Luka

Hayatun Nisa Fahmiyati
Karya Hayatun Nisa Fahmiyati Kategori Filsafat
dipublikasikan 03 Februari 2016
Thinker

Thinker


Kategori Acak

95 Hak Cipta Terlindungi
Luka

The making of fact, mungkin itu yang bisa dikatakan setelah menonton sebuah film berjudul Senyap (The Look of Silance), menyaksikan luka-luka sejarah diputar kembali. Film ini menyulut amarah dan rasa berdosa atas pembantaian kejam yang terjadi pada tahun 1965 dan tahun-tahun setelahnya. Walau, kadang kala di film ini saya juga dibuat tertawa terhadap sesuatu yang banal. Ada orang-orang yang merasa tak apa membunuh, saya tentu tak habis pikir.

Tidak ada yang bisa mengonfirmasi berapa jumlah manusia yang terbantai pada kurun waktu 10 tahun sesudahnya, satu hal yang jelas tak terbantahkan bahwa yang menjadi korban tidak semata-mata mereka yang dibunuh, tetapi juga keluarga mereka dalam bilangan generasi. Konon, hingga hari ini stigma penghianat negara, pelaku kudeta, dan tak beragama, terus dihidupkan.

Sering kita mendengar ada pernyataan mengingatkan bahaya komunisme, bahaya Partai Komunias Indonesia (PKI). Apakah masih ada komuniasme yang berjaya? Apakah masih ada PKI? Apakah ideologi komunisme masih belum pailit?Stigma ini membunuh harapan dan masa depan jutaan anak-anak yang sama sekali tak tahu menahu apa yang terjadi tahun 1965, tak terlibat, dan tak berdosa. Di rumah-rumah, para orangtua, istri, suami, saudara, serta anak dan cucu ikut menjadi korban tanpa tahu kejahatan yang mereka lakukan. Di jidat mereka terpampang stempel: tidak bersih lingkungan.

Mereka tak punya hak untuk menjadi pegawai negeri, tentara, polisi, mahasiswa di perguruan tinggi, dan tragisnya! di perusahaan swasta juga. Untuk bisa diterima jadi pegawai, mereka mesti punya surat bersih lingkungan dan mereka tidak tahu apa itu bersih lingkungan. Meski mereka bukan kriminal, mereka tetap dianggap sebagai kriminal.

Kebanyakan mereka tahu apa yang terjadi terhadap keluarga mereka. Mereka tahu siapa yang menyiksa, membunuh, dan membuang mayat orang-orang malang itu ke sungai atau ke laut. Mereka tidak berani bersuara. Mereka tidak berani berkat-kata. Mereka tidak berani menuntut. Mereka takut! Selama 32 tahun mereka menyembunyikan wajah mereka di balik tembok. Baru setelah reformasi tahun 1998, mereka bersuara, menuntut kebenaran dan keadilan. Mereka meminta negara bertanggung jawab, menuntut agar hak asasi mereka dipulihkan.

Media juga harus mulai berani mangungkap kejahatan hak asasi manusia masa lalu, dan dalam konteks ini tuntutan akan perlunya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi digaungkan. Kita perlu mengungkapkan kebenaran, menyatakan maaf, dan kemudian melakukan healing atau penyembuhan.

Film Seyap adalah kumpulan dari potongan-potongan cerita kegigihan Adi Rukun dalam mencari kebenaran. Adi Rukun yang kakaknya dibunuh karena seoarang PKI. Di situlah kita menyaksikan percakapan filsafat tanpa menyebut kata filsafat. Di situlah kita mendengar tuntutan akan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi tanpa merujuk pada keberhasilan lembaga serupa di Afrika Selatan.

Adi Rukun juga membayangkan betapa pembunuh dan korban berpeluk di Rwanda. Mereka merajut kembali masa depan, menyembuhkan luka-luka kemanusiaan dalam keikhlasan untuk saling menerima.Buat saya, Senyap adalah film yang menggetarkan jiwa kemanusiaan, membuat kita sedih dan marah, mengajarkan kita bahwa pencarian terhadap kebenaran adalah kerja tanpa ujung. Tak boleh ada yang menyerah. Joshua Oppenheimer dan Anonym, sutradara film ini telah berhasil membuat film ini menjadi dokumentasi sejarah pelanggaran hak asasi manusia yang membuat bangsa ini terus-menerus berutang. Ceritanya yang runut, secara pelan menyulut rasa bersalah kita dan memperlihatkan luka lama yang tak kunjung sembuh.

  • view 94