Kupu-Kupu Hitam

Niswahikmah
Karya Niswahikmah  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 September 2017
Kupu-Kupu Hitam

             KUPU-KUPU hitam itu mendatangi anakku lagi. Dia berhenti menarikan jemarinya di atas kertas, lantas membalas tatapan skeptis milik si kupu-kupu. Ketika pandangannya semakin menajam, kupu-kupu malang itu mengalihkan tatapan dan terbang menjauh. Anakku, seorang gadis delapan belas tahun, mendengus kesal.

            Beranjak, ia mengambil mug dan menuangkan teh yang ia simpan di termos ke dalamnya. Setelah meniup-niupnya sejenak, ia meneguknya perlahan. Dalam hening, siapa pun bisa mendengar gerutuannya. Gerutu yang kadang harus kuingkari keberadaannya, namun selalu mengiang dalam benak.
            “Ibu, kupu-kupu itu datang lagi. Keabadian seperti apa lagikah artinya?”
 
***

            DEWI anakku, masih suka datang ke taman penuh bebungaan itu, memetik satu-dua bunga, lantas merangkainya untuk dirawat di dalam vas. Mengharumkan rumah yang kini ia tinggali hanya dengan sang nenek, namun sekaligus menarik kehadiran si kupu-kupu hitam.
            Ia berusaha keras mengabaikannya, ketika tatapan kupu-kupu itu terasa begitu sendu. Dipilihnya untuk tetap membereskan baju-bajunya, sembari bersenandung.
            “Wi, bisa bantu nenek sebentar? Benangnya ndak bisa masuk ke jarum,” panggil neneknya, ibuku yang telah beruban semua rambutnya.
            “Ya, Nek, sebentar.”
            Ia beranjak, sekilas memandang kupu-kupu hitam dengan pandangan bengis, namun segera datang menuju sang nenek. Ia merebut jarum dari tangan nenek. Tanpa sadar, bibirnya tertekuk ketika memasukkan benang ke dalam lubangnya.
            “Ada apa?” tanya neneknya, mengusap lamat-lamat rambut Dewi yang lebat.
            Dewi terperanjat, seakan baru sadar bahwa ia tidak sepenuh hati melakukan pekerjaannya. Neneknya tersenyum memandangnya, namun ia tidak merasa perlu menjelaskan apa-apa.
            “Kupu-kupu itu masih ada untukmu?” tanya nenek.
            Dewi meletakkan jarum yang ia pegang. Dihelanya napas, sebelum mengangguk.
            “Ada tidaknya kupu-kupu itu, adalah sebagian dari ukuran keikhlasan hatimu, Dewi,” ujar wanita tua itu, sebelum memungut jarumnya dan menjahit sisi dasternya yang berlubang.
            “Apa Nenek masih juga merasa itu hanya fatamorgana?” tanya Dewi, mengerutkan kening. Neneknya hanya tersenyum, dan aku termangu dalam hening.


***
 
            TIDAK peduli sore yang cerah, pagi semerbak indah, atau malam yang gulita, kupu-kupu itu selalu datang. Setidaknya satu kali sehari, untuk menghinggapi buku yang Dewi tulisi, atau sekadar melayangkan pandangan sendunya.
            Aku tidak keberatan menungguinya, meski kadang kesedihan terlampau sakit mendera batinku. Melihatnya menatap kupu-kupu itu, mengingatkanku pada cerita yang kukarang dahulu kala untuknya.
            Kukatakan pada jiwa kecilnya, bahwa kupu-kupu itu perwujudan dari keabadian. Simbol terhapusnya rasa fana, berganti dengan kekekalan. Setiap kupu-kupu hitam datang, ia pasti sekadar ingin mengabarkan berita abadi. Kuucapkan jua, bahwa keabadian tak selalu menyedihkan. Ada kalanya, kupu-kupu hitam itu mengabarkan keabadian cinta kasih yang tersampai dalam kelanggengan pernikahan. Namun, ada saatnya sang kupu-kupu ingin menceritakan duka nestapa, dalam direnggutnya nyawa manusia.
           Kisah kecil itu hanyalah dongeng pengantar tidur. Kisah singkat itu hanyalah penghalau mimpi buruk. Namun, aku tidak mengerti jika imajinasi Dewi berkembang terlalu jauh.
            “Jelmaan dirimukah ini, Bu?”
            Aku terenyak, keluar dari lamunannya. Terbelalak ketika Dewi sudah mencengkeram sayap si kupu-kupu dalam rengkuh tangannya. Dan, mata kupu-kupu itu sayu dalam dekapannya.

***

            DEWI pulang dari kuliahnya, membawa setumpuk beban. Beban sebagai ketua organisasi, beban tugas bertumpuk-tumpuk karena ujian telah dekat, juga beban dari hujaman tajam kupu-kupu hitam yang tadi datang ke kantin fakultasnya.
            Nenek yang sudah tua hanya bisa menyiapkan makanan ala kadarnya, sambil menenangkan sang cucu. Bahwa semua perjuangan yang ia lakukan hari ini akan menuai hasil yang manis. Hanya segelintir petuah umum yang coba ditelan mentah-mentah oleh Dewi, tanpa meresapinya dalam kalbu.
            “Kupu-kupu itu masih datang, Nek,” ungkap Dewi setelah ia selesai meminum airnya.
            Wanita beruban yang adalah ibuku itu tak pernah lelah menebarkan senyumnya. Keriput di wajahnya telah kentara, menyebabkan senyum itu terlihat semakin bersahaja. Perlahan, ia menggenggam tangan Dewi, seakan menyalurkan rasa sayang dari hati terdalam.
            “Dulu, kamu bilang, kupu-kupu hitam datang ketika hari pernikahan om dan tantemu. Tapi, pada akhirnya ommu selingkuh, dan mereka berakhir cerai,” mulai nenek. Ia menghela napas sebelum melanjutkan, “Lalu, kupu-kupu itu, menurutmu, juga datang ketika ayahmu menanam pohon mangga. Tapi, pohon mangga itu ambruk karena angin puting beliung.”
            “Dari situ, pelajaran apa yang bisa kamu ambil, Wi?”
            Terkuncilah mulut Dewi. Hendak berkata pun ia terbata. Lantas, tatapannya tertuju pada simbol hitam itu. Kupu-kupu itu, kini menghinggapi tangan nenek. Dia gemetar ketakutan.
            Nenek tidak menyadari, hati Dewi mungkin telah sedingin es ketika beliau berkata, “Tak pernah ada yang abadi di dunia ini, Sayang.”
***
 
            ALANGKAH berharganya simbol hitam dari sayap kupu-kupu itu untuk Dewi, sampai-sampai ia sering tidak tidur semenjak itu. Aku menemaninya di ujung jendela kamar, hendak membisikkan pengantar tidur namun tak mampu. Ia tak kunjung terlelap, hingga dini hari menjelang.
            Menuliskan sesuatu tak lagi seindah biasanya, tugas kampus pun telantar dari tangannya. Teman-temannya datang silih berganti, kendati ia tak mau mengungkap apa alasannya terus melayangkan pandang jeli pada sang nenek. Seolah dalam sekali kedip saja, ia akan ditinggalkan dan tak sempat meminta restu dari bibir wanita itu.
            Tak peduli berapa banyak neneknya berkata, “Nenek sehat.”
            Tak peduli berapa banyak selentngan miring tentangnya beredar dan tertangkap indra pendengarannya.
            Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan hal itu terjadi. Namun, yang ia lupa, ia tidak pernah lagi menangkap sosok kupu-kupu hitam itu.
            Ketika ia sadar, ia segera mencarinya. Di bawah kolong tempat tidur, di sela buku-buku, sampai di celah-celah tumbuhan milik kampus. Tapi, kupu-kupu itu raib. Dan, bersamaan dengan itu, aku merasakan keceriaannya kembali. Keberadaanku memudar perlahan-lahan. Aku tersenyum menyadarinya.
            Pada jangka waktu setahun setelah tak ditemukannya kupu-kupu itu, aku hampir menghilang. Namun, tajamnya tatapan Dewi senja itu tak akan kulupakan.
Ia melihat lagi sayap hitam si kupu-kupu.
            Tetapi, kupu-kupu gelap itu pergi, terbang berputar-putar. Aku lunglai ketika Dewi mengejar-ngejarnya, menerkamnya seperti harimau kelaparan. Ia menggenggamnya kuat seakan ingin menghilangkan nyawa dari si kupu-kupu. Bersama dengan dokumen-dokumen riwayat hidupku, ia memberangusnya dengan api yang membara.
            Terakhir kali yang kulihat adalah air mata yang mengaliri pipinya.
            “Ibu, selamat tinggal. Simbol keabadian itu tidak akan menjadi simbol untuk kematian orang lain lagi, apalagi bagi Nenek. Berbahagialah di sana, Bu.”
            Dan, aku bungkam. Terdiam dalam hening yang panjang, hingga sayap kupu-kupu itu lumer dalam bara api, dan tubuhku pun hilang berangsur-angsur menemui kelabu.
 
***
 

  • view 188