Ketika Senja Temui Sayapnya

Niswahikmah
Karya Niswahikmah  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juni 2017
Ketika Senja Temui Sayapnya

 Sejak dulu, Senja tidak pernah tahu apa nama parfumnya. Ia hanya menyukainya, sesuka ia pada gumpalan awan yang membentuk bentuk-bentuk unik sesuai arah angin membawanya bergerak. Dengan kesukaan itu, Senja seringkali lupa kapan harus keluar dari kungkungan wangi parfum yang tenang dan memabukkan itu. Acapkali candu itu membuatnya enggan sekadar melepas sabuk pengaman dan segera beranjak.

 “Sebentar lagi saja,” selalu itu dalihnya.

 Tapi, dia tahu, bagi Senja, sebentar adalah menikmati seperangkat sore sampai bedug bertalu. Jadi, terkadang dia sengaja menghentikan diri di depan sinar mentari senja, menikmati bola kuning keemasan itu mulai menenggelamkan diri. Mengubah warna menjadi kuning kelam, atau justru bertransformasi menjadi jingga. Sesekali kelabu, sesekali bercampur dengan biru.

 “Senjanya cantik.”

 Dan, Senja akan langsung menyahut, “Terima kasih.”

 Dia tertawa bergelak-gelak, merdu nian terdengar di telinga sang gadis. “Bukan kamu.”

 “Jadi, sekarang aku kalah cantik dengan yang itu?”

 Senja mengerucutkan bibirnya kesal. Dari dulu, ia senang sekali mengeluh tentang namanya. Ia merasa jadi korban sang ibu yang maniak dengan senja. Sama dengan pria di sebelahnya, selalu tak berkutik jika sudah dihadapkan dengan sinar mentari yang akan meninggalkan hari. Hanya sekejap, tapi momen itu seakan mengabadi di pelupuknya.

 “Tidak. Kamu tetap yang utama, Senjaku.”

 Jika kalimat pamungkas itu sudah diucap, dengan sendirinya Senja berhenti menggerutu dan tersenyum lebar sekali. Dihidunya lagi tenang-tenang wangi parfum itu, menguar ke udara dibawa oleh air conditioner. Dihirupnya lagi aroma menyejukkan itu, selagi ia memandangi gumpalan awan yang melingkupi senja.

 Sama sekali tidak tertarik dengan senjanya.

***

Suatu kali, senja berhenti nampak selama berbulan-bulan. Senja yang jingga itu hilang ditelan hujan badai, pekatnya awan yang berarak membentuk formasi acak, pula langit yang senantiasa menutupi keberadaan mentari. Bumi lebih sering dinaungi kegelapan.

Saat itu pula, dia berubah. Senja tidak lagi mendapati dirinya diberhentikan di depan hamparan ilalang, sekadar untuk menatap langit dan hujan yang tengah berkolaborasi. Tidak lagi ia bisa menghirup wangi parfum itu lama-lama, malah pernah ia kehilangan aroma itu berhari-hari dengan alasan “sibuk”.

“Nah, memangnya sesibuk apa, sih? Sampai aku jadi yang keseratus,” cecarnya waktu itu.

Saat itu juga, dia berhenti.

“Jangan kekanakan. Aku juga punya banyak urusan. Kampus kita beda.”

Beda. Beda itu diucapkan dengan tekanan, membuat Senja mendengarnya seperti: kampusku tidak selevel dengan kampusmu. Dan, seketika membangun paradigma berpikir bahwa ia tidak satu tingkat intelejensi dengan pria itu.

Senja terdiam segera. Pandangannya yang memanas hanya bisa menatap sayu pada gumpalan awan yang kian gelap memenjarakan langit. Sama sekali tidak ada tanda akan berangsur terang, apalagi menunjukkan kemilau matahari sorenya.

“Kalau kamu terus seperti ini, lebih baik kita fokus pada jalan kita dulu. Masing-masing.”

Mengiringi keputusan yang terdengar final itu, untuk pertama kalinya Senja ingin melihat senja. Untuk pertama kalinya, Senja tidak suka dengan gumpalan awan gelap itu, dan benci hujan yang membantai bumi.

Karena saat itu, tidak ada yang bisa diucapnya selain, “Ya sudah.”

 

Dalam sekejap, kehidupannya berubah. Aroma itu tidak lagi pernah dihirupnya. Berulang kali ia terbayang wangi itu, menabrak mimpi indahnya, tiba-tiba datang saat ia menaiki tangga fakultas, bahkan mengiringinya saat sedang memilih baju di mall.

Ia berdelusi untuk waktu yang lama. Sampai akhirnya, Senja memutuskan mendatangi senja. Memandangi kesejukannya, bukan untuk mengenang masa lalu, tapi untuk mencari aroma itu dalam belukar memorinya. Wangi itu akan muncul menyapa indranya saat ia berdiri menghadap matahari yang akan tenggelam.

Saat itulah, untuk pertama kalinya ia tahu, senja tidak seburuk itu. Awan yang mengiringinya, biarlah menjadikannya purna. Sebagai satu kesatuan yang melengkapi, bukan untuk dipisah-pisahkan keberadaannya.

***

Itu sudah berlalu lima tahun lamanya. Namun, bukan untuk dilupakan, apalagi dihapus dari kotak memori.

Karena hari ini, tepat tertanggal duapuluh lima Maret, Senja akhirnya menemukan wangi itu melebur menjadi begitu pekat. Seperti sudah diendapkan bertahun-tahun lamanya. Tangan bekas genggaman berbau parfum itu, baju yang dikenakan menguarkan aroma sama, begitu pula kendaraan yang ia tumpangi.

“Bisa berhenti di tempat yang dulu?” ia bertanya pelan.

Senja tidak berubah sejak hari ia menyukai senja dan awan sebagai satu kesatuan yang utuh menyempurnakan. Ia hanya berubah dari segi fisik, dengan hijab yang dikenakannya dan pakaian indah berkelap-kelip yang menghias tubuh anggunnya kini.

“Untuk apa? Bukankah menyakitkan mengingatnya?”

Orang di sebelahnya menjawab dengan bertanya ulang. Alis dinaikkan, kepala ditelengkan. Senja tersenyum tipis, kembali bahagia dengan udara yang sesak dengan aroma cintanya.

“Berhenti saja. Kenangan itu mengharukan.”

Dia berhenti pada akhirnya. Agak bersyukur bisa mengalami kejadian yang sama seperti bertahun-tahun silam, dengan balutan suasana yang betul berbeda. Hanya kesukaannya saja yang tidak berubah.

“Kamu itu keajaiban, ya, Say.”

“Asli, jangan panggil gitu.”

Senja tertawa. “Salah sendiri, namanya Sayap. Bukannya dikira Sayap, malah dikata aku panggil ‘Sayang’.”

Pria di sebelahnya tertawa. Tawa yang masih sama, menguapkan aroma pekat itu kembali ke udara.

“Rasanya baru kemarin kita lihat senja sama-sama.”

“Rasanya baru kemarin kita putus di tengah senja.”

Mereka tertawa bersama. Tangan Sayap mengikis jarak, berlari menggenggam jemari milik Senja yang dipenuhi ukiran henna. Setiap genggamannya terasa nyaman bagi Senja, dan mengundang aroma itu tiba dan tiba lagi.

“Biarkan aku jadi sayap pelindungmu, supaya kamu tidak limbung atau jatuh.”

Senja tersenyum kecil. “Biarkan aku jadi tubuh yang menjaga sayapmu, agar tidak patah. Atau jika terpaksa patah, akan kuperbaiki semampuku.”

Pada akhirnya, takdirlah yang bekerja. Mempertemukan mereka kembali dalam ikatan sakral di tengah hamparan senja yang kadang jingga, biru, atau abu. Dan, dalam garis takdir, sesungguhnya mereka tak akan lagi dipisahkan oleh hujan badai, sepekat apa pun awan yang nantinya hadir menaungi langit. Tanpa setitik cahaya pun.

 

—fin.

  • view 27