Kesempatan Kedua

Nisa Risti Mustikasari
Karya Nisa Risti Mustikasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
Kesempatan Kedua

Namanya Alisa, berusia dua puluh sembilan, sedang berada dalam sebuah kereta menuju bandara Frankfurt. Perempuan itu melemparkan pandangannya ke luar jendela. Di luar salju begitu lincah berterbangan ditiup angin, menabrak-nabrak sekujur badan kereta. Pohon-pohon yang telah kehilangan daun-daunnya di luar sana tampak hanya sebagai kelebatan. Semua di pandangan mata Alisa kali ini tertangkap buram. Entah karena kecepatan kereta yang ditumpanginya, atau karena isi hatinya yang tak jauh berbeda : kalut berkabut, seremang langit sore ini.

“Jangan bengong.” sebuah suara dan tepukan lembut di punggung tangan Alisa membuyarkan lamunannya.

Ia menoleh ke sumber suara itu berasal. Raka, lelaki di sampingnya, tersenyum kecil ketika pandangan mereka beradu. Alisa  membalas dengan senyum meski lalu kembali memalingkan wajahnya ke arah luar jendela kereta. Ia tak ingin suaminya itu menangkap kecamuk di pikirannya saat ini. Ia bukan sedang sedih karena sesaat lagi Raka akan berangkat ke Amerika untuk menghadiri sebuah konferensi, tapi pikirannya sesak akibat pembicaraan terakhir dengan Ibu—Sang mama mertua—sehari yang lalu.

Bermula dari sebuah panggilan video call skype di laptop Raka kemarin sore. Saat itu Raka sedang tidur sementara Alisa melihat panggilan video call dari Ibu dan menjawabnya. Pembicaraan mereka awalnya normal dan hangat. Mereka saling bertanya kabar dan bertukar cerita ringan. Namun perasaan tak nyaman mulai muncul ketika Ibu bertanya,

"Gimana, nduk.. sudah isi  lagi?"

Raut muka Alisa seketika berubah. Meskipun ia berusaha mati-matian menjaga sikap, tapi suara Alisa yang tercekat menunjukkan ada sisi hatinya yang terluka.

"Terakhir cek bulan lalu. Belum, Bu…"

Lalu berhamburanlah petuah panjang dari Ibu tentang banyak hal. Tentang apa yang harusnya dilakukan dan tidak, apa yang sebaiknya dimakan dan tidak—tentang hal-hal yang sebenarnya sudah kenyang Alisa dengar dari mana-mana.

Setelah mengakhiri video call itu, Alisa menghambur ke toilet, terburu menguji urin nya dengan sebuah testpack. Namun belum sampai hasilnya muncul, testpack itu dilemparkannya jauh-jauh. Ia menangis penuh emosi, merasa lelah dengan rutinitas menunggu hasil testpack yang selama ini tak kunjung menggembirakan.

Alisa dan Raka adalah sepasang suami istri yang tinggal di Jerman sejak keduanya masih lajang. Selepas menikah, mereka melanjutkan hidup di sana. Raka meneruskan pendidikan pascasarjana, sementara Alisa memutuskan untuk bekerja. Di tahun pertama pernikahan mereka—tiga tahun yang lalu—Alisa sempat dinyatakan hamil tapi mengalami keguguran di minggu ke-13 usia kandungannya. Sejak saat itu belum  sekali pun rahimnya terisi kembali dengan calon buah hati.

“Kamu kenapa?" Lagi-lagi suara Raka memecah lamunan Alisa, mengembalikan kesadarannya ke saat ini.

Alisa menjawab dengan gelengan kepala.

“Jangan sedih. Aku cuma pergi dua minggu.” Raka meraih jari-jari Alisa dan menggenggamnya erat.

Tanpa Raka sadari, genggaman itu membuat benteng pertahanan bendungan di hati istrinya justru semakin merapuh, menunggu rubuh.

Sementara itu suara operator mengumumkan bahwa kereta akan segera tiba di stasiun bandara, tujuan mereka. Tepat dua menit kemudian kereta benar-benar berhenti dengan pintu yang terbuka. Mereka berdua turun bergegas menuju lounge bandara. Sambil duduk menunggu Raka selesai check-in, Alisa terdiam. Benaknya menerawang lagi.

Maafin aku ya, Mas…

Masih belum bisa ngasih kamu anak… Masih ngecewain Ibu.

Kali ini Alisa tidak kuat lagi menahan debur sesak yang sejak kemarin memenuhi rongga dadanya. Begitu kelopak matanya menutup, seketika pula linangan air mata membelah kedua pipinya. Alisa menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya, menangis terisak.  

Tak sampai sepuluh detik kemudian Alisa merasa jari-jarinya ditarik turun perlahan, menjauh dari wajahnya yang kini basah hampir seluruhnya.

“Sabar ya, sayang...” Itu kalimat pertama Raka ketika beradu tatap dengan mata sembab Alisa.

“Sa-bar a-pa?” Alisa tergagap, sibuk mencari-cari tissue dari dalam tasnya.

“Aku tahu kemarin kamu skype-an sama Ibu.”

“…”                                         

“Aku dengar semuanya." Raka mendekap dan mengusap kepala Alisa penuh sayang, lalu melanjutkan, "Aku yakin Ibu gak ada maksud menyakiti kamu.”

Air mata Alisa kembali berderai deras, “Aku juga ingin punya anak, Mas. Ingiiiin sekali. Kita udah usaha ini-itu, tapi sampai sekarang kita belum dapat kesempatan kedua. Aku mesti gimana, Mas?!”

Please, be tough!" Raka memeluk Alisa lebih erat. Lalu ada hening panjang antara keduanya. Sebetulnya Alisa berharap Raka bisa menenangkannya lebih dari ini, tapi ia mengerti suaminya memang bukan lelaki yang banyak bicara.

"Aku harus segera boarding, sebentar lagi gate dibuka. Ayo, temani.” Raka menyeka pipi basah Alisa dan menggandengnya berjalan. Alisa menurut, diantarnya Raka sampai ke gerbang imigrasi tempat mereka benar-benar harus berpisah.

“Aku berangkat ya… Kamu jaga diri!”

“Baik-baik ya kamu di sana! Jangan lupa kabari aku.”

“Pasti.”

“Hati-hati.” Mereka bertukar kecup sekilas lalu Raka segera berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

 ===

Alisa menarik nafas dalam-dalam sambil berjalan ke stasiun kereta bawah tanah. Tak lama kemudian kereta yang ditunggunya datang. Alisa memilih duduk di gerbong yang relatif sepi. Di luar, salju sudah berhenti berterbangan, tapi jejak tebalnya terekam jelas di sepanjang jalan. Persis seperti gejolak hati Alisa, yang pelan-pelan berhenti berbadai, tapi masih menyisakan jejak sendu di sana-sini.                                                                                        

Ponsel Alisa bergetar. Ia merogoh saku kanan coatnya. Ada satu email baru masuk, dari Raka. Dibukanya pesan elektronik itu. 

 

Alisa,

Bagiku menikah denganmu bukan sekedar urusan memperpanjang garis keturunan.

Kamu bukan mesin pencetak anak-anak. Kita tidak sedang berternak.                                      

Hidup ini terlalu singkat untuk meratapi apa yang belum kita miliki. Terkadang kita melupakan hal-hal yang sudah Tuhan berikan saat terlalu menginginkan sesuatu yang belum kita dapatkan. Kita buta oleh ambisi.

Istriku,

Anak adalah hak Tuhan. Dia Mahatau kapan kita layak diberi kepercayaan dan seberapa lama kita harus menunggu. Dia yang paling mengerti kapan waktu yang tepat untuk segala sesuatu. Dia pembuat skenario yang paling sempurna sejagat raya.

Maka percayakanlah semua padaNya. Mari berselancar di atas ombak harapan kita sambil menikmati segala pasang-surutnya. Kamu harus ingat, kamu tidak sendiri. Selalu ada aku meski kita harus tenggelam di palung tersunyi.

Tolong, jangan bersedih lagi.

Menikahimu adalah jalan bagiku untuk mencapai kebahagiaan hakiki, tak hanya di bumi, tapi sampai ke kehidupan setelahnya nanti. Aku ingin bersamamu lebih lama dari hidupku di dunia. Aku ingin membahagiakanmu tanpa terbatas usia. Aku ingin bersamamu sehidup sesurga.

 

Love,

Raka.

 

Email Raka berhasil mengukir senyum di wajah Alisa. Bebannya di dadanya terangkat, hatinya mendadak lapang.

Terima kasih, Mas. Aku juga ingin bersamamu sehidup sesurga.

======================================================

Tanpa Raka dan Alisa sadari, di pojok ruang kamar mandi di rumah mereka sendiri, sebuah testpack menunjukkan dua garis nyata.