Bara

Nisa Risti Mustikasari
Karya Nisa Risti Mustikasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Bara

 

Aku tidak ingat bagaimana caranya aku sudah ada di sini, di sebuah restoran kesukaanku dan Karinta, di daerah atas Kota Kembang, Bandung. Saking seringnya datang ke sini aku dan Ririn—panggilan Karinta—sudah mengenal semua pelayan di sini. Pun dengan pemiliknya, Om Sandro.

Aku duduk di kursi favoritku, dekat jendela yang menghadap ke taman belakang dengan atap yang tertutup kaca bening. Dari sini langit bisa terlihat jelas, dan saat cuaca cerah seperti ini, menonton bintang bisa dilakukan dengan cuma-cuma, hanya perlu menengadahkan kepala.

Hari Jumat adalah hari yang selalu aku nantikan, karena hari itulah aku selalu menginggalkan hiruk-pikuk ibukota dan kembali ke kota kembang tercinta, bertemu orang-orang terkasih. Malam ini, aku dan Ririn sepakat untuk bertemu di sini. Andai dia sudah tiba, pasti ini akan terasa lebih sempurna. Rencananya, Jumat ini akan menjadi Jumat yang sedikit berbeda. Ada sesuatu yang kusiapkan untuk Ririn. Tanganku merogoh saku jaket kiri, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua. Begitu dibuka, sebuah cincin emas putih bermata satu bertengger cantik di dalamnya.

Ingatanku mendadak melayang ke tiga tahun lalu, saat kami pertama kali bertemu.

Hari itu aku yang sedang tak ada kerjaan di akhir pekan memilih untuk mendatangi toko buku di sebuah mall sendirian. Kala itu aku sudah lama tidak menyentuh buku. Kesibukan menyeretku pada ritme hidup yang sesunggahnya tak kusuka. Maka saat kesempatan itu tiba, aku tak menyia-nyiakannya. Aku sengaja pergi sendiri, tak mengajak siapa-siapa, menikmati me time diantara tumpukan buku beraroma kertas baru.

Hmmm,, wangiii…

Lalu saat sedang menyusuri rak-rak rapi novel terjemahan, mataku tersangkut pada sebuah buku berjudul ‘Stargaze’. Aku tak tahu siapa penulisnya, hanya saja cover buku itu menarik. Warnanya bagus, dengan visualisasi seorang gadis kecil menatap langit keunguan bertabur bintang. Kesannya indah, tapi sekaligus terasa hampa. Hey, siapa bilang ‘don’t judge a book by its cover?’ itu hanya pepatah. Kenyataannya, people DO judge a book by its cover, baik eksplisit, atau implisit.

 

Merasa ingin membaca bagian belakang buku itu, tanganku menjulur ingin mengambilnya dari rak. Saat itulah takdir membawa perempuan itu ke hadapanku. Tangan kami mendarat di saat yang sama di buku yang sama, tapi lalu keduanya juga menarik tangan masing-masing dengan tergesa, bersama-sama.

“Eh, maaf.. Silakan, duluan.” Perempuan itu yang pertama kali bicara.

“Eh, nggak-papa. Silakan mbak duluan aja.”

“Serius loh, duluan aja. Tadi mas-nya duluan yang mau ngambil.”

“Beneran nggak papa kok, mbak duluan aja.”

“Ya udah deh. Thanks ya!” Lalu perempuan itu mengambil buku ‘Stargaze’ dari rak di hadapan kami, tersenyum sekilas ke arahku dan berlalu. Ada sesuatu yang memancar dari matanya, seperti menembus mataku dan merosot ke rongga dada di sebelah kiri. Tiba-tiba darah memompa lebih cepat di sana.

Hari itu, pencarianku berubah arah, tak lagi mencari buku tapi mencari tahu nama perempuan tadi, sekaligus nomor teleponnya, atau nomor sepatunya, atau nomor celananya, atau nomor be—ah sudahlah, berhenti ngawur!

Saat aku melihat dia sedang asik membaca sambil duduk lesehan di salah satu pojokan yang memang diperuntukkan bagi pembaca, aku mulai acara akting. Seolah-olah memang aku akan membaca juga dan tak sengaja bertemu dia lagi.

“Eh, mbak yang tadi. Ketemu lagi kita…”

Perempuan itu tersenyum lebar, “Eh, iya..” Dia lalu membaca buku di tangannya lagi, sebuah novel berbahasa asing. Sementara itu aku duduk di sampingnya, tanpa bisa benar-benar berkonsentrasi.

Sebuah suara nada dering terdenyar. Rupanya handphone perempuan itu berbunyi. Ia mberanjak berdiri dan mengangkat ponselnya itu menjauh dari tempat duduk kami.

Aku harus dapat nomor telfonnya! Tapi bagaimana caranya? Bahkan sekarang dia menghilang.    

Aku mencari sosoknya pelan-pelan, berusaha tak terlihat terlalu mencurigakan. Tak sampai lima menit sosoknya tertangkap pandangan mata. Dia sedang berdiri di depan kasir. Ada dua orang yang mengantri di belakangnya. Jika diestimasikan, waktuku untuk mengetahui nama dan nomor teleponnya hanya kurang dari lima menit. Maka aku bergegas ikut mengantri tanpa peduli buku apa yang kubeli. Satu-satunya buku yang ada di tanganku adalah novel ‘Stargaze’ tadi.

Dia selesai dengan buku-bukunya dan beranjak pergi dari kasir tanpa melihatku. Lima belas langkah lagi dia akan tiba di bibir toko buku dan pergi. Artinya kesempatanku tinggal lima belas langkah lagi, sementara dua orang yang mengantri kasir di depanku mengeluarkan buku-buku di kantong belanjaannya seperti siput sedang mabuk laut. Lamban bukan main!

Mataku tetap mengekor ke arah perempuan itu. Dia  merogoh tas selempangnya, seperti kerepotan dengan plastik di tangannya. Saat aku bingung bagaimana terlihat natural menghampiri dia, pertolongan Tuhan datang. Uang yang dia selipkan di saku celana jeansnya sembari berjalan keluar, jatuh tanpa dia sadari. Tak pakai pikir panjang, aku keluar dari antrian kasir dan menyimpan novel di tanganku sembarangan. Kuambil uang sepuluhribuan dan beberapa lembar seribuan itu dari lantai, lalu berjalan cepat berusaha menjajari perempuan tadi.

“Hey, mbak! Uangnya jatoh.” Aku menepuk pundaknya. Dia menoleh dan berhenti berjalan. Melihat wajahku dia tersenyum, “Oh, ya ampun. Makasih ya, Mas—mmm siapa?”

Ah yes! Bahkan ujung-ujungnya bukan aku yang mengajaknya berkenalan!

“Bara. Nggak pake Mas.” Aku menjulurkan tangan.

Dia memindahkan plastik belanjaan bukunya ke tangan kiri, lalu menyambut uluran tanganku. “Karinta. Panggil aja Ririn, nggak pake Mbak.”

Kami tertawa.

>> 

Sebuah panggilan halus menyadarkanku dari lamunan itu.

“Bara…” suara berat berwibawa terdnegar lagi. Ternyata Om Sandro sudah duduk di depanku, hanya terhalang meja.

“Eh, Om Sandro. Apa kabar Om?”

“Baik, Bara. Kamu yang apa kabar? Udah lama nggak kesini ya? Sibuk, Bar, di Jakarta?”

“Lumayan, Om.” Aku nyengir lebar.

“Nggak sama Ririn?”

“Ini saya lagi nungguin dia, Om.”

“Selarut ini?” Om Sandro melirik jam yang ,elingkar di pergelangan kirinya, “hampir jam dua belas loh ini.”

“Hah? Jam dua belas? Perasaan tadi baru jam tujuh Om.”

Om Sandro mengangkat bahu, “Kita udah mau tutup loh, Bar.” Yang dimaksud adalah restoran miliknya ini. Aku memandang sekeliling. Ternyata benar sudah sepi. Hanya ada satu-dua pelayan sedang mengelap meja-meja.

“Mobil kamu dimana?” Om Sandro bertanya.

“Nggak tau, Om.”

Aku memang tak ingat dimana mobilku, bagaimana aku bisa sampai ke sini. Aneh, seperti ada yang hilang dari memoriku, kecuali tentang Karinta.

“Mau bareng? Om antar pulang.”

“Boleh, Om. Maaf ngerepotin.”

“Kayak ke siapa aja kamu, Bar! Yuk!” Aku dan Om Sandro beranjak menuju pelataran parkir.

Sepanjang perjalanan pulang, Om Sandro beberapa kali bertanya tanpa bisa kujawab.

“Ke Bandung pake travel kali kamu, Bar.”

“Mungkin, Om.”

“Kejedot dimana sih kok bisa nggak inget gitu?”

“Nggak tau juga, Om.”

“Tapi ke resto pake apa ya? Pake taksi gitu?” Om Sandro mengerutkan kening. Memang tak ada angkutan umum yang melintas ke restoran itu. Hanya bisa dijangkau kendaraan pribadi.

“Saya nggak inget, Om. Yang jelas harusnya malam ini saya janjian sama Ririn di resto Om.”

“Kenapa Ririn nggak dateng?”

“Nggak tau, Om.”

“Nggak kamu telfon? SMS? Atau whatsapp, LINE, gitu?”

Aku baru merasa bodoh. Iya juga ya? Aku merogoh balckberru dalam tasku, tapi lalu memasukkannya lagi, “Biarin deh, Om. Besok aja.”

Om Sandro mengangguk. Kendaraannya membawa kami menembus kota Bandung yang mulai lengang di tengah malam. Kami larut dalam diam. Hanya suara lagu dari CD player mengisi telinga. Om Sandro ini sudah seperti keluargaku sendiri. Sudah lebih dari lima tahun aku mengenalnya. Rumahnya lebih jauh ke arah tenggara dibandingkan rumahku dan Ririn. Terkadang pulang bersama seperti ini tak jadi masalah untuk Om Sandro. Toh kami searah.

Tiba-tiba aku merasa sangat ingin bertemu Ririn.

“Om, anternya ke rumah Ririn aja deh!”

“Loh, ngapain?”

“Nggak papa. Pengen aja.”

“Nanti dari sana pulang pake apa kamu, Bar?”

“Gampang lah Om. Bisa pake taksi, ojek, gojek, uber atau jalan kaki juga nggak bakal sampe sejam. Gampang kok, jangan kuatir. Saya kan laki-laki.”

Om Sandro mengangguk-angguk.

Sesampainya di depan rumah Ririn, aku melompat dari mobil Om Sandro, setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.

“Thanks ya, Om!”

“No problem. Eh, Bar, kamu yakin, nggak lagi sakit?”

Aku menggeleng.

“Ya sudah. Hati-hati.” Lalu Terrano silver itu melaju, berbelok di ujung jalan dan tak terlihat lagi.

Aku menatap rumah Ririn yang tampak sepi. Kuambil handphone dari tas dan menelepon handphone Ririn. Tak tersambung. Kutelepon rumahnya, tak ada nada sambung. Kukirim pesan singkat, tak terkirim. Whatsapp dan LINE pun tak terkirim

Kenapa sih ini provider telfon?! Lagi butuh gini malah error! Rin, udah tidur ya?

Aku merogoh lagi kotak beludru di saku jaketku.

Coba kamu tadi dateng, pasti cincin ini udah ada di jari kamu, Rin.

Setengah jam kemudian kuputuskan untuk pulang saja. Jarak rumahku dan Ririn yang tak terpaut jauh, membuatku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Lagipula sejak tadi tak ada angkutan umum yang melintas. Pun tak ada taksi atau ojek. Sepertinya memang alam berkonspirasi supaya aku berjalan kaki.

Sambil menendang-nendang sebuah kaleng softdrink kosong, aku berjalan, membayangkan bagaimana reaksi Ririn besok saat aku menunjukkan cincin itu.

Pasti mangap tuh anak!

Aku terkekeh sendiri.

Namun lalu tawaku terhenti seketika saat dari ujung jalan ke arah rumahku, tampak halaman rumahku ramai oleh orang-orang. Beberapa sanak saudara tampak duduk di teras, sambil menekuk muka. Sebuah ambulance terparkir di depan rumah. Aku tiba-tiba teringat Papa. Akhir-akhir ini kesehatannya memang memburuk. Beberapa kali darah tingginya kumat. Terakhir aku mendapat kabar hari Rabu lalu papa check up rutin ke rumah sakit.

Tuhan, jangan sampai papa kenapa-kenapa...

Setengah berlari aku menghampiri rumah, tanpa peduli orang-orang di sekitar. Aku masuk ke ruang tamu dan mendapati ruangan itu terisi penuh orang yang melingkar membaca ayat suci, sementara di tengah-tengah terbaring seseorang berbalut kain batik, terbungkus rapi. Mama menangis di pojok ruangan bersama Ririn yang tak melepaskan pelukannya barang sedetikpun pada Mama. Lutut kakiku melemas, dan ambruk saat itu juga.

Kenapa tak ada yang mengabariku?

Papa…

Aku merangkak mendekati wajah dari tubuh yang terbujur kaku di tengah ruangan. Kubuka penutup wajahnya, berniat mencium papa untuk terakhir kali, namun urung. Tubuhku menjauh seketika dan terjatuh tak jauh dari sana. Aku kembali merangkak mendekat ke jasad tak bernyawa itu, dan kembali menjauh tak sanggup melihat wajahnya.

Sejurus kemudian Papa muncul dari balik ruang tengah, menghampiri Mama dan Ririn di pojok ruangan, “Sabar, sayang…kita ikhlaskan Bara...ikhlaskan Bara...” dari matanya, mengalir air yang juga entah kapan akan mengering.

Mataku tak bisa berhenti berhujan. Kini nafasku tersengal tak terkendali, lalu berhenti.

Headline Pikiran Rakyat (29/2). 

Sebuah kecelakaan terjadi semalam, di sebuah ruas jalan tol Cipularang. Sebuah CRV hitam menghantam truk yang mengerem mendadak di depannya, lalu melompat melewati pembatas jalan dan berguling terseret ratusan meter di jalur berlawanan. Pengemudi kehilangan banyak darah dan tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. 

==========================================================

 

Sumber gambar : https://genesissecuritygroup.wordpress.com/tag/walking-alone/

  • view 197