Matinya Senja

Niswahikmah
Karya Niswahikmah  Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Juni 2017
Matinya Senja

by Niswahikmah

 

Senja sakit. Sudah berhari-hari dia meringis-ringis tidak keruan di atas tempat tidurnya. Awan-awan yang berarak kebingungan, biasanya senja begitu atraktif untuk memunculkan diri dan membagi senyumannya kala petang datang, namun kini ia hanya cemberut dengan muka semrawut di balik bantalnya. Bahkan sekalipun itu kelabu, semestinya senja tetap datang. Tapi, ia malah menyembunyikan diri di balik arakan awan.

Tidak tahu senja sakit apa. Kata angin yang datang menjenguk beberapa waktu lalu, bercak merah dan oranye miliknya hilang sehingga ia terlalu malu alih-alih takut muncul di langit. Namun, awan yang mondar-mandir di depan bilik tidurnya merasa yakin masalahnya lebih dari itu. Senja sudah terlalu sering muncul dengan gurat monokromnya, jadi untuk apa ia takut atau malu muncul tanpa warna oranye atau merah? Itu tidak logis, bantah si awan.

Matahari pun hanya angkat bahu ketika ditanya pendapatnya. Ia tidak tahu mengapa senja lebih suka bergulung di atas kasurnya dibanding muncul memberi kehangatan pada jutaan manusia? Ia beranggapan senja tidak mungkin sakit terlalu parah, apalagi yang dekat dengan kematian, karena selama ini senja tidak muncul hanya beberapa kali—itu pun karena sakit hati. Apakah dia kasmaran lagi, jatuh hati namun tidak mendapat posisi, sehingga patahlah hatinya?

Urusan ini menjadi sangat rumit. Matahari tergelincir, dan senja tetap tidak mau menampakkan sinarnya seperti hari-hari sebelumnya.

***

Senja juga tidak ingin terlalu lama mengendap di bilik pribadinya. Jika boleh memilih, ia ingin memunculkan diri bersama arak-arakan awan juga, meski sakitnya tidak mampu ditahan. Tapi, ia tidak ingin lenyap dan mati karena melakukan hal bodoh itu atas dasar egoisme perasaan. Ia harus sembuh untuk bisa menghangatkan penduduk bumi lagi, bukannya menghilang dari daftar nama penduduk langit dengan mengenaskan.

Waktu menjenguknya, angin bertanya, “Memang sakitnya seperti apa, Senja?”

Ia menggeliat sejenak, tersenyum tipis. “Entahlah, rasanya seperti badanku remuk. Seperti ada yang terluka namun tidak terlihat. Mungkin, ini karena warna merah dan oranyeku mulai pudar.”

Angin manggut-manggut saja. Entah ia mengerti atau tidak. Entah angin itu bicara apa pada teman-temannya yang lain mengenai penyakit senja. Senja tidak ingin memikirkannya, dan tidak bisa terlalu memikirkannya, karena sungguh, beban mengenai penyakitnya saja sudah cukup berat, mana bisa ditambah dengan memikirkan perspektif angin mengenai dirinya juga? Itu terlalu susah.

Awan yang setia menjaga pintunya berkali-kali berbisik, “Apa kau baru ditolak oleh penduduk langit lainnya? Kau jatuh cinta pada bintang? Atau bulan? Dan kalian tidak bisa bersama?”

Omong kosong. Senja sedang tidak main asmara belakangan ini, sejak terakhir kali ia tahu lenyap demi malam sangatlah menyakitkan. Ia tidak ingin mencintai siapa-siapa lagi. Atau apa-apa.

Awan tidak tahu kalau senja tidak akan sampai seminggu lebih berada di pembaringannya jika itu hanya perkara sakit hati. Ia lebih tangguh daripada itu. Menggeliat lagi, ia memukul-mukul bagian yang terasa sakit. Sakit sekali, sampai rasanya ia ingin menghilangkan diri.

“Masa hanya karena kehilangan jingga kau sampai seperti ini? Kau harus tetap hidup dan muncul demi banyak orang. Jangan egois!”

Teriakan awan kali terakhir benar-benar membuatnya ingin memberangus awan itu sampai jadi abu. Dasar tidak punya perasaan pada orang sakit.

***

Sudah berminggu-minggu senja tidak hadir. Koran-koran di kota memberikan pernyataan bahwa ini fenomena terdahsyat yang pernah terjadi di bumi. Senja yang rajin hadir disebut-sebut sedang beristirahat, mencari tempat baru. Ada yang bilang senja hanya tidak muncul karena teori ilmiah A sampai Z. Ada juga yang menyangkut-pautkannya dengan tradisi-tradisi tahayyul atau kekuatan supranatural.

Majalah-majalah di kota juga menuliskan bahwa senja harus segera hadir karena sudah banyak kekacauan yang terjadi. Banyak anak-anak kecil menangis karena merasa kehilangan. Pengunjung pantai berkurang drastis akibat tidak adanya lagi pemandangan yang bisa dilihat. Lautan yang asin dan pasir yang basah terlalu membosankan untuk dilihat dalam satu lanskap tanpa keberadaan senja. Belum lagi dengan dukun-dukun yang marak berpraktik kembali meladeni orang-orang yang pesan agar senja segera dipanggil kembali. Polisi pun jadi sibuk karena harus menangkap kasus-kasus serupa Dimas Kanjeng atau malah Eyang Subur.

Maka, demi melihat kekacauan yang terjadi di kotanya, seorang gadis kecil dengan gaun menjuntai itu melangkah di pasir pantai yang basah, menatap cakrawala hanya untuk melihat awan biru berarak dan debur ombak mengalun. Di sana, ia berlutut dan menangkupkan kedua tangannya.

“Kembalilah, senja. Aku mohon. Semuanya merindukanmu, tidak terkecuali. Tidakkah kautahu?”

Senja yang meringkuk di atas kasurnya semakin melemah. Ia lebih kepada lelah dibandingkan terlalu kesakitan. Ia lelah terus berada di sini, bersembunyi bersama penyakitnya, namun terlalu riskan untuk memaksakan keluar.

“Senja, tolonglah. Semuanya kacau tanpa keberadaanmu.”

Tapi, senja lebih kacau lagi. Dia ingin bunuh diri saja sekarang. Namun, sebelum itu, ia memaksakan diri beringsut untuk memunculkan diri. Sekali saja, untuk kemudian menghilang selamanya.

Ia mengintip ke celah awan, kemudian berbisik, “Aku mau keluar, Awan.”

Awan bergeser perlahan, mempersilakan senja menempati posisinya yang biasa. Dari atas sana, senja bisa melihat gadis kecil yang tertunduk memohon itu. Gaunnya melambai-lambai diterpa angin, sementara kakinya tenggelam pada pasir-pasir dan air laut itu. Amis dan dingin.

Senja tersenyum dalam tertatih-tatihnya. Dia sudah terlalu sakit untuk tahu keriuhan apa yang mendadak digaungkan manusia. Orang-orang yang begitu merindukannya harus merekam momen beberapa detik itu untuk melenyapkan kerinduan. Yang tertidur atau sibuk bekerja sore itu akan sangat menyesal di kemudan hari karena tak memiliki kenangan apa pun mengenai senja yang kemerah-merahan dan menyala di cakrawala.

“Terima kasih, Senja.”

Senja cuma mendengar kata-kata itu bersahut-sahutan dari banyak mulut sebelum ingatannya memudar. Keberadaannya ditutup oleh gelap langit, dan penduduk bumi nantinya akan mengetahui bahwa itulah kali terakhir senja menampakkan diri.

Senja sakit. Sakitnya sudah terlalu parah.

  • view 64