Mentari Terakhir

Nisa Risti Mustikasari
Karya Nisa Risti Mustikasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 September 2016
Mentari Terakhir

 

“Lagi ngapain?” sebuah suara di ujung telepon sana yang teridentifikasi oleh otakku sebagai suara dari seseorang bernama lengkap Rayandra Arditiawan terdengar masih segar meski jam di meja samping tempat tidurku jelas menunjukkan ini sudah jam satu pagi.

“Kira-kira?”

“Eunghh…” Raya mengerang

Aku mengubah posisi tidurku, mencari spot yang lebih dingin di ranjang queen size ini sebelum menjawab, “Tebak!”

“Tarohan. Baca sambil gegulingan gitu di kasur?”

Exactly.

“Mata kamu nanti rusak, darling.”

“Udah rusak kok.”

“Tambah rusak kalau gitu.”

“Bodo amat.”

“Baca apaan sih, segitunya? Jam segini masih dibaca.”

“Ada deh. Berat pokoknya. Kamu nggak bakal tau.”

"Tuh kamu mah suka underestimate gitu."

 

Kembali aku berguling, mengubah posisi tidurku, tanpa sebuah buku pun di tangan sebenarnya, karena bukan buku yang sedang kubaca.

“Baca buku apa sih, Nay? Pelit amat ga mau ngasi tau.”

 Bukan buku, Raya… ini lebih dari sekedar buku. Aku bahkan tak pernah berhasil membacanya dengan sempurna. Pikiranmu.

 “Ada deh pokoknya.”

“Ya udah, gapapa deh. Hmm…So…” ada hela nafas Raya yang tertangkap telinga. Aku tak suka situasi seperti ini, ketika ada nada menggantung di ujung.

“Besok jadi kan?” Raya melanjutkan ucapannya.

Ada rasa berat untuk menjawab. Tenggorokanku tercekat.

Jangan dulu salah sangka. Aku dan Raya bukan berencana untuk berkencan di akhir minggu meski besok memang hari Sabtu. Justru sebaliknya, kami akan mengakhiri sesuatu, yang sebenarnya belum dimulai.

“Oke, sip.”

Our last sun.

Secara tak sadar aku seperti tergiring mengulang ucapannya, “Our last sun…

"..."

"..."

You know, Naya, I’m gonna miss this kinda late nite conversation. WIth you.

 

Me too, Raya…indeed.

 

“Ya udah. Ketemu besok ya…jangan telat jemput. Waktu kita nggak banyak.”

“Kamu juga jangan telat bangun. Makanya tidur sekarang ya!”

“Oke bos!” tanganku mendarat di kening, seperti menghormat, padahal Raya tak akan mungkin bisa melihat.

See you soon, sunlight…

Stop calling me sunlight. Berasa pencuci piring tau!”

“Ralat kalo gitu. Sleep tight, Santi Suntoro.”

“Santi Suntoro?”

“Sampai nanti see you tomorrow.”

“Garing sumpah.”

 ===

Mentari terakhir itu kami jemput hari ini. Setelah dengan wajah yang kusut masai aku tak meniduri kasur lagi selepas subuh, Raya membawaku setengah terburu-buru ke sebuah bukit tempat semburat kuning muda menyembul perlahan dari timur.

“Liat, Nay…our last sun.”

Lagi-lagi aku ikut bergumam lirih, “Iya, Ray…Our last sun…”

Lalu tahu-tahu lima jari Raya sudah menaut di sela lima jari kiriku. Begitu aku menoleh, ia tersenyum meski pahit. “Terakhir kali aja."

Memang sepertinya benar kata orang dahulu, bahwa ketika kau menikmati waktu, maka ia akan cepat meninggalkanmu. Hari ini terasa berputar lebih cepat dari biasanya. Tahu-tahu sudah hampir senja. Kami seharian tadi menyusur tempat yang sering kami singgahi, termasuk sekolah dasar tempat kami pertama saling mengenal. Lama bukan? Tentu saja. Aku dan Raya sudah saling tahu sejak ikatan rambutku masih diikat setinggi air mancur bak Cindy Cenora dan Raya masih dengan bangganya menirukan gerakan Bondan Prakoso bernyanyi ‘Si Lumba-lumba’. Selama itu pula kami sudah sama-sama menyadari bahwa Tuhan tak akan bisa mempersatukan seorang Raya dan Naya.

“Nay…” suara Raya membuyarkan lamunanku.

“Eh—iya kenapa?”

“Nih minum kamu.” Sebuah kaleng minuman Go Go rasa jeruk berpindah tangan. Aku mengambilnya malas-malasan, sementara Raya mulai membuka kaleng minumannya. Kami kini duduk bersampingan di atas sebuah tikar yang sengaja kami bawa di bagasi untuk digelar seperti ini. Mata Raya menatap lurus ke depan, ke arah lembayung di Barat yang sebentar lagi menghilang ditelan gelap. Hanya dalam hitungan menit, jam kerja matahari akan segera berganti. Disesap pelan Fanta strawberry kalengan di tangannya.

“Sejak kapan sih kita begini, Nay?”

Oh, No…pembicaraan yang berpotensi memicu asma jiwa dan radang hati.

“Nggak tau, Ray.”

Why us? Why you? Why me?

Dunno neither.” Kutekuk dan kupeluk kedua kakiku sendiri, menghalau angin sore laut yang mengencang. Sebenarnya, ini usaha menghalau gerimis yang mungkin tiba-tiba akan datang. Tidak dari langit, tapi dari mataku menggelinding ke pipi.

“Udah sering ya kita bahas ini?”

“Akhir-akhir ini iya, Ray. Sejak kita sadar, ada yang janggal dari kita.”

“Sebenernya nggak perlu jadi janggal kalo kamu mau besok dan seterusnya matahari itu tetep jadi matahari kita.” Raya menunjuk senja di depan kami dengan dagunya, lalu menoleh tepat ke arahku. Aku membuang muka dan memilih mengamati kuku kaki saja.

“Nggak bisa, Ray. Kamu tau, itu nggak mungkin.”

“Kecuali mau dicoba, Kanaya Ramadhani.” Raya menyebut namaku dengan lengkap, seolah menekankan bahwa apa yang diucapkannya barusan bukan main-main.

“Buat apa bikin cerita kalau ujungnya sad ending?”

“Yang penting kan prosesnya.”

“Tapi kalau udah tau hasilnya dari awal, aku milih mundur teratur. Nggak ada yang mesti terluka lebih dalam nantinya.”

“…”

“Inget pepatah pertama yang pernah kita hafal di SD dulu? ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’ “

 

Raya meraih tanganku dan mengangkat kaleng Fanta nya. Rupanya dia mengajak toast kaleng Fanta-nya dengan Go Go-ku.

“Cheers! Semoga kamu bahagia, Naya.”

“Semoga kamu juga bahagia, Raya.”

Dua kaleng beradu, lalu minuman di dalamnya mengalir ke perut masing-masing. Dengan ini, tak ada lagi ‘kita’ antara aku dan Raya. Yang tersisa hanya sekotak besar kenangan yang sudah kami bungkus rapi dan diisolasi, siap disimpan untuk dikremasi.

"Besok rencana kemana, Nay?”

“Ada tahlilan buat Pakle’ Pur di rumah Bude’ Dian di Depok. Kamu?”

“Biasa, ke gereja.”

 

aku untuk kamu, kamu untuk aku

namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda

Tuhan memang satu, kita yang tak sama

haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi

 

--Peri Cintaku, Marcell--

Sumber gambar : dari sini

  • view 217