got. Dan sisanya terkena lem serta penjepit sehingga mati dengan lebih menyakitkan.”

Anggota yang lain menyanggah, “Biarlah mereka mati, Bu. Ingat, angka kelahiran juga meningkat. Akan ada banyak pengganti mereka. Kalau satu mati, bisa-bisa lahir sejuta. Kita tak perlu khawatir.”

“Benar, Bu. Biarkan mereka mati.”

“Bagaimana kalau penjeratnya semakin banyak dan pasukan kita sedikit? Lama-lama kita akan habis walaupun angka kelahiran tinggi.”

Tikus yang dulunya menjadi tim sukses nomor satu di partai pendukung unjuk suara. “Bu, jangan buat keputusan konyol. Ingat, uang masih harus dibagi rata atas perjuangan kami partai pendukungmu. Dan ingat jasa-jasa kami seharusnya dibayar dengan diterimanya pendapat kami. Mutlak.”

Ibu tikus tiba-tiba merasa oksigen di sekitarnya terampas. Bau got menguar di penciumannya. Dia baru sadar bahwa partainya telah menjeratnya. Seringaian dari barisan anggota dewan itu ketika mereka mengangkat topi bersama-sama, adalah bencana. Ini lebih buruk dari kematian!

Bodohnya, seharusnya aku tak pernah percaya bahwa mereka akan mendukung secara gratis. Sialan, sialan, sialan!, rutuknya dalam hati.

Bersama dengan itu, satu tikus lagi kecemplung got, tak bisa berenang, dia pun mati. Satu lagi terkena jerat penjepit dan menggelepar. Satu lagi kembung makan lem dan terkapar. Satu lagi menyeberang tak hati-hati dan ususnya langsung meloncat keluar. Satu lagi diam di ujung jalan, mendesis, politik bikin masygul saja.

 

end.

Karya : Niswahikmah